Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Dampak Ilmu yang Tidak Bermanfaat bagi Seorang Muslim

Chrisna Tri Hartadi, A. Md. oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
2 Oktober 2024
di Akhlak dan Nasihat
Ilmu yang Tidak Bermanfaat
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Hati menjadi tidak khusyuk
  • Jiwa senantiasa tidak merasa puas
  • Doa-doa tidak dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala
  • Penutup

Betapa banyak manusia menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya, mengeluarkan harta yang banyak untuk menempuh suatu jalan mencari ilmu dan mendalaminya. Akan tetapi, ketika ia mendapatkannya justru membuat ia semakin jauh dari Allah, semakin ia tamak dengan dunia, dan tidak ada manfaat yang bisa diambil darinya. Ini menunjukkan ilmunya tidaklah bermanfaat sama sekali.

Tanda bahwa ilmu itu bermanfaat adalah ilmu tersebut masuk ke dalam hati manusia, yang kemudian menumbuhkan rasa takut, ketenangan, ketundukkan, pasrah, dan mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini sebagaimana definisi yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah,

“Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menetap dalam hati (manusia), yang menumbuhkan rasa tenang, takut, tunduk, merendahkan, dan mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah.” (Kitab Al-Khusyu’ fis Shalaah, hal. 16)

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menyebutkan, “Ilmu adalah sesuatu yang dibangun di atasnya dalil. Dan ilmu yang bermanfaat adalah sesuatu yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Terkadang ada ilmu yang bukan berasal dari Rasulullah, melainkan ilmu duniawi yang bermanfaat, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian, dan ilmu perniagaan” (Majmu’ Al-Fatawa, 6: 388; 13: 136)

Sebaliknya, ketika ilmu itu tidak menumbuhkan ketenangan, rasa takut, dan ketundukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka bisa dipastikan bahwa ilmu itu tidaklah bermanfaat sama sekali. Dan di antara dampak dari ilmu yang tidak bermanfaat, yaitu:

Hati menjadi tidak khusyuk

Hati yang tidak merasakan ketenangan, ketundukan, dan nikmatnya beribadah kepada Allah adalah buah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Yang demikian membuat seseorang akan meremehkan perintah-perintah Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya. Ini disebabkan karena hatinya tidak terpaut lagi kepada Allah, melainkan mengikuti hawa nafsu dan kesenangan dunianya saja.

Sebab-sebab yang sangat mempengaruhi hati seseorang menjadi tidak khusyuk adalah terlalu berangan-angan dengan gemerlapnya dunia, lalai akan adanya akhirat, jarang berdoa, dan berzikir kepada Allah, dan enggan membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya. Di mana sebab-sebab tersebut Allah ‘Azza Wajalla sebutkan dalam firman-Nya,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Dalam sebuah hadis yang agung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَوَّل مَا يُرْفَعُ مِن هَذِهِ الأُمَّةِ الْخُشُوعُ حَتَّى َلَا تَرَى فِيهَا رَجُلًا خَاشِعًا

“Yang pertama kali diangkat dari umatku adalah khusyuk, sehingga engkau tidak akan melihat seorang pun yang khusyuk.” (HR. Thabrani)

Jiwa senantiasa tidak merasa puas

Inilah sifat tercela yang ada dalam diri seseorang, jiwa yang merasa tidak pernah puas, jiwa yang tidak pernah kenyang dengan apa yang ia punya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

“Binasalah hamba dinar, dirham, pakaian tebal, dan sutra. Jika diberi, ia rida. Namun, jika tidak diberi, ia pun tidak rida.” (HR. Bukhari no. 6435)

Di dalam hadis yang lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ مِثْلَ وَادٍ مَالاً لأَحَبَّ أَنَّ لَهُ إِلَيْهِ مِثْلَهُ ، وَلاَ يَمْلأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima tobat bagi siapa saja yang ingin bertobat.” (HR. Bukhari no. 6437)

Kurangnya rasa cukup (qana’ah), zuhud, dan syukur dalam diri seseorang adalah faktor utama yang membuat ia terlena dengan hawa nafsunya yang condong pada haus akan harta dan kekuasaan. Inilah sifat dasar jiwa manusia yang tidak merasa puas, kecuali mereka yang senantiasa diberi taufik oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Baca juga: Doa Memohon Ilmu, Rezeki, dan Amal yang Diterima

Doa-doa tidak dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Dan di antara dampak dari ilmu yang tidak bermanfaat lainnya adalah doa-doa kita tidak diijabah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengapa demikian? Karena ilmu yang tidak bermanfaat akan membuat hati lalai dan terkesan terburu-buru. Berdoa dengan kondisi hati yang lalai dan terburu-buru akan membuat tidak terkabulnya doa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لم يَعْجَلْ، يقول: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama tidak terburu-buru, yaitu mengatakan, ‘Aku telah berdoa, namun tidak juga terkabul.’ ” (HR. Bukhari no. 6340)

Selain itu, sebab-sebab lain yang menghalangi terkabulnya doa adalah seseorang tidak berusaha menjalankan hal yang menjadi doa dan harapannya. Ia ingin punya banyak harta dan rezeki, alih-alih bekerja keras, ia justru bermalas-malasan dan enggan berusaha untuk meraih keinginannya. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sikap yang demikian sebagaimana sabda beliau,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah pada apa-apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan pada Allah, dan janganlah kamu lengah/putus asa.” (HR. Muslim no. 2664)

Penutup

Di sini, kita memahami alasan mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya doa perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)

Pada doa tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga meminta perlindungan dari tiga perkara tercela lainnya, yang ketiganya itu merupakan dampak dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Semoga Allah ‘Azza Wajalla senantiasa menganugerahkan kita ilmu yang bermanfaat, menjauhkan kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan menjadikan kita semakin takut dan tunduk kepada-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Baca juga: Nasihat untuk Penuntut Ilmu Pemula

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi, A.Md.

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin
Chrisna Tri Hartadi, A. Md.

Chrisna Tri Hartadi, A. Md.

- Alumnus Teknik Elektro UGM - Alumnus Ma'had Umar bin Khatthab - Alumnus Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta - Alumnus I'dad Lughawy HALBA (Halaqah Bahasa Arab) - Mahasiswa Islamic Study IOU - Editor Radio Muslim

Artikel Terkait

Menggunakan ‘Privilege’ untuk Ketaatan (Bag. 1)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
21 Juli 2026
0

Dalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh...

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Artikel Selanjutnya
Flexing

"Flexing", Salah Satu Karakter Qarun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah