Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Syawal adalah Indikator Diterimanya Amalan Ramadan

Glenshah Fauzi oleh Glenshah Fauzi
5 Mei 2026
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Waspada berniat jahat di bulan Syawal
  • Beramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda amal kita tidak diterima
  • Para Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukur

Keadaan kita di bulan Syawal adalah indikator hasil pekerjaan kita di bulan Ramadan. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,

أن معاوَدَةَ الصِّيام بعدَ صِيام رمضانَ علامةٌ على قَبُولِ صَوْمِ رمضانَ

“Melanjutkan puasa setelah Ramadan (dengan puasa Syawal–pen) adalah tanda diterimanya puasa Ramadan kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)

Hal ini berdasarkan kaidah besar yang disebutkan oleh para ulama,

ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها

“Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”

Ibnu Katsir mengutip kaidah ini dari keterangan para salaf atas sebuah firman Allah ﷻ,

فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ

“Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)

Konteks ayat ini adalah bagi mereka yang beramal saleh, bersedekah dan semisalnya, maka Allah ﷻ akan mudahkan ia untuk mengerjakan kebaikan setelahnya. Dari sinilah sebagian salaf radhiyallahu ‘anhum mengatakan,

فإنَّ الله تعالى إذا تقبَّل عَمَلَ عَبْدٍ وفَّقَه لعمل صالحٍ بعدَه، كما قال بعضُهم: ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها

“Karena sesungguhnya apabila Allah ﷻ menerima amalan seorang hamba, maka Allah ﷻ akan memberikan taufik untuk beramal saleh setelahnya. Sebagaimana dikatakan sebagian ulama salaf, “Ganjaran dari sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)

Hal ini juga sesuai dengan tafsir Ibnu Katsir atas QS. Al-Lail: 7 di atas,

أَنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، يُجازي مَنْ قَصَدَ الْخَيْرَ بِالتَّوْفِيقِ لَهُ

“Bahwasanya Allah ﷻ membalas orang yang berniat untuk mengerjakan kebaikan dengan memberinya kekuatan untuk mengerjakannya.”

Berniat kebaikan saja pasca Ramadan akan Allah ﷻ ganjar dengan taufik untuk mengerjakannya. Maka, kunci dari menjaga kesuksesan amalan Ramadan adalah senantiasa memasang niat dan berusaha kuat untuk melanjutkannya dengan amalan kebaikan lain. Andai pun Allah ﷻ tidak menakdirkan kebaikan itu terjadi, semoga Allah ﷻ sudah mengganjarnya dengan kebaikan, sebagaimana dalam sebuah hadis,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

“Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan, lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131)

Ganjaran sempurna itu didapatkan bagi orang yang baru berniat, sedangkan mereka yang mampu mewujudkannya, akan Allah ﷻ balas minimal sepuluh kali bahkan sampai tujuh ratus kali.

Dan tidak hanya dimudahkan untuk berbuat baik setelahnya, tetapi juga dimudahkan untuk mendapatkan hasil kebaikan setelahnya.

Bukankah Allah ﷻ berfirman,

هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ

“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)

Dan kata para ahli tafsir, di antaranya dinukil dari Zaid bin Aslam, maksud dari ganjaran kebaikan di dunia adalah kebaikan yang amat hebat di akhirat, yaitu surganya Allah ﷻ.

Baca juga: Keadaan Manusia Sesudah Ramadhan

Waspada berniat jahat di bulan Syawal

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat,

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

“Maka kelak kami akan menyiapkan segera jalan yang penuh kesulitan.” (QS. Al-Lail: 10)

Beliau membawakan peringatan,

وَمَنْ قَصَدَ الشَّرَّ بِالْخِذْلَانِ. وَكُلُّ ذَلِكَ بِقَدَرٍ مُقدّر

“Dan barangsiapa yang berniat akan melakukan keburukan, Allah akan menghinakannya; dan semuanya itu berdasarkan takdir yang telah ditetapkan.”

