Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Ketika Ulama Berkata, “Aku Tidak Tahu” (Bag. 1)

Dimas Setiaji oleh Dimas Setiaji
21 Oktober 2026
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Sikap wara’ dalam berbicara dan berfatwa
  • Penutup

Suatu hari di Mina, orang-orang datang membawa pertanyaan kepada salah seorang ulama, namun jawaban yang keluar dari lisan beliau adalah,

لا أدري، لا أعلم

“Aku tidak tahu, aku tidak tahu.” (Shifatus Safwah, hal. 351)

Setelah beliau mengatakan hal tersebut, pertanyaan bukannya berkurang, akan tetapi semakin bertambah banyak, sehingga beliau mengatakan,

والله لا نعلم كلّ ما تسألونا عنه، ولو علمنا ما كتمنا كم ولا حل لنا أن نكتمكم

“Demi Allah, aku tidak mengetahui jawaban dari semua pertanyaan kalian. Seandainya aku mengetahuinya, tentu aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian.” (Shifatus Safwah, hal. 351)

Beliau adalah Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar rahimahullah, cucu dari sahabat Nabi yang paling utama, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah seorang imam, teladan, hafiz, seorang hujjah, dan ulama di Madinah kala itu bersama dengan Salim dan ‘Ikrimah. (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 406)

Beliau dibesarkan dalam asuhan bibinya, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dari beliaulah, Al-Qasim banyak mendalami ilmu fikih dan meriwayatkan hadis (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 406). Sejak usia muda, Al-Qasim bin Muhammad telah tumbuh dalam lingkungan ilmu. Ia menghafal Al-Qur’an dan banyak mengambil hadis dari bibinya radhiyallahu ‘anha. Ia juga tekun menghadiri majelis-majelis ilmu di Masjid Nabawi dan belajar kepada para sahabat dan tabi’in senior. Di antara mereka adalah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja‘far, Rafi‘ bin Khadij, serta Aslam, maula Umar bin Khattab (Kisah Para Tabi’in – Biografi Al-Qasim bin Muhammad, hal. 11). Dari perjalanan ilmu inilah, Al-Qasim kemudian tumbuh menjadi salah seorang ulama dan fuqaha terkemuka di Madinah, yang dikenal dengan sebutan Al-Fuqaha As-Sab’ah.

Kedalaman ilmu Al-Qasim diakui oleh para ulama lain. Yahya bin Sa’id berkata,

ما أدركنا بالمدينة أحداً نفضله على القاسم

“Aku tidak mengetahui ada orang yang lebih utama di Madinah daripada Al-Qasim.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 407)

Abdurrahman bin Abi Az-Zinad berkata,

ما رأيت أحداً أعلم بالسنة من القاسم بن محمد

“Aku belum pernah melihat orang yang lebih mengenal As-Sunnah dibandingkan Al-Qasim bin Muhammad.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 407)

Imam Malik berpendapat mengenai Al-Qasim bin Muhammad,

كان من فقهاء هذه الأمة

“Beliau termasuk fuqaha umat ini..” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 407)

Baca juga: Adakah Uzur Bagi Orang Yang Tidak Tahu?

Sikap wara’ dalam berbicara dan berfatwa

Di antara sifat yang semestinya kita teladani dari beliau yaitu kehati-hatian beliau ketika berbicara mengenai perkara agama. Ketinggian ilmu agama beliau –sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama di atas– tidak membuat beliau bermudah-mudahan dalam berfatwa dan semakin besar rasa takut beliau ketika mengatakan sesuatu yang tidak beliau ketahui. Hal ini sebagaimana disampaikan Imam Malik rahimahullah, “Al- Qasim sedikit meriwayatkan hadis dan sedikit memberikan fatwa.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 408)

Yahya bin Sa’id berkata, ”Aku mendengar Al-Qasim bin Muhammad berkata,

لأن يعيش الرجل جاهلا بعد أن يعرف حق الله عليه خير له من أن يقول ما لا يعلم

“Sungguh, seseorang yang hidup dalam keadaan bodoh –setelah ia mengetahui kewajiban dirinya kepada Allah– lebih baik baginya daripada dia mengatakan sesuatu yang tidak diketahui.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 408)

Hisyam bin ‘Ammar meriwayatkan dari Malik, “Suatu ketika, salah seorang pemimpin Madinah mendatangi Al-Qasim dan menanyakan suatu perkara kepadanya, kemudian beliau menjawab,

“Sesungguhnya termasuk bentuk seseorang memuliakan dirinya sendiri adalah ia tidak mengatakan sesuatu kecuali apa yang benar-benar telah dia ketahui ilmunya.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 408)

Terdapat kisah menarik mengenai kehati-hatian Al-Qasim bin Muhammad rahimahullahu saat berbicara dan menjawab pertanyaan, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala. Suatu ketika, Al-Qasim bin Muhammad rahimahullah sedang mengerjakan salat. Seorang Arab Badui datang menghampirinya dan bertanya, “Siapakah yang lebih berilmu, engkau atau Salim?”

Al-Qasim menjawab,

سبحان الله، كل سيخبرك بما علم

“Subhanallah, setiap orang akan memberitahukan kepadamu apa yang diketahuinya.”

Namun, orang Badui tersebut kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang lebih berilmu?”

Al-Qasim kembali mengucapkan, “Subhanallah.”

Ketika pertanyaan itu diulang lagi, Al-Qasim berkata,

ذاك سالم، انطلق فسله

“Itulah Salim. Pergilah dan bertanyalah kepadanya.”

Muhammad bin Ishaq rahimahullah yang meriwayatkan kisah ini, kemudian menjelaskan bahwa Al-Qasim tidak ingin mengatakan dirinya lebih berilmu daripada Salim karena hal itu berarti memuji dirinya sendiri. Namun, ia juga tidak ingin mengatakan Salim lebih berilmu darinya karena dia berdusta jika mengatakan demikian.

Penutup

Demikianlah, Al-Qāsim bin Muhammad rahimahullah. Kedudukannya tinggi, ilmunya luas, dan para ulama memberikan kesaksian tentang keutamaannya.

Bagi ulama salaf, kalimat “saya tidak tahu” bukanlah aib seorang alim. Yang mereka khawatirkan bukanlah terlihat tidak mengetahui, tetapi mengatakan tentang agama Allah sesuatu yang tidak mereka ketahui. Mereka memahami bahwa setiap jawaban adalah amanah, dan setiap fatwa akan dimintai pertanggungjawaban.

Semakin dalam ilmu seseorang, semestinya ia semakin mengenal batas ilmunya. Ada perkara yang ia ketahui, lalu ia sampaikan; ada yang masih samar, lalu ia tahan; dan ada yang memang tidak ia ketahui, lalu dengan tenang ia mengatakan, “Saya tidak tahu.”

Al-Qāsim bin Muhammad bukanlah satu-satunya ulama yang berani mengatakan “saya tidak tahu”. Dalam perjalanan para ulama terdahulu, kita akan menemukan orang-orang yang jauh lebih dikenal keluasan ilmunya, tetapi kalimat “لا أدري — saya tidak tahu” tetap menjadi bagian dari majelis mereka.

Sebab bagi mereka, ketidaktahuan bukanlah sesuatu yang memalukan. Berbicara tanpa ilmu, itulah yang mereka takutkan.

[Bersambung]

***

Penulis: Dimas Setiaji

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Dimas Setiaji

Dimas Setiaji

Artikel Terkait

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 7): Fokus Bekerja dengan Baik

oleh Glenshah Fauzi
16 Oktober 2026
0

Resep kepemimpinan hebat adalah fokus bekerja dengan baik Jangan sampai ada sesuatu yang menyibukkanmu di luar urusan kepemimpinan. Karena seorang...

Di Tempat Umum, Kita Tidak Sendirian

oleh Mochammad Wibisono
12 Oktober 2026
0

Bayangkan kita sedang duduk di ruang tunggu. Seseorang memutar video dari ponselnya dengan suara keras. Ia tampak menikmati tayangan itu,...

Belajar Mencari Rezeki Ala Para Sahabat Nabi

oleh Muhammad Insan Fathin
6 Oktober 2026
0

Kalau kita bayangkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang muncul di kepala kebanyakan orang mungkin sosok yang sepanjang hari...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan bahwa Anda manusia: 2   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah