Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

“Flexing”, Salah Satu Karakter Qarun

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
2 Oktober 2024
di Akhlak dan Nasihat
Flexing
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Flexing, gambaran orang yang terlalu bangga dengan dunia
  • Apa beda “flexing” dengan “at-tahadduts bin ni’mah”?

Istilah “flexing”, mungkin istilah yang belum lama kita dengar. Istilah ini merujuk pada sikap atau perbuatan memamerkan atau menunjukkan kenikmatan duniawi yang dimiliki oleh seseorang, misalnya mobil mewah, jam tangan mewah, tas mewah, atau sejenis itu, yang sulit dibeli oleh orang biasa pada umumnya.

Flexing, gambaran orang yang terlalu bangga dengan dunia

Tidak samar lagi bahwa flexing merupakan gambaran seseorang yang bangga dengan pencapaian duniawi. Dan secara umum, bangga dengan dunia itu termasuk perbuatan tercela, sebagaimana celaan Allah Ta’ala di dalam Al-Quran,

وَفَرِحُواْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مَتَاعٌ

“Mereka berbangga dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’d: 26)

Ketika Allah menceritakan tentang Qarun, Allah mengisahkan sebuah nasihat yang disampaikan oleh orang saleh dari kalangan Bani Israil kepada Qarun,

لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

“(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash: 76)

Allah ceritakan bahwa Qarun sangat bangga dengan harta dan kemewahannya di depan masyarakat di sekitarnya,

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia berkata, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Qashash: 78)

Sehingga, fenomena bangga dengan kenikmatan duniawi adalah sesuatu yang tercela dan buruk dalam syariat kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri melarang hal itu, dan memberikan ancaman yang keras,

مَنْ شَرِبَ وفي رواية: إنَّ الذي يَأكُل أو يَشرَب في إناءٍ من ذهبٍ أو فضةٍ، فإنما يُجَرْجِرُ في بطنه نارًا مِن جهنَّم

“Siapa yang minum (dalam sebuah riwayat: Sesungguhnya orang yang makan dan minum) di wadah yang terbuat dari emas atau perak, maka hakikatnya dia sedang menuangkan api neraka Jahanam ke dalam perutnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang bermewah-mewahan sampai melebihi batas, itu masuk dalam kategori dosa besar, karena ada ancaman khusus di akhirat kelak. Bentuk kemewahan yang disebutkan dalam hadis ini adalah seseorang menggunakan wadah yang terbuat dari emas untuk makan dan minum. Para ulama menjelaskan hikmah larangan ini, yaitu hal ini bisa membuat sedih orang-orang miskin, mentang-mentang orang itu super kaya atau baru berkuasa, sampai-sampai emas digunakan sebagai wadah minum. Padahal di sisi lain, masih banyak orang-orang miskin seperti mereka yang sangat butuh makan. Dengan kata lain, perbuatan tersebut dilarang karena terkesan merendahkan orang lain, yaitu orang-orang miskin.

Baca juga: Nasihat untuk Saudaraku yang Hobi “Flexing”

Apa beda “flexing” dengan “at-tahadduts bin ni’mah”?

Orang-orang yang hobil flexing bisa saja beralasan bahwa tindakan mereka itu dalam rangka menyampaikan atau menceritakan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita (at-tahadduts bin ni’mah), sebagaimana ayat,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh-Dhuha: 11)

Alasan lainnya adalah untuk memotivasi orang lain agar bekerja keras dan fokus di dunia dan tidak mudah putus asa dalam meraih pencapaian duniawi.

At-tahadduts bin ni’mah memang salah satu bentuk bersyukur kepada Allah Ta’ala terhadap nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. Abu Nadhrah rahimahullah mengatakan,

كان المسلمون يرون أن من شُكْرِ النعم أن يحدّثَ بها

“Kaum muslimin sepakat bahwa di antara bentuk mensyukuri nikmat adalah dengan menceritakan nikmat tersebut (yaitu, at-tahdduts bin ni’mah).” (Tafsir Ath-Thabari, 24: 489)

Jadi, perintah dalam surah Adh-Dhuha ayat 11 adalah perintah untuk mensyukuri nikmat, dan salah satu bentuknya adalah at-tahadduts bin ni’mah. Lalu, apa yang dimaksud dengan at-tahadduts bin ni’mah? At-tahadduts bin ni’mah adalah menampakkan kenikmatan tersebut sebagai bentuk syukur kepada Dzat yang memberi, yaitu Allah Ta’ala. Dalam at-tahadduts bin ni’mah, seseorang lebih banyak memuji Dzat yang memberi, tujuannya adalah untuk mengagungkan Dzat yang memberi (Allah). Artinya, seseorang menyampaikan nikmat dengan fokus untuk menunjukkan bahwa semua itu dia raih adalah semata-mata karena kemudahan, pertolongan, dan nikmat dari Allah Ta’ala, bukan karena kemampuan dia sendiri. Misalnya, ketika seseorang memiliki suatu pencapaian, dia mengatakan, “Alhamdulillah, karena kemudahan dan pertolongan dari Allah, saya begini dan begitu … “ Ketika dia bercerita, dia lebih banyak memuji Allah Ta’ala. Inilah bentuk at-tahadduts bin ni’mah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut.

Adapun flexing, dia lebih fokus kepada kenikmatan tersebut dan merasa bahwa dia lebih hebat daripada orang lain. Dia lebih membanggakan materi. Selain itu, ketika dia menceritakan atau menunjukkan nikmat duniawi tersebut, sedikit pun tidak ada maksud untuk mengagungkan Allah Ta’ala. Inilah yang dimaksud dengan orang yang pamer atau berbangga dengan dunia (al-fakhru bid dun-ya). Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)

Yaitu, orang-orang yang merasa lebih tinggi status sosialnya dengan kenikmatan dan kemewahan duniawi tersebut. Inilah hakikat pamer (flexing), yang semua ini kembali kepada hati setiap orang. Dan kita tidak tahu kondisi hati dan batin masing-masing orang yang melakukan flexing.

Apalah artinya mempunya kekayaan, namun tidak memiliki sepeser pun jasa dan manfaat untuk Islam dan kaum muslimin secara umum. Orang lain, terutama orang-orang miskin, hanya bisa melihat, yang justru hanya akan menimbulkan kebencian masyarakat kepadanya. Hal ini sebagaimana fenomena yang kita lihat dewasa ini. Kalau sampai orang-orang tersebut benci atas flexing yang dilakukan oleh orang-orang kaya, maka yang perlu diwaspadai dan ditakutkan adalah doa buruk dari mereka, misalnya masyarakat berdoa agar Allah membinasakan dan menghancurkan hartanya. Apalagi jika harta tersebut ternyata adalah fasilitas dari negara atau bahkan hasil gratifikasi.

Demikianlah pembahasan ini untuk menjadi bahan renungan bagi kita semua, semoga bermanfaat.

Baca juga: 4 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Berutang

***

@27 Rabiul awal 1446/ 1 Oktober 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Disarikan dari penjelasan Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullah, di tautan berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=_Uhg_TpR7Vo&t=3s

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Artikel Selanjutnya
Jalan Mudah Menuju Surga

Teks Khotbah Jumat: Jalan Mudah Menuju Surga

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah