Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mencintai Nabi dengan Cara yang Tepat

Fauzan Hidayat oleh Fauzan Hidayat
16 Oktober 2022
di Akhlak dan Nasihat
mencintai nabi
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Balasan cinta kepada Nabi
  • Keutamaan mencintai Nabi
  • Mencintai Nabi dengan cara yang tepat
  • Bukti cinta kepada Nabi

Mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah perintah Allah Ta’ala yang wajib ditaati oleh setiap muslim. Tentunya, perintah mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini sudah menjadi hal yang dimaklumi dan dipatuhi oleh umat Nabi dari sejak zaman turunnya risalah hingga akhir zaman.

Karena cinta atas Nabi merupakan perintah syariat, maka sudah barang tentu melaksanakan perintah tersebut menjadi sebuah ibadah yang agung yang mengandung limpahan pahala dari Allah Ta’ala. Oleh karenanya, setiap muslim mesti memahami betapa rasa cinta terhadap kekasih Allah Ta’ala tersebut harus senantiasa dijaga sebagai bukti umat yang benar-benar menginginkan syafaatnya di hari akhir kelak.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌbgvty6 حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu. (Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Balasan cinta kepada Nabi

Allah Ta’ala menjamin rahmat dan balasan kebaikan bagi hamba-Nya yang menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan. Maka, mencintai seseorang yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk meneladaninya adalah perbuatan yang sungguh sangat mulia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ رواه البخاري

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga kalian menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Iman, Bab Hubbur Rasul minal Imaan, no. 14)

Keutamaan mencintai Nabi

Saudaraku, merupakan hal yang sangat manusiawi jika kita mencintai orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengan kita, seperti orang tua, istri, maupun anak yang senantiasa menemani di sepanjang hidup yang kita jalani.

Lantas, mengapa ada perintah untuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang harus kita miliki lebih daripada rasa cinta kepada orang-orang terdekat yang membutuhkan kasih sayang dan cinta kita?

Renungkanlah! Betapa banyak orang-orang terdahulu yang dengan cintanya terlalu besar kepada mereka yang berada di dekatnya seperti anak dan istri, kemudian membuatnya lalai daripada menyembah Allah Ta’ala?

Saking asyiknya bercengkrama dengan anak dan istri, tidak sedikit orang yang mengabaikan waktu salat. Karena keinginan untuk membahagiakan orang tua, rela menghalalkan segala cara dengan melakukan korupsi atau perbuatan terlarang demi mendapatkan uang. Karena ingin membeli rumah dan kendaraan, sebagian manusia rela menggadaikan iman dengan merelakan diri bergelut dengan dunia ribawi. Wal ‘iyadzu billah.

Namun, perhatikanlah! Jika kita mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan cara yang benar, sungguh kebahagiaan duniawi dan ukhrawi niscaya akan diperoleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari no. 16,  Muslim no. 43/67, At-Tirmidzi no. 2624, An-Nasa’i VIII/96, dan Ibnu Majah no. 4033)

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Baca Juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang

Mencintai Nabi dengan cara yang tepat

Masya Allah! Di sini, Allah Ta’ala memberikan kepada kita petunjuk tentang bagaimana mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan benar. Jalan yang harus kita tempuh dalam rangka merealisasikan cinta itu adalah dengan ittiba’ (mengikuti sunah/petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegang teguhlah dengan sunahku dan sunah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Bukhari no. 3093, Muslim no. 1759, dan Abu Daud no. 2970)

Berpegang teguh pada sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hal yang semestinya terus dipertahankan. Begitu pula dengan sunah para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, hendaklah kita jadikan jalan hidup, baik dalam perkara-perkara duniawi terlebih urusan ukhrawi.

Bukti cinta kepada Nabi

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan berkata,

“Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami maksud dari seseorang yang mencintai suatu kaum yang tidak pernah berjumpa dengannya sekalipun.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

المرء مع من أحب

“Seseorang itu akan bersama siapa yang ia cintai”. (HR. Bukhari no. 6169 dan 6170, Muslim no. 2741)

Al Mubarakfuri rahimahullah berkata, “Jika seseorang mencintai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka kendatipun amalannya tidak sebaik yang dilakukan oleh kaum tersebut sebab keterkaitan hati dengan mereka. Kiranya rasa cinta itu memotivasi agar berbuat serupa.” (Tuhfatul Ahwadzi, 7: 53)

Oleh karenanya, makna cinta yang sesungguhnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengamalkan apa yang diamalkan oleh beliau. Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ibadah. Adapun ibadah wajib dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana sabdanya,

مَن عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيهِ أَمرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Saudaraku! Buktikanlah cintamu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan cara yang tepat. Cara yang secara gamblang telah ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu beramal dan beribadah sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam

Baca Juga: 

  • Tidak Merayakan Maulid, Tidak Cinta Nabi?
  • Antara Cinta Nabi dan Perayaan Maulid Nabi (Bag. 3)

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel: www.muslim.or.id

ShareTweetPin3
Fauzan Hidayat

Fauzan Hidayat

- Alumni Mahad Ilmi Yogyakarta (2020) - S2 Universitas Gadjah Mada - D4 Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Artikel Terkait

Belajar Mencari Rezeki Ala Para Sahabat Nabi

oleh Muhammad Insan Fathin
6 Oktober 2026
0

Kalau kita bayangkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang muncul di kepala kebanyakan orang mungkin sosok yang sepanjang hari...

Muslim dan Kebiasaan Membaca

oleh Fauzan Hidayat
4 Oktober 2026
1

Bismillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang telah mengajarkan...

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 6): Karakter Pejabat Publik Ideal dan Supremasi Hukum

oleh Glenshah Fauzi
3 Oktober 2026
0

Kepemimpinan itu memiliki banyak aspek dengan kompleksitas tinggi. Salah satu pondasi penting dalam kepemimpinan ialah kuatnya hukum dan kepercayaan pada...

Artikel Selanjutnya
cinta syirik

Cinta, Sumber Terjadinya Syirik

Komentar 1

  1. Moh.suharyono. says:
    4 tahun yang lalu

    Alhamdullilah dg adax tulisan ini .,sy yg tadix kurang paham skrg menjadi paham justru lebih paham.barakallah

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 6   +   3   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah