Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Seni Memaafkan: Investasi Terbaik untuk Ketenangan Jiwa

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
20 September 2026
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pertama, memberi maaf
  • Kedua, mengajak kebaikan
  • Ketiga, mengabaikan kebodohan
  • Teladan memaafkan dari generasi terbaik

Dalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.

Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:

Pertama, memberi maaf

Memaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.

Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!

Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)

Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.

Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Kedua, mengajak kebaikan

Setelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:

“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”

Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.

Ketiga, mengabaikan kebodohan

Ada orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.

Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.

Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)

Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.

Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.

Teladan memaafkan dari generasi terbaik

Abdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,

ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس

“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.

Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”

Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)

Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.

Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).

ShareTweetPin
Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

- S1 Jurusan Kewarganegaraan dan Hukum UNY - Ketua Hijrah Dakwah (@hijrahdakwah.id) - Pernah belajar di: PPTQ Harun Syafi’i, Markas Riwayah Ibnu Qudamah, Markas Takallam Duri - Pernah mengambil sanad Azan ke asatidz Markas Ibnu Syubah Boyolali

Artikel Terkait

Belajar Mencari Rezeki Ala Para Sahabat Nabi

oleh Muhammad Insan Fathin
6 Oktober 2026
0

Kalau kita bayangkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang muncul di kepala kebanyakan orang mungkin sosok yang sepanjang hari...

Muslim dan Kebiasaan Membaca

oleh Fauzan Hidayat
4 Oktober 2026
1

Bismillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang telah mengajarkan...

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 6): Karakter Pejabat Publik Ideal dan Supremasi Hukum

oleh Glenshah Fauzi
3 Oktober 2026
0

Kepemimpinan itu memiliki banyak aspek dengan kompleksitas tinggi. Salah satu pondasi penting dalam kepemimpinan ialah kuatnya hukum dan kepercayaan pada...

Artikel Selanjutnya

Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 2): Akhir Kisah Para Fujjar, Orang-orang Durhaka

Komentar 1

  1. Doel says:
    3 minggu yang lalu

    Syukran ustadz

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah