Aqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 2)

Aqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Aqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 1)

Pokok kedua: Dalam masalah nama dan sifat Allah Ta’ala

Dalam masalah ini, aqidah ahlus sunnah bersifat pertengahan di antara kelompok mu’athilah (kelompok yang menolak nama dan sifat Allah Ta’ala) di satu sisi, dan kelompok mumatsilah atau musyabbihah (kelompok yang menetapkan sifat Allah Ta’ala namun kemudian diserupakan dengan sifat makhluk), di sisi yang lain.

Kelompok mu’athilah ini ada berbagai jenisnya. Yang paling parah adalah kelompok Jahmiyyah, yang menolak seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala. Sehingga menurut Jahmiyyah, Allah Ta’ala adalah semata-mata Dzat, tanpa nama dan tanpa sifat. Kemudian disusul dengan kelompok Mu’tazilah, mereka menetapkan nama untuk Allah Ta’ala, namun mereka menolak semua sifat Allah Ta’ala. Jadilah mereka menetapkan nama yang kosong dari makna (sifat) untuk Allah Ta’ala. Allah Ta’ala memiliki nama As-Samii’, namun tidak memiliki sifat as-sam’u (mendengar), misalnya. Inilah aqidah mu’tazilah.

Baca Juga: Inilah Ritual Sesat Menghadapi Ujian Akhir Nasional

Termasuk dalam kelompok mu’athilah ini adalah Asya’irah (Asy’ariyyah) dan Al-Maturidiyyah, yaitu mereka yang menolak mayoritas sifat-sifat Allah Ta’ala, dan hanya menetapkan sebagian sifat saja. Akan tetapi sayangnya, mereka menetapkan sebagian sifat (yaitu, tujuh sifat saja) untuk Allah Ta’ala tersebut bukan berdasarkan dalil wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun berdasarkan tuntutan akal mereka yang lemah dan terbatas [1]. Karena prinsip aqidah mereka adalah lebih mendahulukan akal logika, dibandingkan dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka timbang dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut akal logika mereka. Jika dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah itu sesuai dengan logika akal mereka, mereka pun menerimanya. Sebaliknya, jika dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah itu tidak sesuai (bertentangan) dengan logika akal mereka, mereka pun menolaknya atau mereka simpangkan maknanya (mentakwil) sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka. Lalu mereka klaim bahwa takwil yang mereka lakukan itu adalah dalam rangka mensucikan sifat Allah Ta’ala (tanzih) dari penyerupaan terhadap sifat makluk.

Dengan pokok aqidah mereka tersebut, Asy’ariyyah pun menolak sifat al-‘uluw dan istiwa’ [2], sifat tangan (yadain), sifat cinta (mahabbah), dan seterusnya. Ini semua karena prinsip mereka tersebut yang menjadikan akal logika sebagai dasar utama, sedangkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah itu diletakkan sebagai sesuatu yang mengikuti jalan dan alur berpikir logika akal mereka. Sampai-sampai tokoh mereka mengatakan,

وكل نص أوهم التشبيها … أوله أو فوض ورم تنزيها

“Setiap dalil yang menimbulkan prasangka adanya tasybih (penyerupaan dengan sifat makhluk), maka takwil-lah dalil tersebut atau tafwidh-kan (kosongkan maknanya), dan maksudkanlah dengan perbuatan tersebut untuk melakukan tanzih (mensucikan Allah dari penyerupaan terhadap makhluk).”

Baca Juga: Tidak Boleh Meyakini Kafirnya Orang Yahudi dan Nashrani?

Di kutub ekstrim yang kedua, adalah kelompok mumatsilah (musyabbihah), yaitu mereka yang menetapkan sifat-sifat untuk Allah Ta’ala, namun kemudian disamakan (diserupakan) dengan sifat makhluk. Seperti ucapan mereka, “Tangan Allah adalah sebagaimana tanganku”; atau “Pendengaran Allah adalah sebagaimana pendengaranku”; dan seterusnya. Maha suci Allah Ta’ala dari ucapan dan perkataan keji semacam itu.

Sehingga jadilah aqidah ahlus sunnah sebagai aqidah pertengahan di antara kedua kelompok ekstrim tersebut. Yaitu, ahlus sunnah beriman terhadap semua nama dan sifat Allah Ta’ala yang terdapat dalam dalil-dalil syar’i (Al-Kitab dan As-Sunnah). Ahlus sunnah menetapkan sifat untuk Allah Ta’ala sesuai dengan sifat yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diri-Nya sendiri, atau sesuai dengan sifat yang telah ditetapkan oleh manusia yang paling mengenal Allah Ta’ala, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam masalah sifat Allah Ta’ala, ahlus sunnah menetapkan sifat Allah Ta’ala tanpa melakukan ta’thil dan takwil, serta tanpa takyif dan tasybih [3]. Ahlus sunnah beriman terhadap sifat Allah Ta’ala secara hakiki, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah Ta’ala, tidak serupa dengan sifat makhluk. Hal ini dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan Allah. Dan Dia adalah Yang Maha mendengar dan Maha melihat.” (QS. Asy-Syuura [42]: 11)

Dalam ayat di atas, setelah Allah Ta’ala meniadakan adanya keserupaan makhluk, lalu Allah Ta’ala tetapkan untuk diri-Nya dua sifat, yaitu sifat as-sam’u (Maha mendengar) dan sifat al-bashar (Maha melihat). Sehingga hal ini menunjukkan bahwa sifat as-sam’u dan al-bashar yang Allah Ta’ala miliki tidaklah sama dengan sifat as-sam’u dan al-bashar yang dimiliki oleh mahluk.

Ahlus sunnah bersandar kepada dalil-dalil syar’i, dan lebih mendahulukan dalil syar’i tersebut daripada akal logika manusia. Karena akal logika hanyalah digunakan sebagai sarana untuk memahami dalil dan sebagai syarat dalam memahami berbagai ilmu, dan sebagai sarana untuk baik dan sempurnanya amal. Akan tetapi, akal logika tidaklah berdiri sendiri, apalagi dijadikan sebagai patokan untuk menimbang dalil-dalil syar’i. Oleh karena itu, ahlus sunnah tidaklah mendahulukan akal daripada wahyu, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Asy’ariyyah dan semacamnya. Dan sebaliknya, ahlus sunnah juga tidak menihilkan peran akal sama sekali, sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang sufi ekstrim, ketika mereka mempercayai berbagai hal yang bertentangan mutlak dengan akal sehat.

Baca Juga:

[Bersambung]

***

@Rumah Lendah, 27 Rajab 1440/3 April 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

Catatan kaki:

[1] Misalnya, mereka menetapkan tujuh sifat untuk Allah Ta’ala, namun mereka tetapkan berdasarkan akal, bukan berdasarkan dalil. Silakan disimak pembahasannya di sini:

https://muslim.or.id/38056-sifat-allah-apakah-hanya-tujuh-atau-dua-puluh-02.html

[2] Pembahasan tentang sifat al-‘uluw dan istiwa’ dapat dibaca di sini (total ada lima seri tulisan):

https://muslim.or.id/36047-ketika-mereka-menolak-sifat-uluw-dan-istiwa-01.html

[3] Pengertian ta’thil, takwil, takyif, dan tasybih dapat dibaca pembahasannya di sini:

https://muslim.or.id/24486-larangan-terhadap-sifat-sifat-allah.html

 

Referensi:

Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, hal. 16-17; karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin hafidzahullahu Ta’ala (cetakan Maktabah Makkah tahun 1425 H).

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »

Leave a Reply