Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Membahas Agama Tidak Boleh dengan Perkataan Cabul

Yulian Purnama, S.Kom. oleh Yulian Purnama, S.Kom.
1 November 2021
di Manhaj
Perkataan Cabul

Perkataan Cabul

Share on FacebookShare on Twitter

Perkataan vulgar, jorok, dan cabul tidak diperbolehkan sama sekali dalam membahas apa pun. Dan dalam masalah agama, lebih terlarang lagi. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ليسَ المؤمنُ بالطَّعَّانِ ولا اللَّعَّانِ ولا الفاحشِ ولا البَذيءِ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela atau suka melaknat atau suka berkata kotor atau suka berkata-kata cabul” (HR. Tirmidzi no. 1977, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Al bazi’ dalam hadits di atas maknanya orang yang suka mengungkapkan masalah-masalah vulgar dengan kata-kata yang lugas. Al Kafawi rahimahullah mengatakan,

البذاء هو التعبير عن الأمور المستقبحة، بالعبارات الصريحة

“Al baza’ adalah mengungkapkan perkara-perkara yang dianggap tabu (untuk diungkapkan), dengan bahasa yang lugas (terang-terangan)” (Al Kulliyat, hal. 243).

Seperti mengungkapkan urusan ranjang, membahas urusan kemaluan dan aurat, dengan bahasa yang terang-terangan.

Walaupun pembahasan yang dibahas isinya benar sekalipun, jika menggunakan kata-kata atau gestur yang cabul, tetap terlarang berdasarkan hadits di atas. Al Munawi rahimahullah mengatakan,

البذاء هو الفحش والقبح في المنطق، وإن كان الكلام صدقًا

“Al baza’ adalah ucapan kotor dan dianggap tabu, walaupun isinya benar” (At Tawaqquf ‘ala Muhimmatit Ta’arif, hal. 73).

Setiap orang harus memiliki rasa malu yang mencegah dia untuk melakukan perkara-perkara cabul. Karena malu adalah bagian dari iman. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

الإيمانُ بِضعٌ وستونَ شُعبةً ، والحَياءُ شُعبةٌ منَ الإيمانِ

“Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Sebaliknya, sifat suka perkara cabul dan suka berkata cabul adalah ciri kemunafikan. Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الحياءُ والعِيُّ شعبتانِ منَ الإيمانِ، والبذاءُ والبيانُ شعبتانِ منَ النِّفاقِ

“Malu adalah cabang dari keimanan, dan sifat al baza’ (cabul), dan bayan (retorika untuk membenarkan kekeliruan) adalah cabang dari kemunafikan” (HR. Tirmidzi no. 2027, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Baca Juga: Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah Tauhid

Bukan berarti tidak boleh membahas fikih yang terkait dengan urusan ranjang dan kemaluan, tetapi harus memperhatikan adab-adabnya. Di antaranya,

* Dengan bahasa yang sopan dan berwibawa.

* Berusaha menggunakan bahasa yang tidak lugas.

* Memperhatikan audiens, apakah layak untuk mendengarkan masalah tersebut?

* Dibahas sesuai kebutuhan bukan menjadi dagangan utama.

Sebagaimana hadits dari Ummu Sulaim radhiallahu ’anha, beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam,

يا رسولَ اللهِ ، إنَّ اللهَ لا يَستَحِي منَ الحقِّ ، فهل على المرأةِ غُسلٌ إذا احتَلَمَتْ ؟ فقال : ( نعمْ ، إذا رأتِ الماءَ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah itu tidak merasa malu dari kebenaran. Apakah wajib mandi bagi wanita jika dia mimpi basah? Rasulullah bersabda, “Ya, jika dia melihat air (mani)” (HR. Bukhari no. 6121 dan Muslim no. 313).

Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

يا أماه ! ( أو يا أم المؤمنين ! ) إن أرد أن أسألك عن شيء . وإن أستحييك . فقالت : لا تستحي أن تسألني عما كنت سائلا عنه أمك التي ولدتك . فإنما أنا أمك . قلت : فما يوجب الغسل ؟ قالت : على الخبير سقطت . قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إذا جلس بين شعبها الأربع ، ومس الختان الختان ، فقد وجب الغسل “

“Wahai Ibu (ibunya kaum mukminin), aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu, tapi aku malu. ‘Aisyah lalu berkata, ‘Jangan Engkau malu bertanya, jika Engkau bertanya kepada ibu yang melahirkanmu. Dan sesungguhnya aku ini ibumu juga. Abu Musa lalu berkata, ‘Bagaimana batasan jima’ yang mewajibkan mandi?’ ‘Aisyah berkata, ‘Engkau bertanya kepada orang yang tepat. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Jika seseorang lelaki duduk di antara empat anggota badan istrinya, lalu dua khitan saling bertemu, maka wajib mandi‘” (HR. Muslim no. 349).

Perhatikan, dalam hadits-hadits di atas dibahas masalah-masalah ranjang dan kemaluan. Namun, kata-kata yang digunakan semisal “jika ia melihat air”, “lelaki duduk di antara empat anggota badan istrinya”, atau “dua khitan saling bertemu”. Ini adalah bahasa-bahasa yang sopan dan halus serta tidak lugas.

‘Ala kulli haal, seorang yang berdakwah wajib memiliki adab yang tinggi dalam dakwahnya. Tidak sembarang menyampaikan, tidak sekedar yang penting isinya benar. Bukankah Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih bagus perkataannya daripada orang yang mendakwahkan manusia kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan bahwa aku adalah bagian dari orang-orang muslim” (QS. Fushilat: 33).

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.

Baca Juga:

  • Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah
  • Belajar Dulu atau Berdakwah?

***

Penulis: Yulian Purnama

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin2
Yulian Purnama, S.Kom.

Yulian Purnama, S.Kom.

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web Muslim.or.id dan Muslimah.or.id

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya
Syubhat Riba

Syubhat Pelaku Riba "Daripada Miskin Lebih Baik Melakukan Riba"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   3   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah