Tidak Boleh Meyakini Kafirnya Orang Yahudi dan Nashrani?

Tidak Boleh Meyakini Kafirnya Orang Yahudi dan Nashrani?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala

Pertanyaan:

Salah seorang penceramah di salah satu masjid di Eropa mengatakan dalam sebagian ceramahnya bahwa tidak boleh mengkafirkan Yahudi dan Nasrani. Dan Engkau mengetahui –semoga Allah Ta’ala menjagamu- bahwa perbekalan ilmu orang-orang yang mendatangi masjid-masjid di Eropa itu sangat sedikit. Sehingga kami khawatir perkataan semacam ini akan tersebar. Kami mengharapkan penjelasan yang memuaskan dari Anda.

Baca Juga: Inilah Kelicikan Kaum Yahudi

Jawaban:

Perkataan yang muncul dari penceramah tersebut adalah perkataan yang menyesatkan, dan bisa jadi merupakan kekafiran (membatalkan iman). Hal ini karena Allah Ta’ala telah memvonis kafir orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ ؛ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata, “’Uzair itu putera Allah.” Dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah. (Juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan (Allah) yang Esa, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah [9]: 30-31)

Baca Juga: Derita Palestina Akibat Kekejaman Yahudi

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik.

Allah Ta’ala juga menyebutkan di ayat yang lain dengan (penjelasan) yang tegas menunjukkan kekafiran mereka. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إنَّ اللَّه هُوَ المسيح بن مَرْيَم

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah [5]: 17)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allah adalah salah seorang dari yang tiga.” (QS. Al-Maidah [5]: 73)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam.” (QS. Al-Maidah [5]: 78)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 6)

Baca Juga: Inilah Kemiripan Syi’ah dengan Yahudi

Ayat-ayat dan hadits tentang masalah ini sangatlah banyak. Siapa saja yang mengingkari kafirnya orang Yahudi dan Nasrani (dimana orang Yahudi dan Nasrani tersebut tidak mau beriman terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendustakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka sungguh mereka ini telah mendustakan Allah Ta’ala. Sedangkan mendustakan Allah Ta’ala adalah perbuatan kekafiran. Siapa saja yang meragukan kafirnya Yahudi dan Nasrani, maka tidak diragukan lagi kafirnya orang tersebut.

Subhanallah!

Bagaimana mungkin kita ridha dengan penceramah tersebut yang mengatakan: “Tidak boleh memvonis mereka (Yahudi dan Nasrani) kafir”, padahal mereka mengatakan Allah adalah trinitas? Dan mereka ini telah divonis kafir oleh pencipta mereka, yaitu Allah Ta’ala?

Bagaimana mungkin kita tidak ridha dengan status kafir mereka, sedangkan mereka mengatakan, “Sesungguhnya Isa Al-Masih adalah anak Allah?” Mereka juga mengatakan, “Tangan Allah terbelenggu.” Mereka juga mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin, sedangkan kami kaya raya?”

Baca Juga: Sikap Pertengahan Umat Islam, Antara Yahudi Dan Nashrani

Bagaimana mungkin kita tidak tidak ridha kafirnya mereka dan tidak ridha untuk menyebut kafirnya mereka, padahal mereka telah menyiifati Allah Ta’ala dengan sifat-sifat yang jelek yang semuanya adalah aib, penghinaan, dan celaan?

Sesungguhnya aku berdoa meminta kepada Allah Ta’ala agar penceramah itu bertaubat kepada Allah Ta’ala dan agar dia membaca firman Allah Ta’ala,

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka pun bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al-Qalam [68]: 9)

(Aku berdoa meminta kepada Allah Ta’ala) agar mereka (orang-orang mukmin) tidak bersikap lunak (mudahanah) [1] terhadap kekafiran mereka (Yahudi dan Nasrani), dan agar mereka menjelaskan ke semua orang bahwa orang Yahudi dan Nasrani adalah orang kafir dan penghuni neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi dan Nashrani, mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya (yaitu agama Islam, pent.), kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 153)

Baca Juga: Sikap Pertengahan Umat Islam, Antara Yahudi Dan Nashrani

Oleh karena itu, kepada penceramah tersebut, hendaknya dia bertaubat kepada Allah Ta’ala dari perkataan yang dusta ini. Dan agar penceramah tersebut menjelaskan dengan penjelasan yang tegas bahwa orang Yahudi dan Nasrani adalah orang kafir, kekal di neraka. Dan juga menjelaskan bahwa kewajiban orang Yahudi dan Nasrani adalah mengikuti seorang Nabi yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis, pent.), yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal ini telah diketahui (ma’ruf) di kalangan Yahudi dan Nasrani. Maksudnya, mereka telah mengenal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana mereka mengenal Nabi mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis, pent.) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf [7]: 157)

Baca Juga: Non Muslim ya Kafir

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kabar gembira dari Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam. ‘Isa ‘alaihis salaam berkata, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah Ta’ala,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaf [61]: 6)

Ketika kabar gembira yang diberitakan kepada mereka (yaitu Ahmad atau Muhammad) itu datang dengan bukti-bukti nyata, mereka mengatakan bahwa ini adalah sihir yang nyata. Dan dengan ini kami menolak klaim orang Nasrani yang mengatakan, “Sesungguhnya kabar gembira yang disebutkan oleh ‘Isa ‘alaihis salaam adalah Ahmad, dan bukan Muhammad”, dengan kami katakan bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala mengatakan,

فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ

“Maka ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata.” (QS. Ash-Shaf [61]: 6)

Tidaklah datang kepada mereka setelah Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad adalah Ahmad, akan tetapi Allah Ta’ala memberikan ilham (wahyu) kepada ‘Isa ‘alaihis salaam untuk menyebut Muhammad dengan Ahmad. Hal ini karena “Ahmad” adalah bentuk isim tafdhil [2] dari kata “al-hamdu”. Artinya, Ahmad adalah orang yang paling banyak memuji Allah Ta’ala, dan Ahmad adalah orang yang paling banyak mendapatkan pujian karena memiliki sifat-sifat sempurna (luhur) sehingga berhak (layak) mendapatkan pujian karenanya.

Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama Lainnya

Sehingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah “Ahmad” dengan makna “manusia yang paling banyak memuji Allah Ta’ala”, dengan memaknai isim tafdhil tersebut ke dalam makna fa’il (pelaku perbuatan). “Ahmad” juga bermakna “manusia yang paling berhak mendapatkan pujian”, dengan memaknai isim tafdhil tersebut ke dalam makna maf’ul (objek dari perbuatan). Jadi, “Ahmad” adalah “haamid” (paling banyak memuji Allah) dan “mahmuud” (paling berhak mendapatkan pujian).

Saya katakan bahwa siapa saja yang menyangka bahwa di bumi ini ada agama yang Allah Ta’ala terima selain agama Islam, maka dia kafir, dan tidak diragukan kekafirannya. Karena Allah Ta’ala berkata di dalam kitab-Nya,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 85)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah adalah (agama) Islam.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 19)

Oleh karena itu, dan saya ulangi untuk kali ketiga, wajib atas penceramah tersebut untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala dan agar menjelaskan ke seluruh manusia bahwa orang Yahudi dan Nasrani adalah orang kafir. Hal ini karena bukti-bukti (dalil atau hujjah) telah sampai sampai kepada mereka (Yahudi dan Nasrani) dan telah sampai pula kepada mereka risalah kenabian (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Akan tetapi, mereka kafir karena tidak mau mengikuti kebenaran.

Baca Juga: Cara Mendakwahi Keluarga Yang Berbuat Syirik

Dan sungguh orang Yahudi telah Allah Ta’ala sifati sebagai “orang yang dimurkai”, karena mereka mengetahui kebenaran, akan tetapi kemudian menyelisihinya. Adapun orang Nasrani telah disifati sebagai kaum yang sesat, karena mereka menginginkan kebenaran dan tersesat dari mendapatkan kebenaran. Adapun sekarang ini, mereka semua telah mengetahui kebenaran dan mengenalnya, akan tetapi mereka (Yahudi dan Nasrani) kemudian menyelisihinya. Oleh karena itu, mereka semua berhak untuk mendapatkan murka Allah Ta’ala.

Sesungguhnya saya mengajak mereka, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani, untuk beriman kepada Allah Ta’ala dan para Rasul semuanya. Dan agar mereka mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena inilah yang diperintahkan kepada mereka melalui kitab-kitab mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ ؛ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ؛ قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat. Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman, “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami.” (Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka; yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar; dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk; dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka هtulah orang-orang yang beruntung. Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf [7]: 156-158)

Baca Juga: Benarkah Tidak Ada Dalil Yang Melarang Ucapan Selamat Natal?

Dan agar mereka mengambil dua bagian dari pahala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثَلَاثَةٌ لَهُمْ أَجْرَانِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ada tiga orang yang akan mendapat pahala dua kali, (pertama) seseorang dari Ahlul Kitab yang beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam … (HR. Bukhari no. 97 dan Muslim no. 154)

Kemudian setelah itu, saya menelaah perkataan penulis kitab Al-Iqna’ (yaitu kitab fiqh dalam madzhab Hambali, pent.) dalam bab hukum murtad, beliau mengatakan,

أو لم يكفر من دان بغير الإسلام: كالنصارى أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم فهو كافر

“ … atau tidak mengkafirkan orang-orang yang beragama dengan selain agama Islam, semacam Nasrani, atau ragu-ragu tentang kekafiran mereka, atau membenarkan agama mereka, maka orang itu statusnya kafir.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata, “Siapa saja yang meyakini bahwa gereja adalah rumah (Allah); (meyakini bahwa) Allah disembah di dalamnya; (meyakini bahwa) apa yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Nasrani adalah ibadah kepada Allah Ta’ala dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya; atau mencintai hal itu dan meridhai mereka; atau membantu mereka untuk menegakkan agama mereka; atau (meyakini bahwa perbuatan orang Yahudi dan Nasrani) adalah peribadatan dan ketaatan kepada Allah, maka dia telah kafir.“

Beliau juga berkata di tempat (kitab) yang lain, “Siapa saja yang meyakini bahwa datangnya orang-orang kafir ahlu dzimmah [3] ke tempat ibadah mereka adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala, maka dia kafir.“

Ini menguatkan apa yang telah saya sebutkan di awal jawaban ini, sehingga hal ini adalah perkara yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Wallahul musta’an. [4]

Baca Juga:

[Selesai]

***

@Jogjakarta, 18 Rajab 1440/25 Maret 2019

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Mudahanah artinya bermuamalah dengan orang fasiq, menampakkan keridhaan kepadanya, tanpa menunjukkan pengingkaran. Sebagian ulama juga mendefinisikan mudahanah dengan “mengorbankan agama demi kemaslahatan dunia”.

[2] Isim tafdhiil digunakan untuk menunjukkan sebuah perbandingan antara satu dengan yang lain (bentuk komparatif), dan untuk menunjukkan bentuk superlatif (perbandingan yang teratas, yang menyatakan paling, atau ter-).

[3] Silakan dibaca pengertian kafir ahlu dzimmah di sini:

https://muslim.or.id/4806-pembagian-kaum-kafir.html

[4] Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dhawabith wa Taujihaat, hal. 166-171; karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, cetakan ke dua tahun 1436, penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Al-Khairiyyah.

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »

4 Comments

Leave a Reply