Bahkan pengembaliannya sampai level terburuk, seakan-akan tiada sisa dari amalan membaca Al-Qurannya, bahkan tak mengenal sama sekali. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. Al-An’am: 110)

Beramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda amal kita tidak diterima

Amalan ikutan dari sebuah kebaikan tidak hanya berupa kebaikan selanjutnya. Bisa saja amalan kebaikan melahirkan amalan keburukan selanjutnya. Waspadalah! Keburukan yang kita lakukan pasca berbuat kebaikan adalah tanda amal baik itu tidak diterima.

كما أن مَن عَمِلَ حسنةً، ثم أتبَعَها بسيئةٍ، كان ذلك علامَةَ رَدِّ الحسَنَةِ وعَدَمَ قبولها

“Sebagaimana orang yang beramal kebaikan, kemudian setelahnya ia lanjutkan dengan keburukan, sungguh itu menjadi tanda ditolaknya kebaikan tersebut.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)

Para Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukur

Allah ﷻ menjadikan puasa Ramadan sebagai jalan agar dosa-dosa kita yang telah lalu dapat diampuni-Nya. Dan ini adalah nikmat yang besar dan patut kita syukuri. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan kebiasaan para salaf berpuasa Syawal sebagai bentuk syukur,

فيكون معاوَدَةُ الصِّيامِ بعدَ الفِطْر شُكرًا لهذه النِّعمةِ

“Maka mereka menjadikan meneruskan puasa setelah Ramadan sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah ﷻ ini.

فلا نِعْمَةَ أعظمُ مِن مغفرة الذنوبِ

Sungguh tiada nikmat yang lebih besar dari ampunan Allah ﷻ atas dosa-dosa kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)

Bahkan Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa beramal sebagai bentuk syukur atas amalan sebelumnya juga harus disyukuri. Artinya, setiap amal kesyukuran butuh kepada rasa syukur selanjutnya. Pola ini tiada hentinya di dalam kehidupan seorang mukmin. Sehingga wajarlah jika Allah ﷻ katakan kita tidak akan pernah mampu mensyukuri segala nikmat Allah ﷻ yang diberikan-Nya kepada kita semua.

Hal ini tidak hanya merupakan keteladanan dari orang saleh setelah Nabi ﷺ. Namun, Nabi ﷺ sendiri pun melakukan hal serupa.

كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يقوِمُ حتَّى تتورَّمَ قَدَمَاهُ، فيقالُ له: أتفعَلُ هذا وقد غَفَرَ الله لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّر؟ فيقول: أفلا أكونُ عبدًا شكورًا؟

“Suatu ketika, Nabi ﷺ berdiri salat malam sampai bengkak kedua kakinya. Kemudian dikatakan kepada baginda Nabi ﷺ, “Mengapa engkau melakukan sebegitunya, sementara Allah ﷻ sudah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?” Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Tidakkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?” (HR. Bukhari no. 1130)

Maka, hendaknya menjadi renungan bagi kita di penghujung Syawal ini, bagaimana keadaan diri kita? Sudahkah kita mendapatkan indikator positif bahwa amal Ramadan diterima? Ataukah kita masih dalam bayang-bayang rapor merah dengan keadaan Syawal yang dipenuhi kelalaian dan kemaksiatan?

Baca juga: Menjaga Keistikamahan Pasca Ramadan

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi

Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu Katsir.

Tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app

ShareTweetPin
Glenshah Fauzi

Glenshah Fauzi

- Alumnus Ma'had Al Ilmi 2023-2024 - Mahasiswa Kimia UGM '20

Artikel Terkait

Ketika Rupiah Melemah dan Krisis Ekonomi Melanda

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
9 Juni 2026
0

Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin...

Nafsu, Kekayaan, dan Kehancuran Moral Manusia

oleh Fauzan Hidayat
6 Juni 2026
0

Akhir-akhir ini, kita dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Epstein files”. Dokumen itu memperlihatkan sisi gelap manusia ketika...

Wahai Jiwa, Jangan Kembali Kepada Kehinaan Maksiat!

oleh Glenshah Fauzi
5 Juni 2026
0

Jiwa kita ibarat tunggangan berupa hewan ternak yang mudah tunduk pada tuannya. Namun, kehidupan dunia ibarat alam liar yang membuat...

Artikel Selanjutnya

Mengenali Diri Sendiri, Jalan Menuju Ketenangan Hati

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 9   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah