Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mencela Pemimpin, Ciri Khas Kelompok Khawarij

Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi oleh Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi
13 Juli 2016
di Manhaj
Share on FacebookShare on Twitter

Mencela pemimpin merupakan ciri khas manhaj yang ditempuh oleh kaum Khawarij. Awalnya hanya sekedar mengkritik dan membeberkan aib pemimpin di atas mimbar, seminar, koran, dan medsos; tetapi membengkak hingga tiada lain terminal akhirnya kecuali memberontak pemimpin.

Jelas kiranya, metode ini menyelisihi petunjuk Nabi dalam mengingkari penguasa dan merupakan sumber segala fitnah/kerusakan sepanjang sejarah sebagaimana dikatakan Imam Ibnul Qayyim dalam I’lam Muwaqqi’in (3: 7).

Sebagai bukti bahwa metode seperti itu adalah metode yang diterapkan kaum Khawarij adalah riwayat Imam Tirmidzi dan selainnya dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi, katanya,

كُنْتُ مَعَ أَبِيْ بَكْرَةَ تَحْتَ مِنْبَرِ أَبِيْ عَامِرٍ وَهُوَ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ, فَقَالَ أَبُوْ بِلاَلٍ: انْظُرُوْا إِلَى أَمِيْرِنَا يَلْبَسُ لِبَاسَ الْفُسَّاقِ, فَقَالَ أَبُوْ بَكْرَةَ : اسْكُتْ! سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِيْ الأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ

“Saya pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu Amir yang sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Abu Bilal berkata, “Lihatlah pemimipin kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasiq.” Abu Bakrah menegurnya seraya berkata, “Diamlah, saya mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menghina pemimpin di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya.“” (Lihat Shahih Sunan Tirmdzi no. 1812 oleh Al-Albani)

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Abu Bilal namanya adalah Mirdas bin Udiyyah, seorang Khawarij tulen. Karena kejahilannya, dia menganggap pakaian tipis bagi kaum pria adalah pakaiannya orang fasiq.” (Siyar A’lam Nubala’, 14: 508 oleh Imam Dzahabi)

Demikianlah Khawarij sepanjang zaman, mereka salah kaprah dalam metode mengingkari dan jahil akan hal yang diingkari.

Satu hal lagi yang perlu sekali saya sampaikan di sini bahwa hanya sekedar menghujat pemimpin muslim -sekalipun fasiq- merupakan ciri khas manhaj Khawarij, sebab manusia tidak akan memberontak pemimipin tanpa ada yang menyalakan api kebencian di hati mereka, walaupun dengan dalih menegakkan pilar amar ma’ruf nahi mungkar.

Oleh karenanya, para ulama menilai bahwa para penggerak pemberontakan, pengkritik, dan pencela pemimpin adalah Khawarij sekalipun sepanjang sejarah mereka tidak pernah memberontak. Dalam kitab sejarah dan firaq (kelompok dan golongan), mereka disebut Al-Qa’adiyyah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata mensifati sebagian jenis Khawarij, “Dan kaum Al-Qa’adiyyah yaitu kelompok yang melicinkan pemberontakan terhadap pemerintah sekalipun tidak langsung membrontak.”

Bahkan, kadang-kadang orang yang mengompori untuk berontak lebih jelek daripada yang langsung memberontak sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dalam Masail Ahmad (hal. 271) dari Abdullah bin Muhammad berkata, “Khawarij jenis Al-Qa’adiyyah adalah sejelek-jeleknya kelompok Khawarij!”

Para ulama masa kini juga telah membendung dan memerangi pemikiran-pemikiran Khawarij model Al-Qa’adiyyah ini.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata tatkala menjelaskan hadits Dzil Huwaishiroh, “Hadits ini merupakan dalil yang sangat mendasar bahwa berontak pada pemimpin bukan hanya dengan pedang semata tapi bisa juga dengan perkataan dan ucapan. Perhatikanlah, orang ini (Dzul Huwaishrah), dia tidak mengangkat pedang guna membunuh Nabi, tapi dia hanya mengingkarinya (dengan terang-terangan). Apabila dijumpai dalam sebagian kitab ahli sunnah yang menyatakan bahwa berontak itu adalah dengan pedang, maka maksudnya adalah puncak pemberontakan.” (Lihat Fatawa Ulama Al-Akabir, hal. 94-96 dan Madarik An-Nadhar, hal. 272-275 oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani)

***

Penulis: Ust. Abu Ubaidah As-Sidawi

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin99
Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Artikel Terkait

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Penguasa adalah Cerminan Rakyatnya: Sebuah Sebab Syar’i yang Wajib Kita Yakini

oleh Muhammad Insan Fathin
13 Mei 2026
0

Kita sering marah melihat pemimpin yang zalim, korup, dan jauh dari keadilan. Reaksi pertama yang muncul biasanya adalah menuding, mencaci,...

Artikel Selanjutnya

Apakah Bumi Bulat Bola Atau Datar Menurut Pandangan Syariat?

Komentar 7

  1. Abdullaah says:
    7 tahun yang lalu

    Izin copas salah satu hadits ya admin…

    Balas
    • Berguru agama di google says:
      4 tahun yang lalu

      Kalo anda membohongi satu kata saja.. … Bisa mengubah
      makna hadits tsb. Apa gk takut menyangkut agama ngmong seenak aja. Berat tanggungjawabmu. Ngeriii

      Balas
  2. Fulan says:
    7 tahun yang lalu

    Izin copy

    Balas
  3. abdullah says:
    7 tahun yang lalu

    syukroon tadz..

    Balas
  4. Riko says:
    6 tahun yang lalu

    Izin copas

    Balas
  5. Muhammad Irfan Alyyudin says:
    5 tahun yang lalu

    izin copas

    Balas
  6. Amyra Balqis says:
    3 tahun yang lalu

    Sangat bermanfaat

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prove your humanity: 4   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah