Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 2)

Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 1)

Dalam doa masalah juga terkandung doa ibadah

Dalam seri sebelumnya telah kami jelaskan sekilas bahwa seseorang yang berdoa dengan doa masalah, pada hakikatnya dia juga sedang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berdoa tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir [Al-Mu’min] [40]: 60)

Baca Juga: Doa Meminta Petunjuk, Ketaqwaan, Iffah dan Kekayaan

Dalam ayat di atas, maksud dari firman Allah Ta’ala,

ادْعُونِي

Mencakup doa masalah dan doa ibadah. Sehingga terjemah yang lebih baik adalah, “Berdoa dan beribadahlah kepada-Ku.”

Sehingga maksud dari firman Allah Ta’ala,

أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Maksudnya adalah Aku perkenankan (kabulkan) permintaan atau permohonan kalian dan Aku terima amal ibadah kalian. Artinya, lafadz doa tersebut mencakup doa ibadah dan doa masalah.

Lalu di akhir ayat Allah Ta’ala mengatakan,

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي

Artinya, Allah Ta’ala menyebut hal itu dengan “ibadah”. Dengan kata lain, “doa masalah” dan “doa ibadah” yang Allah Ta’ala sebutkan di awal ayat itu Allah Ta’ala sebut keduanya dengan “ibadah”.

Oleh karena itu, seseorang yang berdoa meminta kepada Allah Ta’ala dengan doa masalah, pada hakikatnya dia sedang beribadah kepada Allah Ta’ala. Orang yang berdoa meminta kepada Allah Ta’ala, agar keinginannya terkabul atau agar terhindar dari bahaya, akan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala, meskipun doa tersebut tidak Allah Ta’ala kabulkan karena sebab-sebab tertentu.

Seseorang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk berdoa dengan doa masalah, sungguh dia telah mendapatkan nikmat yang sangat besar. Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه

“Sungguh aku tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham (taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)

Baca Juga: Derajat Hadits Mengusap Wajah Setelah Berdoa

Lafadz “doa” dalam Al-Qur’an dan yang dimaksud hanyalah “doa permintaan”

Dalam Al-Qur’an, juga terdapat lafadz “doa”, namun yang dimaksud terbatas pada doa permintaan. Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh sebab itu tolonglah (aku).” (QS. Al-Qamar [54]: 10)

“Doa” dalam ayat di atas hanya dimaknai dengan doa permintaan, karena adanya permohonan “tolonglah aku.”

Baca Juga: Mendoakan Diri Sendiri Sebelum Orang Lain

Doa ibadah dan doa permintaan sama-sama membutuhkan keikhlasan

Allah Ta’ala berfirman,

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Ghafir [40]: 14)

Lafadz “doa” dalam ayat di atas mencakup doa ibadah dan doa permintaan. Sehingga yang dimaksud dengannya adalah ikhlaskanlah untuk Allah Ta’ala ketika kalian meminta hajat atau kebutuhan-kebutuhan kalian dan ikhlaskanlah untuk Allah Ta’ala semua amal kebaikan dan ketaatan yang kalian kerjakan.

Maka dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk ikhlas dalam doa permintaan, yaitu hanya meminta dan memohon kepada Allah Ta’ala dalam perkara-perkara yang hanya Allah Ta’ala saja yang mampu, misalnya meminta kecukupan rizki dan kesembuhan dari penyakit. Di samping itu, Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk ikhlas dalam doa ibadah, yaitu hanya beribadah dan menyembah Allah Ta’ala dan tidak menujukan satu pun aktivitas ibadah kepada selain Allah Ta’ala.

Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.

Baca Juga:

[Selesai]

***

@Jogjakarta, 5 Jumadil Awwal 1440/ 11 Januari 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

Referensi:

Disarikan dari kitab Al-Qawa’idul hisaan al-muta’alliqati bi tafsiir Al-Qur’an, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, hal. 173-175 (kaidah ke-51), penerbit Daar Thaybah Suriah, cetakan pertama tahun 1434.

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »

5 Comments

Leave a Reply