Tanya Jawab Fiqih Muamalah Bersama Ustadz Aris Munandar

Tanya Jawab Fiqih Muamalah Bersama Ustadz Aris Munandar

Berikut ini kami kumpulkan beberapa tanya-jawab singkat bersama Ustadz Aris Munandar, Ss., MPi. hafizhahullah seputar masalah fiqih muamalah yang diambil dari milis fatwa pengusaha muslim. Semoga bisa diambil banyak faidah dari beberapa tanya-jawab berikut.

Soal:

Saya punya pertanyaan mengenai jual beli mata uang asing. Seperti yang diprediksikan sejumlah pengamat, 1 dolar akan mencapai nilai Rp15.000 pada 2014 nanti. Nah bolehkah sekarang saya membeli dolar dengan tujuan mengambil keuntungan saat rupiah melemah nanti? Tentunya transaksi bersifat kontan, bukan forward, spot, dsb. Terima kasih. ([email protected] )

Jawab:

Asalkan tunai yaitu semua diserahterimakan sebelum majelis transaksi berakhir hukumnya boleh karena jika tukar menukar uang yang berbeda semisal dollar dengan rupiah hanya ada syarat yang wajib dipenuhi yaitu semua telah diserahterimakan sebelum majelis transaksi berakhir.

***

Soal:

jika ada pengurus DKM yang memesan kue kepada saya untuk acara mesjid lalu saya memberikan sejumlah uang ( uang tersebut diambil dari harga persatuan saya kurangi Rp 100 kali jumlah kue yang dia pesan ) sebagai tanda terima kasih apakah diperbolehkan?

Jawab:

Jika untuk pemesan, hukumnya tidak boleh karena itu adalah uang suap agar selalu pesan kue di tempat tersebut.

***

Soal:

Bagaimana jika kantor menggunakan asuransi ABC dimana asuransi ABC tidak memotong gaji karyawan. Pertanyaannya adalah apakah kita boleh menggunakan asuransi ABC yang disediakan oleh kantor? ([email protected])

Jawab:

Boleh senilai besaran premi yang dibayarkan kantor kepada perusahaan asuransi tersebut

***

Soal:

Saya mau tanya tentang hukum menjual produk MLM tanpa ikut sistem MLM-nya. Artinya kita menjadi member/anggota tapi hanya untuk menjual produknya ke konsumen tapi tidak ikut sistem MLM seperti rekrut-merekrut anggota. ([email protected])

Jawab:

Hukumnya diperbolehkan karena yang terlarang adalah mengikuti sistem MLM-nya.

***

Soal:

Ustadz, bagaimana hukumnya menjual kosmetik untuk kecantikan, tapi kita tidak tahu kehalalan bahan-bahan kosmetik tsb? Kosmetik tersebut utk pemakaian luar (di kulit/wajah). ([email protected])

Jawab:

Jika tidak ada indikator yang mencurigakan maka kita kembalikan ke hukum asal yaitu diperbolehkan

***

Soal:

Apa hukum menerima sumbangan dari yayasan orang kafir untuk keperluan darurat seperti biaya pengobatan rumah sakit. Sedangkan orang tersebut sudah berusaha untuk meminjam uang pada orang muslim tidak / belum ada yang memberi pinjaman padahal keperluannya sangat mendesak

Jawab:

Insya Allah tidak mengapa jika tidak menyebabkan berhutang budi kepada si kafir.

***

Soal:

Mau tanya hukumnya mengikuti tender, apa dibolehkan? Karena di salah satu Hadits Nabi Saw dari Ibnu Umar ra. kurang lebihnya dinyatakan bahwa dilarang untuk menawar sesuatu (barang/jasa) yang sedang ditawar oleh saudaramu. Mengingat mekanisme tender adalah mengajukan penawaran, meskipun telah ada penawaran dari pihak lain yang terlebih dahulu dimasukkan dan belum diputuskan diterima atau ditolaknya tawaran itu ([email protected])

Jawab:

Jual beli lelang boleh dalam Islam asalkan semua peserta lelang berniat untuk menjadi pemenang, bukan sekedar basa basi.

***

Sumber: Milis PM-Fatwa

Print Friendly, PDF & Email
Muslim App
App Muslim.or.id

About Author

Aris Munandar, Ss., Mpi.

Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, pengajar Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Yogyakarta, S1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, S2 Fiqih dan Ushul Fiqih Universitas Muhammadiyah Surakarta, pengasuh Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI)

View all posts by Aris Munandar, Ss., Mpi. »
  • khusnin

    Bagaimana hukumnya shalat pakai tutup kepala sampai nutupi ke jidat ketika sujud.sah apa tidak…. Jazakallah.

  • ABC

    bagaimana jika saya secara tidak sengaja tertidur dan melewatkan waktu shalat hingga masuk waktu shalat lainnya, apa yang harus diperbuat? bolehkah saya menjama’ shalatnya?

  • egga putriana

    saat kita ingin mandi besar setelah haid , kita lupa membaca niat . apa itu sah?

  • Ruhut S

    mau tanya di sebut dengan apa, antara zikir dan tasbih.?

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Bisa diperjelas maksudnya?

  • Faisal Syamsudin

    apa hukumnya Tabungan Pengdidikan yang didalamnya disertakan asuransi? *pada kasus ini vendornya Syari’ah

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Tidak cukup label “vendornya Syari’ah”, butuh diperinci bagaimana bentuk akad dan pelaksanaanya.

      • Faisal Syamsudin

        Syukron ustadz.. sy sedang merencanakan tabungan pendidikan untuk anak, dan saya sedang mencari referensi sebanyak-banyaknya.. Jazakallah

        • Sa’id Abu Ukkasyah

          Wa iyyakum, Semoga Allah memudahkan seluruh kebaikan bagi Anda sekeluarga, serta menjaga Anda sekeluarga dari seluruh keburukan.

  • yvan wahyu krisnandi

    apa hukumnya jika kita menjama sholat apabila sedang dalam acara perpisahan sekolah? sah atau tidak sholatnya?

    • Menjamak shalat tanpa ada alasan syar’i, termasuk dosa besar sebagaimana kata Umar bin Khattab.

  • Faisol Akbar

    untuk bank yang ada di indonesia itu ada yang berlebel Syari’ah dan Konvensional,Pertanyaannya dmn letak perbedaannya???

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Kita baru tahu sebuah bank benar-benar sesuai Syari’at 100 % jika mengetaahui seluruh akad2 yg dilakukan dan mekanisme kerja bank tersebut. Adapun label “bank Syari’ah” saja gak cukup.

  • Dann

    Assalamu`alaikum Wr Wb.
    sebelum mendapatkan pekerjaan ini, kita bisa melakukan ibadah wajib dimasjid, kemudian ditambah sunnahnya, serta membantu pekerjaan orang tua. tetapi setelah mendapatkan pekerjaan ini, untuk solat berjamaah dimasjid pun belum terlaksana sepenuhnya, begitu juga sunnahnya dan membantu orangtua, belum bisa terlaksana semua karena pekerjaan ini. adakah saran untuk saya? terima kasih sebelumnya
    Wassalamu`alaikum Wr Wb

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh,
      Semoga Allah menolong Anda shg mampu menunaikan semua kewajiban Anda sebagai hamba-Nya. Dahulukan melakukan kewajiban Anda , seperti shalat bejama’ah 5 waktu dan berbakti kepada ortu yg kategori wajib serta mencari nafkah dlm rangka menunaikan kewajiban Anda sebagai kepala keluarga (jika sdh berkeluarga). Adapun ibadah yg sunnah jika memang sdh berusaha melakukannya namun tak mampu, maka tidak masalah. Adapun masalah pekerjaan, coba lebih selektif dalam membagi waktu dan memilih mana bagian kerjaan yg bisa ditunda dan mana yg harus dikerjakan skarang. Hindari pemborosan waktu dg menunda2 pekerjaan atau mengisi waktu kosong dg aktifitas sia-sia. Serta jangan turuti keinginan mencari dunia yg berlebihan. Perkuat zuhud, tawakal dan mementingkan Darul Akhirah.
      Kalau memang Anda bisa ganti pekerjaan yg memungkinkan Anda bisa tetap menunaikan kewajiban2 Anda , maka gantilah pekerjaan Anda.

  • Membantu sekali rangkuman tanya jawab tentang Fiqih Muamalah ini, semoga menambah khazanah keilmuan, khususnya saya sendiri dan dapat disampaikan lagi kepada yang lain agar manfaat.. Amiin

  • setiawan

    Assalamu’alaikum ustadz,

    Alhamdulillah sy seorang mualaf dan alhamdulillah sy juga baru mengenal sunnah.
    Sy ingin bertanya mengenai niat sholat,baik wajib/sunnah.sy membaca artikel,bahwa niat sholat itu ada di dalam hati dan sebagai syarat sahnya sholat….mohon pencerahannya,apa maksudnya kita tetap melafalkan,misal “saya niat sholat dhuhur 4 rakaat karena ALLAH”/cukup dengan “saya niat sholat dhuhur” tapi di dalam hati saja tanpa dilafalkan lewat lisan ? Atau kita diam saja tanpa niat ap2 dalam hati,langsung sholat saja,tetapi kalau diam saja,maaf bukankah niat itu adalah syarat sahnya sholat…mohon pencerahannya,untuk menghilangkan keragu raguan dalam hati saya ketika menjalankan sholat..makasih penjelasan & pencerahannya.wassallam

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Wa’alaikumus salam , Semoga Allah melimpahkan tambahan hidayah kepada kita dan menjaga keimanan kita sampai akhir hayat.
      Ulama menjelaskan bahwa niat itu mengikuti ilmu, maka barangsiapa yang dengan sadar /mengetahui bahwa dirinya akan shalat dhuhur 4 rakaat , atau dengan kata lain : ia telah berkeinginan kuat untuk shalat dhuhur 4 rakaat, maka berarti ia telah berniat. Jadi, niat itu mudah, seperti Anda berniat minum air putih , maka Anda TIDAK mengatakan DALAM hati ” Saya berniat minum air putih…” , cukup Anda berkeinginan minum dan sadar/tahu apa yang Anda kerjakan , maka berarti Anda sudah berniat.