Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 5): Menjauhi Majelis Kebatilan, Mengagungkan Firman Allah, dan Perhatian dalam Berdoa

Chrisna Tri Hartadi, A. Md. oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
30 Oktober 2025
di Akhlak dan Nasihat
Ibadurrahman
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Menjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaran
  • Mengagungkan firman Allah dan mengamalkannya
  • Perhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah

Menjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaran

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menghadiri (memberikan) persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)

Salah satu akhlak ‘ibadurrahman dan keindahan sifat mereka ialah bahwa mereka selalu menjauhkan diri dari majelis yang dipenuhi kemungkaran, yang isinya hanyalah kebatilan dan ucapan yang Allah larang. Ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ

“Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu, ..” (QS. Al-Furqan: 72)

Maksudnya, mereka tidak menghadiri majelisnya, tidak mendatanginya, dan tidak berkumpul bersama para pelakunya.

Yang termasuk dalam cakupan ayat tersebut adalah majelis-majelis yang isinya hanya seputar maksiat dan dosa saja, seperti gosip (gibah), adu domba (namimah), mengejek atau merendahkan (kehormatan) orang lain, kedustaan, nyanyian, menampakkan atau mempertontonkan maksiat (terang-terangan), serta hal-hal keji lainnya yang seringkali ditayangkan di televisi, smartphone (HP), dan media lainnya.

Termasuk juga dalam ayat di atas adalah majelis-majelis yang menggencarkan atau menyebarkan pemikiran sesat dan menyimpang, kerusakan pemikiran, dan amalan sesat yang biasanya dipopulerkan oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Termasuk juga perayaan-perayaan orang-orang musyrik maupun acara khusus mereka. Seorang muslim tidak boleh menghadirinya, apalagi memberi ucapan selamat atau ikut bergembira dengan diadakannya perayaan itu.

Maka, semua yang telah disebutkan di atas termasuk dalam maksud ayat tersebut. Oleh karenanya, para ulama salaf menafsirkan makna ‘az-zūr’ dalam berbagai macam ungkapan untuk menjelaskannya.

Setelah menyebutkan berbagai macam pendapat mengenai ayat tersebut dari para salaf as-shalih, Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,

فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يُقال: والذين لا يشهدون شيئًا من الباطل؛ لا شركًا، ولا غناءً، ولا كذبًا، ولا غيره، وكلُّ ما لَزِمَه اسمُ الزُّور؛ لأن الله عمَّ في وصفهم إيّاهم أنهم: لا يشهدون الزور

“Pendapat yang paling tepat dalam menafsirkannya adalah bahwa yang dimaksudkan (ayat) itu adalah mereka tidak menghadiri sesuatu pun yang di dalamnya ada kebatilan, baik itu kesyirikan, nyanyian, kedustaan, atau semisalnya, serta segala sesuatu yang termasuk dalam makna ‘az-zūr’ (kepalsuan atau kebatilan). Karenanya, Allah menyebut mereka (hamba-hamba Ar-Rahman) dengan sifat tidak menghadiri ‘az-zūr’.” (Lihat Jāmi‘ al-Bayān, 17: 523)

Hamba-hamba Ar-Rahman pastinya tidak mungkin menghadiri majelis-majelis tersebut dalam bentuk apa pun, dan yang paling utama ialah mereka tidak ingin terjatuh dalam (melakukan) kebatilan itu sendiri.

Pada potongan ayat tersebut, Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا

“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)

Maksudnya, mereka tidak bermaksud mendatanginya dan tidak pula sengaja mendekatinya. Akan tetapi, jika mereka kebetulan (terpaksa) melewati sebuah majelis yang penuh dengan kemungkaran atau kebatilan, maka mereka akan melewatinya dengan menjaga (kehormatan) diri darinya, tidak peduli dengannya, serta menjauhkan diri dari duduk bersama di dalamnya.

Mengagungkan firman Allah dan mengamalkannya

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)

Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala sangatlah agung dan mulia di hati ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman). Mereka tidak menolaknya maupun berpaling darinya, tetapi mereka justru mengagungkannya, memuliakannya, mendengarkannya dengan baik, dan mengambil manfaat darinya.

Pada firman Allah ‘Azza wa Jalla,

لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

“Mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)

Maksudnya, pada saat mereka mendengarkan firman Allah, mereka tidak bersikap sebagaimana orang tuli yang tidak bisa mendengar, maupun orang buta yang tidak bisa melihat. Sebaliknya, mereka mendengarkan dengan baik (sungguh-sungguh), mengambil pelajaran (manfaat), lalu mengamalkan hukum dan petunjuk-Nya.

Qatadah bin Di‘amah rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini,

لَمْ يَصِمُّوا عَنِ الحَقِّ، ولَمْ يَعْمَوا فِيهِ، هُم قَومٌ عَقَلوا عن الله، فانتفعوا بما سَمِعوا من كتابِ الله

“Mereka tidak menutup telinga dari kebenaran dan tidak berpura-pura buta terhadapnya. Mereka adalah orang-orang yang mau memahami ajaran Allah, sehingga bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar dalam Kitab-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dalam Tafsir-nya, 8: 2740)

Allah ‘Azza wa Jalla mencela orang-orang yang bersikap menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Allah dan petunjuk-Nya. Kesombongan tersebut akan menyeretnya kepada dosa sehingga ia terus-menerus berada dalam kebatilan. Allah mengancamnya dengan azab neraka Jahanam. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ

“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, kesombongan dirinya mendorongnya terus berbuat dosa. Maka cukuplah (balasan) baginya neraka Jahanam, dan sungguh, neraka itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ، فَيَقُولُ: عَلَيْكَ نَفْسُك

“Sesungguhnya ucapan yang paling Allah benci adalah saat seseorang berkata kepada yang lainnya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, lalu ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri’.” (HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10619, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2598)

Perhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)

Di antara kesempurnaan sifat para hamba Ar-Rahman adalah perhatian mereka terhadap doa. Mereka sangat bergantung kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlindung kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan semua kebutuhan serta urusan agama maupun dunia mereka hanya mereka harapkan dari Allah Ta’ala semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.

Kemudian ketika berdoa, mereka sangat bersemangat dalam berdoa dengan doa-doa yang penuh dengan faidah dan sangat bermanfaat. Misalnya, mereka berdoa,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Doa ini termasuk doa yang paling lengkap (faidahnya) dan paling bermanfaat. Di dalamnya terkandung permohonan seorang hamba agar hatinya merasa bahagia (tenang dan nyaman) dengan keluarga yang saleh, yaitu pasangan dan anak-anak yang baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, kehidupan, senantiasa berbakti kepada orang tua, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.

Kemudian, dalam doa mereka,

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”, mengandung permohonan agar diri mereka terlebih dulu dibenahi dan diperbaiki sehingga bisa menuntun dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain.

Karena seseorang tidak akan bisa menjadi suri teladan dan pemimpin yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, jika dirinya sendiri belum meneladani orang-orang bertakwa sebelum dirinya. Ia harus terlebih dulu menanamkan kebaikan pada dirinya, berusaha sungguh-sungguh meraih sifat-sifat yang baik dan mulia tersebut. Pada saat itulah, orang-orang yang bertakwa akan bersemangat untuk meneladani dan mengikuti dirinya, serta mengambil manfaat dari bimbingan dan petunjuknya.

Oleh karena itu, setiap muslim sepantasnya bersemangat untuk senantiasa mengamalkan dan sering melafalkan doa ini, agar ia memperoleh kebaikan besar yang terkandung di dalamnya.

[Selesai]

Kembali ke bagian 4 Mulai dari bagian 1

***

Penerjemah: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 23–29.

ShareTweetPin
Chrisna Tri Hartadi, A. Md.

Chrisna Tri Hartadi, A. Md.

- Alumnus Teknik Elektro UGM - Alumnus Ma'had Umar bin Khatthab - Alumnus Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta - Alumnus I'dad Lughawy HALBA (Halaqah Bahasa Arab) - Mahasiswa Islamic Study IOU - Editor Radio Muslim

Artikel Terkait

Merenungi Usia yang Tak Pernah Kembali

oleh Fauzan Hidayat
11 Agustus 2026
0

Pernahkah Anda berdiri di depan cermin, lalu tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda? Lihatlah...

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 1): Wasiat Thahir bin Al-Husain

oleh Glenshah Fauzi
7 Agustus 2026
0

Politik merupakan permasalahan yang amat pelik, tetapi memiliki urgensi sangat tinggi. Ia menjadi struktur tatanan kehidupan manusia. Hal sepenting ini...

Matang Bersama Al-Qur’an di Usia Empat Puluh

oleh Fauzan Hidayat
3 Agustus 2026
0

Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang telah menetapkan usia 40 tahun sebagai masa kematangan seorang hamba. Selawat dan salam...

Artikel Selanjutnya
Penjelasan Kitab Ta'jilun Nada

Penjelasan Kitab Ta'jilun Nada (Bag. 26): Al-Amtsilah Al-Khomsah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 2   +   3   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah