Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 8)

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 8)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 7)

Ke delapan: Bersikap lemah lembut dan berinteraksi dengan sesama manusia dengan akhlak yang mulia

Agar seseorang bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain, hendaknya kita bersikap lemah lembut dan berinteraksi dengan sesama manusia dengan mengedepankan akhlak yang mulia. Ini merupakan perkara paling penting agar bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

Orang yang memiliki akhlak yang keras, muamalah yang jelek, akan sulit untuk membuka hati orang lain. Allah Ta’ala telah menceritakan keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)

Baca Juga: Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 1)

Jiwa manusia akan lari dari sikap kasar, sikap keras, sikap permusuhan, dan akhlak-akhlak buruk lainnya, meskipun yang disampaikan adalah sebuah kebenaran dan kebaikan. Hal ini karena jeleknya akhlak, buruknya muamalah serta kasarnya sikap dan gaya bicara akan membuat manusia lari dari kebenaran.

Oleh karena itu, kalau kita ingin menjadi pembuka pintu kebaikan dan hidayah bagi orang lain, hendaklah kita berinteraksi (bermuamalah) dengan mereka dengan penuh kelembutan. Kita berbicara kepada mereka dengan ucapan yang baik, yang tenang, menggunakan kalimat yang menunjukkan sikap merendahkan diri, menghormati mereka, serta tidak tampak menggurui, tidak merasa lebih pintar dan lebih unggul di hadapan orang lain.

Kalau kita menelusuri sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu akan kita dapati contoh dan teladan yang sangat banyak dalam masalah ini. Namun, cukuplah satu kisah yang menakjubkan ini sebagai gambaran keteladanan untuk kita.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan kota Makkah pada peristiwa Fathu Makkah, yaitu kampung halaman yang penduduknya dulu telah menyakiti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau didatangi oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakar mendatangi beliau sambil menggandeng ayahnya, yang ketika itu belum masuk Islam, untuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayahanda sahabat Abu Bakar tersebut sudah memutih jenggot, rambut kepala dan alisnya, seakan-akan seperti pohon tsaghamah, yaitu pohon yang memiliki daun dan bunga berwarna putih. Hal ini menggambarkan bahwa ayahanda dari sahabat Abu Bakar ketika itu sudah berusia sangat lanjut.

Melihat kedatangan Abu Bakar bersama ayahnya, lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar,

هَلَّا تَرَكْتَ الشَّيْخَ فِي بَيْتِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا آتِيهِ فِيهِ

“Seharusnya Engkau tinggalkan ayahmu di rumahnya, dan akulah yang akan mendatangi beliau.” (HR. Ahmad no. 26956, Ibnu Hibban no. 7208 dan Al-Hakim 3/46. Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim.”)

Lihatlah keluhuran dan kemuliaan akhlak yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau datang ke kota Makkah sebagai penakluk, dan dulu penduduk kota ini telah menyakiti beliau. Namun, beliau tunjukkan sikap lemah lembut dan rasa hormat kepada ayah dari Abu Bakar yang ketika itu sudah berusia sangat lanjut.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan telapak tangannya di dada ayah Abu Bakar, dan mengatakan,

أَسْلِمْ

“Masuklah ke dalam agama Islam.”

Maka ayah dari sahabat Abu Bakar pun akhirnya masuk Islam.

Demikian pula akhlak yang beliau tunjukkan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu masih berusia muda. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangan Mu’adz dan mengatakan,

يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ، فَقَالَ: أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Wahai Mu’adz! Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu. Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku berwasiat kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah Engkau tinggalkan setiap kali selesai shalat untuk berdoa, ‘Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.’” (HR. Ahmad no. 22172, Abu Dawud no. 1522, An-Nasa’i dalam Al-Kubra no. 9937, dan yang lainnya. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7969.)

Bedakanlah antara gaya berbicara seperti di atas, dengan orang yang berbicara kepada anak yang lebih muda dengan mengatakan, “Wahai anak kecil!” atau “Wahai anak bodoh!”, atau ungkapan-ungkapan kasar lain yang akan menyebabkan terkuncinya hati dari menerima nasihat dan kebenaran dan membuat jiwa manusia lari darinya.

Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin menjadi pintu pembuka bagi orang lain, hendaklah dia berhias dengan akhlak-akhlak yang mulia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad.)

Ke sembilan: Bersegera untuk berbuat kebaikan

Seorang hamba tidak akan menjadi pembuka kebaikan dengan baik dan sempurna, kecuali jika dia perhatian terhadap kebaikan, melaksanakan dan bersegera menjadi yang terdepan di dalamnya. Sebagaimana perkataan Syu’aib ‘alaihis salaam ketika berbicara kepada kaumnya,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ

“Dan aku tidak berkehendak untuk menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (QS. Huud [11]: 88)

Barangsiapa yang ingin mengajak orang lain menuju kebaikan, hendaklah dia juga bersegera untuk mengerjakan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Tidak cukup bagi seseorang hanya mengajak orang lain menuju kebaikan dengan semata-mata ucapan lisannya, akan tetapi dia justru ceroboh dengan tidak memberikan keteladanan dengan amal perbuatannya. Namun hendaknya, hendaklah dia menjadi contoh teladan bagi orang lain dengan amal perbuatannya. Sangatlah berbahaya ketika seseorang mengajak orang lain menuju kebaikan dengan ucapannya, namun perbuatannya justru mengajak orang lain kepada keburukan.

Terkait hal ini, Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,

“Ulama yang buruk (‘ulama suu’) (yaitu orang berilmu namun ahli maksiat, pen.) duduk di pintu surga dan mengajak manusia menuju surga dengan ucapannya. (Namun) mereka mengajak manusia menuju neraka dengan perbuatannya. Setiap kali dia berkata kepada manusia, ‘Marilah (ke surga)!’, maka perbuatannya mengatakan, ‘Janganlah dengar dari orang ini!’ Karena seandainya ajakan dia adalah kebenaran, maka dia akan menjadi orang yang pertama kali melaksanakannya. Mereka itu lahiriyahnya saja yang seperti mengajak ke surga, namun pada hakikatnya mereka adalah perampok (yang menghalangi orang lain dari surga, pen.).” (Al-Fawaaid, hal. 85)

[Bersambung]

Baca Juga;

***

@Sint-Jobskade 718 NL, 9 Syawwal 1439/ 23 Juni 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Aerikel: Muslim.or.id

 

Referensi:

Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 39-44.

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »