fbpx

Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag. 3): Najis dan Cara Menyucikannya

Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag. 3): Najis dan Cara Menyucikannya

Baca pembahasan sebelumnya Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag. 2): Thaharah

Sebagaimana telah dikemukakan dalam artikel sebelumnya tentang thaharah. Maka penting pula bagi kita untuk mengetahui secara terperinci tentang jenis najis/kotoran yang mesti kita bersihkan serta bagaimana tata cara menyucikannya yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai syarat sahnya shalat.

Untuk memudahkan pemahaman kita Syaikh Sa’id membagi najis ke dalam beberapa macam sesuai dengan nash yang sahih, di antaranya :

  1. Air kencing dan kotoran manusia

Terdapat beberapa jenis najis dari air kencing dan kotoran manusia yang umum kita temui. Secara umum pula cara menyucikannya dilakukan dengan membasuh dan menghilangkannya. Adapula yang diperinci seperti bekas kencing anak laki-laki dan anak perempuan. Jenis najis/kotoran ini dapat disucikan dengan cara diperciki dan disiram dengan air saja pada bagian yang terkena tanpa harus dibasuh dan diperas dengan tangan. [1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَول الغُلامِ يُنضَح وَبول الجَارِيةِ يُغْسَلُ و هَذَا مَا لَمْ يَطْعمَا فَإذَا طَعِمَا غُسِلَا جَمِيعًا

 “Bekas kencing anak laki-laki itu disucikan dengan diperciki, sedangkan bekas kencing anak perempuan dengan dicuci. Selama keduanya belum mengonsumsi makanan. Adapun bila sudah mengonsumsi makanan, harus dibasuh semuanya”. (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

  1. Ujung Pakaian Wanita

Islam mengajarkan umatnya segala lini kehidupan, termasuk di antaranya adalah ajaran tentang adab berpakaian. Khusus untuk muslimah, diatur pula sedemikian rupa tata cara perpakaian agar terjaga dan terlindungi dari fitnah yang dapat mencelakai diri dan agamanya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan tentang batasan pakaian wanita melalui fatwanya :

المشروع سترهما بالجوربين أو بإرخاء الثياب ، أرخت الثياب حصل المطلوب ولو ما كان هناك

“Disyariatkan menutup kedua kaki dengan kaus kaki atau dengan menjulurkan pakaian. Jadi pakaian dijulurkan hingga cukup untuk menutup kedua kaki jika tidak memakai kaus kaki”. [2]

Dengan demikian, pakaian wanita muslimah rentan terkena kotoran karena pakaian wanita disyariatkan untuk menutup kedua kakinya. Namun, kotoran tersebut akan secara otomatis disucikan oleh tanah di mana ia berjalan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahualaihi wa sallam :

 يُطْهَرُ مَا بَعْدَهُ

 “Ia disucikan oleh tanah berikutnya” (HR. at-Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah)

  1. Darah Haidh

Darah haidh juga termasuk dalam najis/kotoran yang mesti dibersihkan dengan cara mengusap dan membasuhnya dengan air. Rasulullah shallallahualaihiwasallam bersabda

 تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ وَتَنْضَحُهُ وَتصَلِّي فِيْهِ

 Menyikatnya, lalu menguceknya dengan air kemudian menyiramnya, dan baru setelah itu dibolehkan mengerjakan shalat dengan mengenakannya” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Wadi, Madzi dan Mani

Ketiga jenis najis ini merupakan cairan yang keluar dari kemaluan manusia dengan sebab dan kondisi yang berbeda serta masing-masing jenis beda pula cara menyucikannya.

Wadi merupakan cairan putih, pekat dan agak keruh keluar setelah buang air kecil. Wadi dapat disucikan cukup dengan membersihkan kemaluan kemudian berwudhu [3].

Sementara madzi adalah cairan putih, tipis dan sedikit kental yang keluar pada saat bercumbu atau memikirkan hal yang berkaitan dengan aktivitas bersetubuh. Madzi dapat dibersihkan dengan dicuci dan disiram dengan air setapak tangan ke pakaian yang terkena. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

 فَلْيَغْسِلْ ذَكَرَهُ وَالْأُنْثَيَيْهِ وَلْيَتَوَضَّأّ وُضُوْءَهُ لِلصَّلَاةِ

 “Maka hendaklah ia mencuci kemaluannya dan kedua buah dzakarnya kemudian berwudhu seperti wudhunya untuk mengerjakan shalat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun mani merupakan cairan yang keluar beserta rasa nikmat. Perbedaan antara mani dan wadi serta madzi adalah bahwa mani adalah suci, sedangkan madzi dan wadi merupakan najis. Namun, mani adalah hadats besar yang mengharuskan seseorang untuk mandi sebelum melaksanakan sholat. Pada dasarnya mani ini adalah suci [4]. Namun disunnahkan untuk mencucinya dalam keadaan basah dan mengeruknya dalam keadaan kering [5].

Baca Juga: Apakah Darah Termasuk Najis?

  1. Kencing dan Kotoran Binatang yang Tidak Boleh Dimakan dagingnya adalah Najis

Kencing dan kotoran binatang yang boleh dimakan dagingnya adalah suci. Hal itu didasarkan pada riwayat adanya perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat untuk meminum kencing unta [6]. Ibnu Hibban menukil keterangan Imam Abu Hatim,

“Para sahabat meletakkan sisa kotoran unta yang telah diperas, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendiamkan perbuatan mereka, dan tidak menyuruh mereka untuk mencuci bagian yang terkena kotoran di badan mereka, merupakan dalil bahwa kotoran hewan yang halal dimakan adalah suci”. [7]

Maka sebaliknya, kencing dan kotoran binatang yang tidak boleh dimakan merupakan najis yang mesti dibersihkan sebagaimana riwayat yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang beristijmar (bersuci dengan benda padat) dengan menggunakan kotoran, seraya bersabda : “Ini Najis” [8].

  1. Tiga Keadaan Najis yang terdapat di Pakaian, Badan atau Tempat ketika Shalat

Apabila di pakaian, badan atau tempat shalat terdapat najis. Maka terdapat tiga ketentuan [9]:

  1. Jika dia teringat adanya najis tersebut saat melakulan shalat, maka hendaklah ia melenyapkan atau membuang najis tersebut dengan syarat tidak terbuka auratnya. Shalatnya tetap sah.
  2. Jika najis tersebut tidak dapat dihilangkan dan adanya kekhawatiran akan terbukanya aurat. Agar dia menghentikan shalat, membersihkan najis tersebut dan mengulangi shalatnya.
  3. Jika telah selesai shalat kemudian dia baru teringat akan keberadaan najis tersebut maka shalatnya tetap sah.
  1. Khamr

Telah terang bagi kita sebuah ayat yang menyatakan bahwa khamr merupakan najis sebagaimana firman Allah Ta’ala :

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡسٞ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

 “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung”. (QS. Al-Ma’idah : 90)

Khamr yang umum diketahui di masyarakat kita adalah minuman keras yang berbahan alkohol. Sementara hal yang dititikberatkan disini adalah parfum yang beralkohol yang banyak menjadi perbincangan alot karena keberadaannya yang familiar di tengah-tengah umat.

Wallahu’a’lam, mengambil faedah dari beberapa pendapat ulama tentang pemakaian parfum berbahan alkohol maka pendapat yang lebih berhati-hati adalah menahan diri untuk tidak menggunakan parfum yang beralkohol. Sebagaimana kita bisa melihat dewasa ini banyak beredar di pasaran parfum non alkohol yang kiranya lebih aman sebagai bentuk waro’ kita kepada ketetapan Allah Ta’ala.

Baca Juga:

Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPA

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Lihat Kitab as-Syarhul Mumti (I/372)

[2] Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 7/259 selengkapnya dapat lihat di situs web berikut : http://fatawapedia.com/

[3] Lihat Kitab al-Mughni (I/233)

[4] Lihat Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim (II/197-199)

[5] Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha bahwa ia pernah berkata kepada seseorang yang mencuci pakaiannya: “Cukup bagimu untuk mencuci bagian yang terkena jika kamu melihatnya (mani tersebut -pen.). Jika tidak terlihat, percikkan air pada bagiannya sekitarnya, dan engkau pun telah melihat aku mengeruknya dari pakaian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam  lalu beliau mengerjakan shalat dengan mengenakannya”. (HR. Muslim)

[6] “Dari Anas bin Malik berkata, “Beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit. Beliau lalu memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

[7] Lihat Shahih Ibnu Hibban (4/233).

[8] Lihat Kitab “at-Thaharah” karya al-Bukhari Bab “al-Istithabah” No. 263

[9] Lihat Kitab “Shalatul Mu`min” Karya Syaikh Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani (17-18/621).

 

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. InsyaAllah, setiap artikel yang dibaca, bisa menjadi pahala untuk kita semua. Donasi sekarang.

🔍 Ebook Islami, Innamal A'malu, Tanda Tanda Hati Yang Sakit, Rukun Dan Syarat Jual Beli, Hadist Suami Menyakiti Istri

Print Friendly, PDF & Email

About Author

Leave a Reply