Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 8)

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 8)

Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 7)

Sanggahan Ulama Ahlus Sunnah terhadap Aqidah Asy’ariyyah

Tidaklah muncul suatu aqidah (pemikiran) yang menyimpang, kecuali akan bangkitlah para ulama ahlus sunnah untuk membantah dan meluruskan aqidah yang menyimpang tersebut. Demikian pula dengan aqidah Asy’ariyyah yang berkaitan dengan kalam Allah dan Al-Qur’an. Kita jumpai pengingkaran para ulama ahlus sunnah terhadap aqidah Asy’ariyyah yang menyimpang tersebut.

Syaikhul Islam Al-Hafidz Abu ‘Ismail ‘Abdullah bin Muhammad Al-Anshari Al-Harawi rahimahullah (wafat tahun 481 H) berkata ketika mengingkari aqidah Asy’ariyyah yang menafikan huruf dan suara,

ثم قالوا: ليس له صوت و لا حروف

“Kemudian mereka (Asy’ariyyah) berkata bahwa Allah tidak (berbicara) dengan suara dan huruf.” (Dzammul Kalam wa Ahlihi, 5/136)

Al-Hafidz Abul Qasim Isma’il bin Muhammad At-Taimi Al-Ashbahani rahimahullah (wafat tahun 535 H) berkata ketika membantah Asy’ariyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan tidak dalam bentuk huruf dan suara,

دليل أهل السنة: قوله تعالى: (حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ)، والمسموع إنما هو الحرف والصوت، لأن المعنى لايسمع بل يفهم. يقال في اللغة : سمعت الكلام و فهمت المعنى، فلما قال: حتى يسمع: دل على أنه حرف و صوت

“Dalil ahlus sunnah adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “supaya dia sempat mendengar firman Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 6) “Sesuatu yang didengar” hanyalah berupa huruf dan suara. Karena jika sekedar “makna”, tidak dikatakan “didengar”, tetapi “dipahami”. Dalam bahasa (Arab) dikatakan, “Aku mendengar kalimat dan aku memahami maknanya.” Ketika mengatakan, “sampai dia sempat mendengar”, menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu adalah huruf dan suara.” (Al-Hujjah fii Bayaan Al-Mahajjah, 2/479)

Perkataan beliau ini membantah aqidah Asy’ariyyah yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu hanya maknanya saja yang berasal dari Allah Ta’ala, sedangkan lafadz Al-Qur’an yang kita baca berasal dari Jibril ‘alaihis salaam atau Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Abul Bayan Muhammad bin Mahfudz Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat tahun 551 H) berkata,

وأنتم إذا قيل لكم: ماالدليل على أن القرآن معنى في النفس؟ قلتم: قال الأخطل: إن الكلام لفي الفؤاد، إيش هذا الأخطل نصراني خبيث بنيتم مذهبكم على بيت شعر من قوله، وتركتم الكتاب و السنة

“Jika dikatakan kepada kalian, “Apa dalil bahwa Al-Qur’an itu hanyalah makna yang ada dalam jiwa (Allah)?” Kalian mengatakan, “Akhthal berkata, ‘Sesungguhnya ucapan itu yang ada di dalam hati.’” Tinggalkan Akhthal yang notabene orang Nashrani yang kotor itu. Kalian membangun aqidah kalian di atas bait syair dari ucapan Akhthal, lalu kalian tinggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Al-‘Uluww, hal. 260)

Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul Qadir Al-Jilani rahimahullah (wafat tahun 561 H) berkata,

وقد نص الإمام أحمد رحمه الله تعالى على إثبات الصوت في رواية جماعة من الأصحاب رضوان الله عليهم أجمعين، خلاف ماقالت الأشعرية من أن كلام الله تعالى معنى قائم بنفسه، والله حسيب كل مبتدع ضال مضل

“Imam Ahmad telah menegaskan tentang penetapan suara dari riwayat yang disampaikan oleh para sahabatnya (atau murid-muridnya, pen.) -semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semuanya-, bertentangan dengan ucapan Asy’ariyyah bahwa kalam Allah hanyalah makna yang ada dalam Dzat-Nya. Dan Allah Ta’ala akan menghisab setiap ahlul bid’ah yang sesat dan menyesatkan.” (Al-Ghunyah, 1/130-131)

Taqiyudin Abu Muhammad ‘Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisi Al-Hanbali rahimahullah (wafat tahun 600 H) berkata,

ونعتقد أن الحروف المكتوبة و الأصوات المسموعة: عين كلام الله عز و جل لا حكاية و لاعبارة … ومن أنكر أن يكون حروفا فقد كابر العيان و أتى بالبهتان

“Aku beriman bahwa huruf yang ditulis dan suara yang didengar itu adalah kalam Allah ‘Azza wa Jalla yang asli, bukan hikayat, dan bukan pula ibarat (dari kalam Allah). … Dan barangsiapa yang mengingkari bahwa kalam Allah itu berupa huruf dan suara, sungguh dia telah sombong dan membuat kedustaan.” (‘Aqaaid Aimmatis Salaf, hal. 98-104) [1]

Selain itu, telah kami sebutkan kutipan perkataan imam mereka sendiri di seri ke lima tulisan ini, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, yang menetapkan adanya huruf dan suara dalam kalam Allah Ta’ala.

Abul Hasan Al-Asy’ari juga tidak meyakini (menetapkan) “kalam nafsi”, sebagaimana yang diyakini oleh Asy’ariyyah. Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata ketika menyebutkan aqidah beliau tentang sifat kalam,

دليل آخر:و قد قال الله عز و جل: (وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا) و التكليم هو المشافهة بالكلام …

“Dalil yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa’ [4] : 164) Yang dimaksud dengan “taklim” (dalam ayat tersebut) adalah “musyaafahah bil kalaam” (berbicara, bercakap-cakap atau berdialog secara langsung, pen.).” (Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, hal. 318-319)

Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa beliau tidak meyakini kalam nafsi. Karena dalam bahasa Arab, “musyaafahah” itu adalah berdialog atau bercakap-cakap dari mulut ke mulut. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh ulama pakar bahasa Arab, Ibnul Mandzur rahimahullah dalam Lisaanul ‘Arab (13/507).

Hal ini menunjukkan bahwa Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah menetapkan bahwa Allah Ta’ala berdialog atau bercakap-cakap dengan Musa ‘alaihis salaam secara langsung. Maksudnya, Allah Ta’ala berkata kepada Musa dan Musa mendengar firman Allah tersebut ketika itu tanpa ada perantara apa pun. Ini menunjukkan bahwa firman Allah Ta’ala tersebut adalah dengan huruf dan suara yang didengar oleh Musa ‘alaihis salaam.

Hal ini, sekali lagi, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata antara ‘aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari (aqidah ahlus sunnah) dengan “aqidah Asy’ariyyah” (aqidah tokoh-tokoh yang mengaku mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari). Maka renungkanlah.

Sanggahan dan bantahan yang lebih detil terhadap aqidah Asy’ariyyah ini dapat disimak di tulisan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. dan kami mencukupkan diri dengan sanggahan yang sangat bagus tersebut [2].

Konsekuensi dari ‘Aqidah Asy’ariyyah: Jangan Pahami Al-Qur’an secara Tekstual

Aqidah Asy’ariyyah mengatakan bahwa lafadz Al-Qur’an yang kita baca ini berasal dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memahamkan (mengungkapkan) kalam nafsi Allah kepada umatnya. Inilah “celah” yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menyelewengkan makna Al-Qur’an. Menurut mereka, ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan kalam nafsi Allah dengan bahasa Muhammad sendiri (bahasa Arab), proses itu sangat dipengaruhi oleh zaman ketika itu, budaya Arab yang ada ketika itu, serta dipengaruhi juga oleh karakter dan adat kebiasaan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia biasa. Lihatlah betapa kejinya ‘aqidah semacam ini.

Oleh karena itu, jika kita membaca Al-Qur’an, jangan dipahami secara tekstual. Namun ambillah “makna” di balik lafadz tersebut. “Makna” itu adalah maksud asli dari Allah Ta’ala, menurut versi mereka. Jadilah (misalnya) homoseksual itu tidak haram, karena ini hanyalah tekstual Al-Qur’an. Yang haram (menurut mereka) adalah “cara berhubungan badan yang tidak aman”. Artinya, jika pelaku homoseksual itu berhubungan sesama jenis dengan cara atau metode yang aman dan tidak berisiko penyakit, maka boleh, tidak dilarang. Inilah “makna” di balik teks Al-Qur’an yang mereka klaim. Dan seperti inilah metode tafsir hermeneutika ala orang-orang penganut Islam Liberal, mengambil ide dari aqidah Asy’ariyyah bahwa Al-Qur’an itu “maknanya” berasal dari Allah (kalam nafsi), adapun lafadznya (yang kita baca) berasal dari lafadz Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penutup

Melalui serial tulisan ini, kami telah memaparkan “sejarah pemikiran” orang-orang atau kelompok yang menyimpang dari ‘aqidah ahlus sunnah tentang penetapan sifat kalam Allah dan tentang Al-Qur’an. Semoga penjelasan ini memotivasi kita untuk mempelajari aqidah shahihah, yaitu aqidah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dan mewaspadai setiap keyakinan atau pemikiran yang menyimpang dari jalan yang lurus.

[Selesai]

***

Diselesaikan ba’da maghrib, Rotterdam NL, 1 Sya’ban 1439/18 April 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Referensi:

[1]     Kutipan perkataan para ulama ahlus sunnah di atas adalah melalui perantaraan kitab: Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim, penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 513-524.

[2]    Silakan disimak tulisan beliau di sini (ada dua seri tulisan):

http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1153-al-qur-an-yang-kita-baca-adalah-makhluk-menurut-asyairoh-bagian-pertama

http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1154-al-qur-an-yang-kita-baca-adalah-makhluk-menurut-asyairoh-bagian-kedua

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khair

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 - sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »