Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Aqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 1)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
5 Mei 2019
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Aqidah ahlus sunnah adalah aqidah Islam yang shahih, yang dibangun berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana yang dipahami oleh generasi terbaik umat ini, yaitu generasi shahabat radhiyallahu Ta’ala ‘anhum. Aqidah ahlus sunnah dicirikan dengan sikap pertengahan (wasathun atau wasathiyyah). Yang dimaksud dengan wasathun (pertengahan) adalah aqidah moderat, adil, pilihan, dan aqidah terbaik (bukan asal moderat tapi sesat), di antara dua kutub ekstrim aqidah yang menyimpang, namun mereka nisbatkan aqidah menyimpang mereka tersebut kepada agama Islam. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan yang demikian dan juga berlepas diri aqidah-aqidah yang menyimpang tersebut.

Dalam berbagai permasalahan bab aqidah, aqidah ahlus sunnah adalah aqidah pertengahan antara dua kutub esktrim yang menyimpang dari jalan yang lurus. Kutub ekstrim pertama adalah mereka yang berlebih-lebihan (ghuluw dan ifrath) dalam agama. Sedangkan kutub ekstrim kedua adalah mereka yang bersikap meremehkan perkara agama (tafrith). Maka aqidah ahlus sunnah adalah aqidah yang haq, aqidah yang shahih, aqidah yang pertengahan, aqidah yang terbaik dan adil, dan berada di antara dua kutub ekstrim penyimpangan, yaitu kutub ifrath dan kutub tafrith.

Dalam tulisan serial ini, akan kami jelaskan sisi pertengahan aqidah ahlus sunnah dalam lima perkara pokok aqidah:

Baca Juga: Ada Apa dengan Wahabi?

Pokok pertama: dalam masalah ibadah

Dalam masalah ibadah, ahlus sunnah berada di tengah antara kelompok Syi’ah Rafidhah di satu sisi dan kelompok Daruuz dan Nushairiyyin, di sisi yang lainnya.

Penyimpangan Rafidhah adalah berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah Ta’ala. Yaitu dengan beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berdzikir dan juga tawassul yang tidak disyariatkan. Mereka juga berlebihan dalam ibadah dari sisi membuat-buat berbagai perayaan (hari besar atau hari ‘id) yang bid’ah, yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Sebagaimana kita ketahui, yang pertama kali merintis dan mempelopori perayaan maulid Nabi, yang kemudian diikuti oleh orang-orang selain mereka.

Selain itu, mereka bersikap ghuluw terhadap orang-orang yang mereka anggap shalih, yaitu dengan membuat bangunan megah di atas kubur mereka, shalat di sisi kubur, thawaf mengelilingi kubur tersebut [1], dan juga menyembelih binatang sembelihan untuk penghuni kubur tersebut [2]. Orang Syi’ah Rafidhah adalah pelopor dan terdepan dalam membuat bangunan, termasuk masjid, di atas kubur.

Baca Juga: Mengaku Salafi, Namun Realitanya Tidak Bermanhaj Salaf

Jadi, sikap berlebih-lebihan dalam ibadah kaum Rafidhah adalah dengan menyembah para penghuni kubur, dengan menunjukkan berbagai bentuk peribadatan kepada mereka, baik berupa sembelihan dan doa permohonan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan atau tercegah dari mara bahaya yang mereka khawatirkan. Intinya, Rafidhah adalah kelompok yang bersemangat dalam ibadah kepada Allah Ta’ala, sampai-sampai mereka beribadah kepada Allah dengan bentuk ibadah yang tidak pernah disyariatkan alias bid’ah.

Di sisi yang lainnya, adalah kelompok Daruuz dan Nushairiyyin, mereka ini juga disebut dengan kelompok ‘Alawiyyin. Dua kelompok ini dijumpai di negeri Syam, yaitu Suriah, Libanon, dan Palestina. Di antara aqidah Nushairiyyin adalah mereka mempertuhankan ‘Ali bin Abi Thalib. Sedangkan di antara aqidah Daruuz adalah mereka mempertuhankan seseorang bernama Al-Hakim Biamrillah Al-‘Ubaidi. Para ulama menyebut dua kelompok telah keluar dari Islam (murtad), meskipun mereka mengaku sebagai muslim.

Penyimpangan mereka adalah mereka tidak mau beribadah kepada Allah Ta’ala sama sekali. Atau dengan kata lain, mereka tinggalkan semua bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Jadilah mereka tidak shalat, tidak puasa, tidak zakat, tidak berhaji, dan seterusnya dari ibadah-ibadah yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak punya semangat ibadah kepada Allah Ta’ala sama sekali.

Baca Juga: Mencela Pemimpin, Ciri Khas Kelompok Khawarij

Adapun ahlus sunnah, mereka beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan syariat yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam Al-Qur’an dan telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan dalam As-Sunnah. Mereka tidaklah meninggalkan berbagai kewajiban ibadah yang telah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya wajibkan. Namun, mereka tidaklah membuat-buat bentuk ibadah berdasarkan inovasi dan kreasi akal mereka sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa saja yang membuat-buat perkara baru dalam urusan (agama) kami, yaitu perkara yang tidak ada asal-usulnya dari ajaran kami, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa saja yang veramal dengan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Demikianlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengingatkan pokok dan prinsip yang agung ini di setiap khutbah atau ceramah beliau dengan mengatakan,

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama). Dan setiap bi’dah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)

Di antara prinsip ahlus sunnah adalah amal yang sedikit namun sesuai dengan sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu lebih utama daripada memperbanyak amal ibadah namun terjerumus ke dalam perkara bid’ah dalam agama. Sebagaimana dalam sebuah prinsip yang masyhur,

إصابة السنة أفضل من كثرة العمل

“Mengikuti sunnah itu lebih utama daripada memperbanyak amal.”

Baca Juga:

  • Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fitri Lebih Awal?
  • Mengenal Pokok-Pokok Aqidah Kaum Khawarij

[Bersambung]

***

@Rumah Lendah, 27 Rajab 1440/3 April 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

Catatan kaki:

[1] Jika tujuan shalat dan thawaf tersebut adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka ini bid’ah. Jika ditujukan untuk penghuni kubur, maka ini syirik akbar.

[2] Ini syirik akbar. Jika ditujukan kepada Allah, namun lebih mantap jika disembelih di samping kubur, maka ini bid’ah.

 

Referensi:

Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, hal. 14-15; karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin hafidzahullahu Ta’ala (cetakan Maktabah Makkah tahun 1425 H).

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya

Hadits Lemah: Perkataan Yang Tidak Didahului Shalawat Maka Terputus Berkahnya

Komentar 2

  1. Subagio muhajilin says:
    7 tahun yang lalu

    Catatan kaki no. 1, jika tujuan sholat dan thowaf itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka ini adalah bid’ah. Apa maksudnya ini? Bukankah ibadah tsb. Diatas untuk taqorrub kepada Allah?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      7 tahun yang lalu

      Namun dengan cara yang tidak pernah Allah ajarkan dan tidak pernah Rasulullah ajarkan, maka menjadi bid’ah.

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah