Hanya Berdoa Kepada Allah Ta’ala Dalam Urusan Dunia Semata

Hanya Berdoa Kepada Allah Ta’ala Dalam Urusan Dunia Semata

Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat. Sampai-sampai ketika dia menengadahkan kedua tangan memohon kepada Allah Ta’ala, dia hanya meminta kebaikan untuk urusan dunianya. Yang diminta hanyalah bisnis yang lancar, nilai ujian yang bagus, atau keinginan untuk membeli rumah, mobil, atau permintaan semacam itu. Tidak terucap atau terpikir sedikit pun untuk meminta kebaikan atas kehidupannya di akhirat kelak.

Celaan bagi Orang yang Hanya Meminta Urusan Dunia

Allah Ta’ala telah mencela orang-orang yang hanya meminta kepada-Nya tentang urusan-urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Maka di antara manusia ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqarah [2]: 200).

Allah Ta’ala juga berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al Isra’ [17]: 18).

Apakah hal ini berarti, tidak boleh bagi kita untuk berdoa untuk meminta kebaikan di dunia? Tidaklah demikian. Boleh bagi kita untuk berdoa meminta kebaikan urusan di dunia, namun bukan sebagai hal yang pokok. Hal ini karena prioritas utama seorang mukmin adalah kehidupan yang baik dan selamat di akhirat kelak. Sedangkan dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebaikan di akhirat.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang-orang yang menggabungkan dalam doanya antara meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202)

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah [2]: 201-202) 1.

Orang beriman akan menjadikan akhirat (surga) sebagai cita-cita tertinggi yang hendaknya terus dia minta dalam doanya. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang sahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,“Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,

أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ

Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!

Maka Rasulullah berkata,

أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ

“Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,“Ya, itu saja.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 226)

Adapun dunia, maka hakikatnya adalah sesuatu yang rendah dan hina, sehingga tidak layak dijadikan sebagai cita-cita dan keinginan utama seorang mukmin. Ibnu Abid Dunyaa rahimahullahu Ta’ala- berkata,

حدثني عثمان بن أبي شيبة، أخبرنا معاوية بن هشام، قال: سمعت سفيان الثوري يقول: كان يقال: إنما سميت الدنيا لأنها دنية، وإنما سمي المال لأنه يميل بأهله.

Telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Abi Syaibah, telah mengkhabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata, Pernah dikatakan bahwa (dunia) disebut dunia (الدنيا) hanyalah karena ia merupakan sesuatu yang rendah (hina) (دنية) dan (harta) dinamakan harta (الْمَالُ) karena ia dapat membuat condong pemiliknya 2’” 3.

Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan kita di akhirat.

***

Diselesaikan menjelang subuh, Rotterdam 9 Rabiul Akhir 1438/7 Januari 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

____

  1.  Disarikan dari kitab Fiqhu Ad-Du’a, hal. 133 karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi –hafidzahullahu Ta’ala-.
  2. Maksudnya, membuat condong pemiliknya ke arah harta tersebut sehingga membuat dia lalai dari kehidupan akhirat.
  3. Dzammud Dunyaa, 1/37 (Maktabah Syamilah)
Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 – sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »