fbpx

Setiap Akhir Tahun Umat Islam Ribut tentang Hukum Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru?

Setiap Akhir Tahun Umat Islam Ribut tentang Hukum Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru?

Ada selentingan atau komentar beberapa orang yang terlihat bijak, padahal sangat tidak bijaksana dan tidak hikmah

Hati-Hati dengan Perkataan Mereka

Perkataan yang seolah terlihat bijak dan penuh hikmah ditujukan kepada umat Islam seperti berikut

“Kenapa umat Islam setiap tahun meributkan hukum ucapan selamat natal dan tahun baru, padahal biarkan saja mereka seusai dengan keyakinan mereka.”

Baca Juga: Kumpulan Artikel Seputar Natal dan Tahun Baru

Kita berikan sanggahan terhadap perkataan ini:

  1. Secara hukum, tidak boleh mengucapkan selamat natal karena terdapat ijma’ ulama tidak bolehnya mengucapkan selamat kepada hari perayaan orang kafir[1] dan terdapat ijma’ ulama tidak boleh merayakan tahun baru orang kafir[2]
  2. Hal ini akan terus kita dakwahkan dan sudah sunnatullah-nya bahwa dakwah itu pasti ada yang menentang dan tidak terima, meskipun dakwah kita selembut kapas metodenya
  3. Dampak dari dakwah ini dan ada yang menolak, bukanlah artinya “meributkan dan membuat gaduh”, tetapi memang demikianlah dakwah sebagaimana dakwah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang membuat orang kafir Quraiys tidak terima dan merekapun menganggap  hal ini adalah kegaduhan dan membuat keributan
  4. Apabila seseorang punya prinsip “biarkan sesuai dengan keyakinan”, maka biarkan kami sesuai keyakinan kami menyebarkan apa yang kami yakini. Dakwah itu sederhana, apabila diterima alhamdulillah dan apabila ditolak, kami tidak boleh memaksa, tugas kami hanya menyampaikan dan kita muslim tetap bersaudara.

Baca Juga: Haruskah Berdakwah dengan Lemah Lembut di Zaman Ini?

Mereka yang Membenci Dakwah Islam

Saudaraku yang dirahmati Allah, sudah menjadi sunnatullah bahwa dakwah itu pasti ada yang tidak terima. Sebagaimana para Nabi dan Rasul yang pasti ada yang tidak terima dakwah mereka dan bahkan menjadi musuh para nabi dan rasul.

Allah berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. (QS. al-An’am: 112)

Setiap dakwah pasti akan memunculkan orang yang tidak terima dan mereka mengangap dakwah adalah membuat keributan dan menggelari dengan gelar yang buruk. Sebagaimana dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh memecah belah kaumnya, memisahkan suami-istri dan menjauhkan tuan dengan budaknya. Padahal dakwah beliau itu menyatukan umat di atas tauhid.

Allah berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah secara keseluruhan, dan jangan kalian berpecah-belah.” (Ali ‘Imran: 103).

Tugas kita hanya menyampaikan saja dakwah dan tidak boleh memaksa orang lain untuk percaya dan mengubah paksa keyakinan orang lain.

 

Sebagaimana firman Allah,

وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan kewajiban kami tidak lain HANYALAH MENYAMPAIKAN (perintah Allah) dengan jelas.” (QS. Yasin: 17)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa tugas kita hanya menyampaikan, apabila diterima maka alhamdulillah, apabila ditolak, maka sudah bukan kewajiban kita (mengubah paksa). Beliau berkata,

وإنما وظيفتنا -التي هي البلاغ المبين- قمنا بها، وبيناها لكم، فإن اهتديتم، فهو حظكم وتوفيقكم، وإن ضللتم، فليس لنا من الأمر شيء.

“Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan ilmu yang jelas, kami lakukan dan kami jelaskan bagi kalian. Apabila kalian mendapat hidayah, maka itulah keberuntungan dan taufik bagi kalian. Apabila kalian tetap tersesat, maka tidak ada kewajiban bagi kami lagi (mengubah paksa).” [Lihat Tafsir As-Sa’diy]

Baca Juga:

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Silakan baca tulisan kami: Ijma’ Ulama: Larangan Mengucapkan “Selamat” Pada Hari Raya Non-Muslim

[2] Silakan baca tulisan kami: Larangan Merayakan Hari Nairuz, Hari Tahun Baru Non-Muslim

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
MPD Banner

About Author

dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Kedokteran Umum UGM, dosen di Universitas Mataram, kontributor majalah "Kesehatan Muslim"

View all posts by dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK »

One Comment

  1. menurut pandangan saya pribadi emang salah karena pada umumnya setiap agama emang harus saling menghargai dan umat non muslim juga tidak berharap untuk mendapatkan ucapan tersebut dari seorang muslim.

Leave a Reply