Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Sifat Nuzul: Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag. 2)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
23 Februari 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Penyelewengan terhadap makna “An-Nuzul”
  • Kewajiban kita dalam beriman terhadap hadits-hadits tentang An-Nuzul

Baca pembahasan sebelumnya: Sifat Nuzul: Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag. 1)

Penyelewengan terhadap makna “An-Nuzul”

Berkaitan dengan hadits nuzul, sebagian orang mengatakan, “Kami juga beriman terhadap hadits nuzul. Akan tetapi, kami memahami hadits ini tidak sebagaimana pemahaman kalian. Tidak mungkin Allah yang turun, karena zona waktu di setiap tempat berbeda. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “turun” dalam hadits ini adalah Allah Ta’ala menurunkan rahmat-Nya.”

Sebagian orang yang lain mengatakan, “Yang turun adalah malaikat Allah, bukan Allah itu sendiri.”

Anggapan atau pendapat semacam ini dapat kita jawab atau kita sanggah dari beberapa sisi:

Pertama, dalam hadits an-nuzul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandarkan perbuatan (turun) kepada Allah Ta’ala, bukan yang lainnya. Jika yang beliau maksudkan adalah turunnya rahmat Allah atau turunnya malaikat Allah, maka tentu akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan kepada sahabatnya, dan penjelasan ini tentu akan diriwayatkan sehingga sampai kepada kita. Oleh karena itu, ketika mereka katakan bahwa yang turun adalah rahmat Allah Ta’ala, maka pada hakikatnya mereka telah menyelewengkan makna hadits tersebut kepada makna yang batil, yaitu makna yang menyelisihi ijma’ ahlus sunnah.

Kedua, jika turun tersebut kita maknai sebagai turunnya rahmat Allah Ta’ala, maka ini makna yang batil. Karena rahmat Allah Ta’ala turun setiap saat kepada hamba-Nya, tidak hanya turun di waktu tertentu saja (sepertiga malam yang terahir).

Ketiga, jika yang mereka maksudkan adalah “rahmat Allah yang bersifat khusus”, maka ini pun juga makna yang batil. Karena apa faidahnya jika rahmat yang khusus tersebut hanya turun sampai langit dunia, sehingga tidak sampai ke hamba-Nya yang ada di bumi? Jelaslah bahwa hal ini adalah penyelewengan makna yang batil.

Keempat, hadits an-nuzul menunjukkan bahwa yang turun tersebut mengatakan,

مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

”Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)

Perkataan ini jelas menunjukkan bahwa yang turun adalah Allah, karena tidak mungkin hal itu diucapkan oleh satu pun kecuali Allah Ta’ala. Tidak mungkin perkataan tersebut diucapkan oleh malaikat Allah. [1]

Oleh karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan makna hadits an-nuzul kepada makna yang batil semacam turunnya malaikat atau rahmat Allah Ta’ala, pada hakikatnya dia telah terjerumus ke dalam penyimpangan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata,

فَمن أنكر النُّزُول أَو تَأَول فَهُوَ مُبْتَدع ضال

“Barangsiapa yang mengingkari an-nuzuul dan menyelewengkan maknanya (kepada makna yang batil), maka dia adalah ahli bid’ah yang sesat.” [2]

Kewajiban kita dalam beriman terhadap hadits-hadits tentang An-Nuzul

Oleh karena itu, kewajiban kita sebagai seorang mukmin yang beriman terhadap hadits-hadits yang menyebutkan tentang sifat-sifat Allah Ta’ala seperti hadits an-nuzul adalah:

Pertama, beriman dengan makna atau sifat yang terdapat dalam dalil-dalil yang shahih sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala.

Kedua, tidak bertanya bagaimananya serta menggambarkannya (mem-visualisasi-kannya), baik dalam fikiran, terlebih lagi dalam ungkapan. Karena hal itu termasuk berkata tentang Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Sedangkan hakikat Allah Ta’ala tidak dapat dijangkau dengan akal fikiran dan ilmu manusia. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, ’Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-A’raf [7]: 33)

Ketiga, tidak menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)

Apabila kita memahami kewajiban ini, maka tidak ada lagi kerancuan dalam hadits nuzul atau hadits lainnya yang menerangkan sifat-sifat Allah Ta’ala. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada umatnya bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Berita ini termasuk ilmu ghaib yang Allah Ta’ala tunjukkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Dzat yang memberitakan hal itu, yaitu Allah Ta’ala, mengetahui perubahan waktu yang terjadi di muka bumi. Allah Ta’ala mengetahui bahwa sepertiga malam di suatu daerah mungkin menjadi setengah siang di daerah yang lain. [3]

[Selesai]

***

Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 10 Jumadil awwal 1439/28 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Lihat Fathu Rabbil Bariyyah, hal. 54-55; karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.

[2] Al-Istiqamah, 1: 169.

[3] Lihat Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 1: 136-137.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
2

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya

Pembagian Tafsir Menurut Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu (Bag. 2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah