Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Faedah dan Kandungan Doa Keluar Rumah

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
16 Juli 2024
di Doa dan Zikir
Faedah dan Kandungan Doa Keluar Rumah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Faedah dan kandungan dari doa:
    • Pertama, Allah ada di atas
    • Kedua, meminta perlindungan agar tidak tersesat atau disesatkan orang lain
    • Ketiga, meminta perlindungan dari ketergelinciran
    • Keempat, meminta perlindungan dari kezaliman
    • Kelima, meminta perlindungan dari kebodohan

Salah satu aktivitas yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita adalah keluar dari rumah (tempat tinggal) untuk melakukan berbagai macam kegiatan, baik yang bersifat ibadah atau dunia (muamalah). Karena hal ini tidak mungkin kita hindari, maka IsIam sangat memperhatikan hal tersebut. Islam mengajarkan adab dan etika yang mesti kita perhatikan saat kita keluar rumah. Salah satu dari adab dan etika tersebut adalah dituntunkannya membaca doa keluar rumah.

Doa keluar rumah, redaksi dan bacaannya sangat beragam. Maka, yang akan kita bahas pada artikel kali ini adalah salah satu doa yang tidak pernah dilupakan dan ditinggalkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, sayangnya banyak dari kita yang belum tahu dan mengamalkan doa tersebut.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ

“Setiap kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumahku, beliau mengarahkan pandangannya ke langit, kemudian berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَىَّ

ALLAHUMMA INNI A-’UDZU BIKA AN ADHILLA AW UDHALLA AW AZILLA AW UZALLA AW AZLIMA AW UZLAMA AW AJHALA AW YUJHALA ‘ALAYYA

‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari aku tersesat, atau aku menyesatkan, atau aku tergelincir, atau aku digelincirkan, atau aku menzalimi, atau aku dizalimi, atau kebodohanku atau dibodohi.’” (HR. Abu Dawud no. 5094, Nasai no. 5486, Ibnu Majah no. 3884. Dinilai hasan oleh Ibnu Hajar.)

Faedah dan kandungan dari doa:

Pertama, Allah ada di atas

Ketika Nabi berdoa, maka beliau mengangkat pandangannya ke langit karena Allah ada di atas (Arasy).

Allah Ta’ala berfirman,

ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arasy.” (QS. Taha: 5)

Dan ketika kita berdoa memandang ke atas adalah untuk menghadirkan perasaan bahwa kita sedang di awasi oleh Allah yang ada di atas (Arasy). Maka, saat kita di luar rumah (maupun di dalam rumah), hendaknya kita senantiasa merasa diawasi oleh Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا

“Dan Allah Maha mengawasi segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 52)

Kedua, meminta perlindungan agar tidak tersesat atau disesatkan orang lain

Setiap keluar rumah, maka mau tidak mau kita akan berinteraksi dengan orang lain. Tatkala berjumpa dengan orang-orang tersebut, ada yang karakternya baik, sebaliknya ada yang buruk. Ada yang kita kenal maupun tidak kita kenal. Sehingga sangat mungkin kita terjerumus kepada hal-hal yang negatif (keburukan).

Keburukan yang datang bisa jadi karena kita yang melakukan (pelaku) atau bisa juga kita sebagai korban keburukan tersebut. Oleh karenanya, dalam doa di atas, kita dituntunkan untuk meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala, Zat yang Maha Memberi Perlindungan.

Salah satu keburukan yang kita meminta dijauhkan darinya adalah kesesatan. Kita meminta perlindungan kepada Allah dari menyesatkan orang lain atau disesatkan orang lain. Baik maknanya tersesat secara maknawi (agama, pemahaman dan hidayah) atau tersesat secara hissi (perjalanan yang akan kita tempuh dan lalui).

Bisa jadi, ketika keluar rumah, niat kita baik, tetapi di tengah jalan, tiba-tiba kita bertemu teman yang mengajak melakukan perbuatan buruk atau perbuatan yang membuat kita melalaikan tujuan baik tadi.

Ketiga, meminta perlindungan dari ketergelinciran

Setelah yang pertama kita meminta perlindungan dari keburukan karena kesengajaan, yaitu kesesatan. Kemudian yang kedua kita meminta perlindungan dari keburukan yang tidak disengaja, yaitu ketergelinciran. Baik tergelincir karena diri sendiri, orang lain, bahkan bisa jadi ia malah menggelincirkan orang lain karena ketidaktahuan dan kurangnya ilmu (pemahaman) tanpa ia sadari.

Contohnya ada orang yang pergi ziarah ke makam orang saleh. Ia berniat mencari berkah dengan tanah, air, atau tempat tersebut. Ia juga hendak berdoa meminta kelancaran rezeki dari orang saleh yang telah meninggal di sana. Tetapi ia tidak tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang dapat mengantarkan pada kesyirikan.

Keempat, meminta perlindungan dari kezaliman

Kezaliman itu ada banyak sekali macam dan bentuknya. Ada kezaliman yang menyangkut fisik, harga diri (kehormatan), keluarga, harta, dan semacamnya. Kezaliman dalam hal fisik, misalnya: di tengah jalan bertemu orang jahat atau orang gila yang memukul dan menodong kita, atau bertemu anjing yang menggigit kita. Kezaliman dalam hal harga diri, misalnya: di jalan bertemu orang yang mencaci dan memaki kita. Kezaliman menyangkut keluarga, semisal: di jalan ada orang yang menggoda dan mengganggu istri atau anak perempuan kita. Kezaliman terkait harta, misalnya: ketika di jalan ada yang menabrak kendaraan kita atau kecopetan saat ingin belanja.

Kelima, meminta perlindungan dari kebodohan

Kebodohan yang kita meminta perlindungan kepada Allah ada dua macam: 1) Perilaku bodoh, 2) Ketidaktahuan. Perilaku bodoh adalah tingkah yang tidak pantas yang bisa merendahkan harga diri seseorang. Misalnya, seseorang ingin terkenal sehingga membuat konten yang tidak pantas di jalanan dengan telanjang, berjoget, dan lainnya. Ketidaktahuan contohnya adalah ketika pergi untuk membeli makan atau minum, ternyata yang kita beli adalah makanan atau minuman yang haram tanpa sepengetahuan kita.

Demikian sedikit pembahasan ini, semoga bermanfaat.

Baca juga: Doa Saat Semua Terasa Sulit

***

Penulis: Arif Muhammad N.

Artikel: Muslim.or.id

 

Sumber:

Disarikan dari kajian Ustadz Abdullah Zaen Lc., MA. “Fikih Doa & Zikir“ dengan beberapa tambahan.

ShareTweetPin
Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

- S1 Jurusan Kewarganegaraan dan Hukum UNY - Ketua Hijrah Dakwah (@hijrahdakwah.id) - Pernah belajar di: PPTQ Harun Syafi’i, Markas Riwayah Ibnu Qudamah, Markas Takallam Duri - Pernah mengambil sanad Azan ke asatidz Markas Ibnu Syubah Boyolali

Artikel Terkait

Doa Ketika Terlilit Utang

oleh Prasetyo Abu Ka'ab
25 Januari 2026
0

Seorang muslim tidak sepantasnya meremehkan perkara utang, menganggapnya sepele, atau bersikap longgar dalam melunasinya. Sebab, dalam As-Sunah, terdapat banyak hadis...

Ketenangan Hati

Zikir dan Ketenangan Hati

oleh Fauzan Hidayat
14 Oktober 2025
0

Setiap manusia mendambakan ketenangan hati. Ada yang mencarinya dalam harta, jabatan, popularitas, bahkan hiburan. Namun semakin dicari pada selain Allah,...

Bacaan Tasbih Tahmid dan Takbir

Bacaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir pada Zikir Setelah Salat

oleh Firdian Ikhwansyah
30 September 2025
0

Zikir merupakan salah satu ibadah harian yang sering kita lakukan. Salah satu jenis zikir yang pasti kita rutinkan setiap harinya...

Artikel Selanjutnya
Penjelasan Kitab Ta'jilun Nada

Penjelasan Kitab Ta'jilun Nada (Bag. 10): Fi’il Mudhari (3)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prove your humanity: 1   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah