10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 3) : Doa Adalah Kunci Penyucian Jiwa

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 3) : Doa Adalah Kunci Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 2)

Kaidah kedua: Doa adalah kunci penyucian jiwa

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 5392)

Doa merupakan salah satu ibadah yang paling utama di sisi Allah Ta’ala, karena di dalamnya terkandung sikap menampakkan kelemahan, kefakiran, perendahan diri, hati yang luluh dan pengakuan terhadap kekuatan; kekuasaan; kekayaan dan kemampuan-Nya mengayakan; serta kebesaran-Nya. Bahkan bagi musuh-musuh-Nya (orang musyrik dan kafir), doa adalah solusi atas keputusasaan mereka, apalagi bagi para kekasih dan wali-Nya yang mulia. (Mirqaatul Mafaatih Syarh Misykaatul Mashaabih, 4: 1527)

Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?

Doa memiliki berpengaruh besar dalam membuka pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’la ketika berwasiat kepada Abul Qasim Al-Maghribi,

الدعاء مفتاح كل خير

“Doa adalah kunci semua kebaikan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 661)

Semua kebaikan yang Engkau harapkan dan inginkan, baik berupa kebaikan di dunia dan di akhirat, maka mintalah kepada Allah Ta’ala, bersandarlah kepada-Nya dalam meraih dan mewujudkannya.

Allah Ta’ala telah berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa dan menyandarkan diri kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.” (QS. Ghafir [40]: 60)

Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه

“Sungguh aku tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham (taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)

Baca Juga: Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat & Bencana yang Tiba-Tiba

Diriwayatkan dari Mutharrif bin Asy-Syikhir, beliau berkata,

تَذَكَّرْتُ مَا جِمَاعُ الْخَيْرِ فَإِذَا الْخَيْرُ كَثِيرٌ: الصَّوْمُ وَالصَّلَاةُ وَإِذَا هُوَ فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِذَا أَنْتَ لَا تَقْدِرُ عَلَى مَا فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَنْ تَسْأَلَهُ فَيُعْطِيَكَ، فَإِذَا جِمَاعُ الْخَيْرِ الدُّعَاءُ

“Aku merenungkan apakah pokok segala kebaikan, ternyata kebaikan itu banyak. Kebaikan itu mencakup shalat dan puasa, yang urusannya berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Apabila ternyata engkau tidak mampu melakukan hal yang berada di tangan Allah, kecuali setelah memohon kepada-Nya, sehingga Dia memberikannya kepadamu, maka hal itu berarti pokok segala kebaikan itu adalah doa.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 1344)

Dalam bab “At-Tazkiyah”, telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata dalam doanya,

اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah, berikanlah diriku ketakwaan, sucikanlah, karena Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan menjaganya.“ (HR. Muslim no. 2722)

Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah

Dalam doa ini terdapat isyarat dan peringatan bahwa penyucian jiwa itu ada di tangan Allah, Dzat Yang mengetahui hal yang ghaib. Sedangkan kunci pembukanya yang agung adalah doa dan merasa butuh di hadapan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali berdoa,

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 2140, shahih)

Ketika hamba memfokuskan hati; jujur dengan kebutuhan dan kekurangannya, kuat rasa harapnya, tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan, dan mencari waktu-waktu berdo’a yang utama, niscaya mustahil doanya ditolak.

Faktor terbesar yang dapat membantu kita untuk berdoa adalah menyadari bahwa kesucian jiwa kita terletak di tangan Allah Ta’ala. Allah-lah Dzat yang membersihkan jiwa siapa saja yang Dia kehendaki. Semua urusan adalah milik Allah Ta’ala dan berada di bawah kehendak-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ

“Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 49)

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ

“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS. An-Nuur [24]: 21)

Baca Juga: Inilah Sebab-Sebab Terkabulnya Doa

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang firman Allah Ta’ala, “niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih” (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu),

ما اهتدى منكم من الخلائق لشيء من الخير ينفع به نفسه، ولم يتق شيئا من الشرّ يدفعه عن نفسه

“Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat memberikan hidayah berupa kebaikan yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan tidak pula menjauhi sesuatu berupa kejelekan yang dia cegah dari dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 222)

Artinya, itu semua adalah semata-mata karunia dari Allah Ta’ala.

Al-Barra’ radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ يَنْقُلُ مَعَنَا التُّرَابَ، وَلَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ بَطْنِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا

“Ketika terjadi perang Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turut bersama-sama dengan kami mengangkat tanah. Sehingga perut putih beliau menjadi kotor karena tanah. Beliau pun bersenandung, “Ya Allah, sekiranya bukan karena Engkau, tidaklah kami mendapatkan petunjuk, tidaklah kami bersedekah, dan tidaklah kami mendirikan shalat.“ (HR. Bukhari no. 4104 dan Muslim no. 1803)

Baca Juga: Orang Islam kok Enggan Berdoa?

Hidayah, iman, dan kebaikan, semuanya ada di tangan Allah Ta’ala semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan hal ini di jiwa para sahabat dan menekankannya berulang-ulang. Di antara pembuka khutbah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

“Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberikan hidayah kepadanya.” (HR. Muslim no. 868 dari riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Abu Dawud no. 1097, Tirmidzi no. 1105, An-Nasa’i no. 3277, Ibnu Majah no. 1892, semuanya dari riwayat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Hal ini adalah adalah pintu terbesar yang mesti dilalui dalam penyucian jiwa. Barangsiapa yang mengetahui bahwa kebaikan, kesucian dan keistiqamahan jiwanya berada di tangan Allah Ta’ala, dia akan bersandar kepada-Nya. Dia akan menghadap dan memintanya dengan berdoa, dalam kondisi sangat-sangat berharap untuk meraih kesucian, keselamatan, dan keberuntungan jiwanya di dunia dan di akhirat.

Baca Juga:

[Bersambung]

***

@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

Referensi:

Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 13-17, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala.

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D. »

4 Comments

Leave a Reply