Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’ (Bag. 1)

Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’ (Bag. 1)

Di manakah Allah?

Di antara masalah yang disepelekan dan diremehkan oleh kaum muslimin adalah jawaban dari sebuah pertanyaan yang sederhana yaitu, ”Di manakah Allah?” Buktinya, kalau kita sampaikan pertanyaan ini kepada mereka maka mungkin akan kita dapati dua jawaban yang batil dan kufur. Pertama, mereka mengatakan bahwasanya Allah ada di mana-mana atau di segala tempat. Ke dua, mereka mengatakan bahwasanya Allah ada dalam diri atau hati kita. Sedangkan yang lain mungkin akan menjawab, ”Saya tidak tahu.”

Padahal kalau mereka mau berfikir sejenak, orang yang yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala berada di setiap tempat atau Allah Ta’ala berada di mana-mana, konsekuensinya adalah menetapkan keberadaan Allah di jalan-jalan, di pasar, bahkan di tempat-tempat kotor seperti di parit, WC, tempat sampah, dan lainnya. Oleh karena itu, kita katakan kepada mereka,

سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 91)

Kalau memang Allah Ta’ala itu berada di mana-mana, lalu buat apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas langit untuk menerima perintah shalat dalam peristiwa isra’ mi’raj? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam cukup menemui Allah Ta’ala di pojok kamarnya atau di ruang tamu rumahnya, dan tidak perlu repot-repot menempuh perjalanan yang jauh (dan tidak masuk akal bagi kaum musyrikin ketika itu) untuk bertemu dengan Allah Ta’ala dalam rangka menerima perintah shalat. Mengapa mereka tidak memperhatikan hal ini, padahal hampir setiap tahun mungkin mereka memperingati peristiwa isra’ mi’raj ini?

Dan sama halnya juga dengan orang yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala ada dalam setiap diri kita, karena konsekuensinya Allah Ta’ala itu banyak, sebanyak bilangan makhluk. Kalau jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta, maka sebanyak itu pula jumlah Allah di Indonesia, karena Allah berada dalam diri setiap hamba-Nya. Sehingga kalau kita cermati, aqidah seperti ini lebih kufur daripada aqidah kaum Nasrani yang “hanya” mengakui adanya tiga tuhan (aqidah trinitas).

Kalau Allah Ta’ala itu ada dalam setiap diri kita dan menyatu dengan diri kita, maka konsekuensinya adalah “Allah adalah saya dan saya adalah Allah!” Kalau sudah begini, siapa memerintahkan siapa? Maka aqidah inilah yang menjadi senjata orang-orang Sufi untuk menolak menjalankan kewajiban yang dibebankan syari’at. Karena dia meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menyatu dengan dirinya, maka dia tidak perlu shalat, puasa, dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya, karena dialah Allah! Na’udzu billah min dzalika.

Lebih-lebih lagi mereka yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala itu tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang karena konsekuensinya berarti Allah itu tidak ada (??). Maka siapa Tuhan yang mereka sembah selama ini?

Adapun orang yang “diam” dengan mengatakan, “Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang memelihara kebodohan. Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang diri-Nya dengan sifat-sifat yang salah satunya adalah bahwa Dia ber-istiwa’ (tinggi) di atas ‘arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu “diam” darinya dengan ucapan “kami tidak tahu” nyata-nyata telah berpaling dari maksud Allah Ta’ala.

Yang mengherankan adalah, bagaimana mungkin kaum muslimin tidak mengetahui di mana Allah Ta’ala, padahal Allah Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang tinggi di atas ‘arsy.(QS. Thaha [20]: 5)

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan ketika menjelaskan ayat ini,

اسْتِوَاء يَلِيق بِهِ

“Istiwaa’ yang sesuai dengan (keagungan dan kebesaran) Allah Ta’ala.” (Tafsir Jalalain, 1/406)

Dan dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Dia ber-istiwa’ di atas ‘arsy.” (QS. Al-A’raf [7]: 54)

’Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi berada di atas tujuh langit dan sangat besar sekali. [1]

[Bersambung]

Baca juga:

  1. Akidah Imam Asy Syafi’i Mengenai Istiwa Allah
  2. Menjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa
  3. Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy

***

Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL, 2 Jumadil awwal 1439/20 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1]     Penjelasan tentang ‘arsy dapat dilihat di tautan berikut ini: Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy

Print Friendly, PDF & Email
iklan
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 - sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »