Fatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi
Pertanyaan:
Apakah dianjurkan untuk menyegerakan penyerahan mahar kepada pihak perempuan? Dan apakah boleh menundanya?
Jawaban:
Iya, dianjurkan untuk menyegerakan penyerahan mahar kepada pihak perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَن تَنكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ
“Dan tiada dosa atasmu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya.” (QS. Al-Mumtahanah: 10)
Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
التَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ
“Carilah (mahar), meskipun hanya berupa cincin dari besi.”
Juga berdasarkan hadis yang dikeluarkan oleh An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,
تَزَوَّجْتُ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْنِ بِي، قَالَ: أَعْطِهَا شَيْئًا، قُلْتُ: مَا عِنْدِي مِنْ شَيْءٍ، قَالَ: فَأَيْنَ دِرْعُكَ الْحُطَمِيَّةُ؟ قُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، قَالَ: فَأَعْطِهَا إِيَّاهُ
“Dahulu saat saya akan menikahi Fathimah radhiyallahu ‘anha, saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, tolong nikahkan aku dengan Fatimah.’ (Dalam riwayat lain, ketika Ali hendak menyetubuhinya.) Beliau bersabda, ‘Baik, berilah dia sesuatu.’ Saya berkata, ‘Saya tidak memiliki sesuatu.’ Beliau bersabda, ‘Di manakah baju zirahmu yang anti pedang itu?’ Saya menjawab, ‘Ia ada padaku.’ Beliau bersabda, ‘Berikan kepadanya.’”
Selain itu, mahar itu dinilai sebagai utang pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Sedangkan utang itu dianjurkan untuk segera dilunasi.
Adapun apakah boleh menunda atau mengakhirkan penyerahan mahar, maka iya (diperbolehkan). Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
لاَّ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن طَلَّقْتُمُ النِّسَاء مَا لَمْ تَمَسُّوهُنُّ أَوْ تَفْرِضُواْ لَهُنَّ فَرِيضَةً
“Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya.” (QS. Al-Baqarah: 236)
Ayat ini menunjukkan bahwa boleh menunda penyerahan mahar setelah akad nikah. Demikian juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ
“Aku nikahkan engkau dengan wanita ini, dengan (mahar) hafalan Al-Quran yang engkau miliki.”
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata di Majmu’ Al-Fatawa, “Yang lebih baik adalah menyegerakan penyerahan mahar seluruhnya sebelum menyetubuhi istri jika hal itu memungkinkan. Adapun jika menyegerakan sebagian mahar dan menunda sebagian yang lain, hal itu diperbolehkan.”
Baca juga: Hak Mendapatkan Mahar dan Kewajiban Istri yang Ditinggal Mati Suami
***
@Unayzah, 14 Syawal 1446/ 12 April 2025
Penerjemah: M. Saifudin Hakim
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari Ahkaamun Nikah waz Zifaf, hal. 85-86.




