Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Sifat Nuzul: Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag. 1)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
21 Februari 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Ada seseorang yang berusaha untuk mem-bagaimana-kan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan akalnya. Dia berusaha berangan-angan untuk mem-visualisasi-kan sifat Allah Ta’ala. Dan ketika akalnya tidak sampai, dia serta merta menolak sifat Allah Ta’ala tersebut. Padahal telah dimaklumi, kita tidak memiliki ilmu tentang hakikat sifat-sifat Allah Ta’ala yang sebenarnya. Karena Allah Ta’ala hanya memberitahukan sifat-sifatNya saja, namun tidak pernah memberitahukan bagaimana hakikat sebenarnya dari sifat-sifat tersebut.

Contohnya adalah seseorang yang menolak sifat nuzul (turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir) hanya karena tidak dapat dijangkau oleh visualisasinya. Orang tersebut mengatakan, ”Dunia ini ‘kan bundar, malam di suatu tempat dan siang di tempat yang lain. Kalau di Indonesia malam, di Eropa masih siang. Dan begitu seterusnya di belahan dunia yang lain. Kalau  Allah turun pada sepertiga malam, maka pekerjaan Allah hanya turun-turun saja setiap waktu bagi seluruh penduduk dunia. Karena waktu sepertiga malam terakhir berganti-ganti di seluruh dunia, sedangkan Allah itu hanya satu.”

Demikianlah, dia berusaha untuk menggambarkan turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia. Dan ketika akalnya tidak mampu, dia pun menolak dan mengingkari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)

Meyakini sifat “Nuzul” adalah ijma’ (konsensus) ahlus sunnah

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia diriwayatkan oleh kurang lebih dua puluh delapan sahabat [1], sehingga mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu, ahlus sunnah menetapkan dan meyakini sifat nuzul bagi Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia tanpa menyerupakannya dengan satu pun dari makhluk-Nya dan tanpa mem-visualisasikan bagaimanakah bentuk (cara) dan hakikatnya. Hal ini adalah salah satu ijma’ (konsensus) ahlus sunnah.

Ibnu Abi Zamanin Al-Maliki rahimahullah (wafat tahun 399H) berkata,

وَأَخْبَرَنِي وَهْبٌ عَنْ اِبْنِ وَضَّاحٍ، عَنْ زُهَيْرِ بْنِ عُبَادَةَ قَالَ: كُلُّ مَنْ أَدْرَكْتُ مِنْ اَلْمَشَايِخِ: مَالِكٍ وَسُفْيَانَ وَفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ وَعِيسَى وَابْنِ اَلْمُبَارَكِ وَوَكِيعٍ كَانُوا يَقُولُونَ: اَلنُّزُولُ حَقٌّ.

“Mengabarkan kepadaku Wahb, dari Ibnu Wadhdhah, dari Zuhair bin ‘Ubadah, beliau berkata, “Semua guru yang aku temui, yaitu Malik, Sufyan, Fudhail bin ‘Iyadh, ‘Isa, Ibnul Mubarak, dan Waki’, mereka semua mengatakan, “An-nuzuul adalah haq (benar).” [2]

Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat tahun 311 H) berkata,

بَابُ ذِكْرِ أَخْبَارٍ ثَابِتَةِ السِّنْدِ صَحِيحَةِ الْقَوَامِ رَوَاهَا عُلَمَاءُ الْحِجَازِ وَالْعِرَاقِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نُزُولِ الرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ، نَشْهَدُ شَهَادَةَ مُقِرٍّ بِلِسَانِهِ، مُصَدِّقٍ بِقَلْبِهِ  ، مُسْتَيْقِنٍ بِمَا فِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مِنْ ذِكْرِ نُزُولِ الرَّبِّ مِنْ غَيْرِ أَنْ نَصِفَ الْكَيْفِيَّةَ، لِأَنَّ نَبِيَّنَا الْمُصْطَفَى لَمْ يَصِفْ لَنَا كَيْفِيَّةَ نُزُولِ خَالِقِنَا إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، أَعْلَمَنَا أَنَّهُ يَنْزِلُ وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا لَمْ يَتْرُكْ، وَلَا نَبِيُّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بَيَانَ مَا بِالْمُسْلِمِينَ الْحَاجَةُ إِلَيْهِ، مِنْ أَمْرِ دِينِهِمْ فَنَحْنُ قَائِلُونَ مُصَدِّقُونَ بِمَا فِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مِنْ ذِكْرِ النُّزُولِ غَيْرِ مُتَكَلِّفِينَ الْقَوْلَ بِصِفَتِهِ أَوْ بِصِفَةِ الْكَيْفِيَّةِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَصِفْ لَنَا كَيْفِيَّةَ النُّزُولِ وَفِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مَا بَانَ وَثَبَتَ وَصَحَّ: أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا فَوْقَ سَمَاءِ الدُّنْيَا، الَّذِي أَخْبَرَنَا نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَنْزِلُ إِلَيْهِ، إِذْ مُحَالٌ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ أَنْ يَقُولَ: نَزَلَ مِنْ أَسْفَلَ إِلَى أَعْلَى، وَمَفْهُومٌ فِي الْخِطَابِ أَنَّ النُّزُولَ مِنْ أَعْلَى إِلَى أَسْفَلَ

“Pembahasan tentang berita-berita (hadits) yang valid (shahih), diriwayatkan oleh para ulama Hijaz dan Irak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap malam. Kami bersaksi dengan persaksian lisan dan meyakini (membenarkan) di dalam hati tentang isi (kandungan) ini yaitu turunnya Allah Ta’ala tanpa kita gambarkan bagaimana bentuknya. Hal ini karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepada kita bagaimana bentuk turunnya Rabb kita ke langit dunia. Rasulullah (hanya) memberitahukan  kepada kita bahwa Allah turun. Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meninggalkan suatu penjelasan tentang perkara agama mereka yang dibutuhkan oleh kaum muslimin.

Oleh karena itu, kita mengatakan dan membenarkan isi kandungan hadits ini yang menyebutkan turunnya Allah ke langit dunia tanpa membebani diri untuk menggambarkan bagaimanakah bentuknya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menggambarkan kepada kita bagaimanakah cara (bentuk) turunnya Allah.

Dalam berita-berita (hadits) ini terdapat perkara yang jelas dan valid bahwa Allah Ta’ala di atas langit dunia, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia. Karena mustahil dalam bahasa Arab dikatakan “turun dari bawah ke atas”. Sedangkan yang dipahami dalam pembicaraan (bahasa Arab) adalah turun itu dari atas ke bawah.” [3]

Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah (wafat tahun 449 H) membawakan suatu riwayat dari Ishaq bin Ibrahim (Ibnu Rahuyah),

“Pada suatu hari Ibnu Rahuyah menghadiri majelis gubernur Abdullah bin Thahir. Ibnu Rahuyah ditanya tentang hadits nuzul, ‘Apakah hadits itu shahih?’ Ibnu Rahuyah berkata, ‘Iya.’

Maka sebagian ajudan gubernur Abdullah pun bertanya, ‘Wahai Abu Ya’qub (yaitu Ibnu Rahuyah). Apakah Engkau meyakini bahwa Allah Ta’ala turun setiap malam?’ Ibnu Rahuyah berkata, ‘Iya.’ Dia berkata, ‘Bagaimana cara Allah turun?’

Ibnu Rahuyah pun berkata kepadanya, ‘Tetapkan (yakini) dulu bahwa Allah ada di atas, baru akan aku jelaskan tentang turunnya Allah.’

Dia pun berkata, ‘Aku menetapkan bahwa Allah di atas.’

Kemudian Ibnu Rahuyah berkata, ‘Allah Ta’ala berfirman,

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

“Dan datanglah Rabb-mu, dan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr [89]: 22)

Maka sang gubernur berkata, ‘Wahai Abu Ya’qub (Ibnu Rahuyah), bukankah hal itu terjadi pada hari kiamat?’

Ibnu Rahuyah pun berkata,

أعز الله الأمير، ومن يجيء يوم القيامة من يمنعه اليوم؟

‘Semoga Allah memuliakanmu wahai gubernur. Siapa yang (berkuasa) untuk datang pada hari kiamat (yaitu Allah, pen.), maka siapakah yang mampu mencegah-Nya (untuk turun ke langit dunia) setiap malam?’” [4]

Dari kutipan-kutipan di atas, kita mengetahui bahwa ahlus sunnah menetapkan dan meyakini turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia, yang terkait dengan kehendak dan hikmah-Nya. “Turun” yang dimaksud adalah turun yang hakiki, sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak serupa dengan satu pun makhluk-Nya. [5] Oleh karena itu, ahlus sunnah pun berdalil dengan hadits-hadits nuzul untuk menunjukkan ketinggian Dzat Allah Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya. [6]

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 2

***

Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 10 Jumadil awwal 1439/28 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Lihat Fathu Rabbil Bariyyah hal. 54 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.

[2] Ushuulus Sunnah, 1/113.

[3] Kitab At-Tauhiid, 1/289-290.   

[4] ‘Aqidatus Salaf  wa Ash-haabul Hadits, 1/13.

[5] Lihat Fathu Rabbil Bariyyah, hal. 54.

[6] Lihat Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah hal. 414-421, karya Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il Al-Asy’ari dan Tahdzib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah hal. 57, karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin rahimahumullah.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya

Pembagian Tafsir Menurut Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu (Bag. 1)

Komentar 4

  1. Abu fulan says:
    7 tahun yang lalu

    Mana sambungannya ustadz

    Reply
  2. Sumarno says:
    5 tahun yang lalu

    Subhanallah, sangat gamblang dalil dan penjelasannya.
    Allah Mahakuasa, Mahaagung, tidak ada hal yang mustahil bagi Allah untuk melakukan sesuatu sesuai sifat-Nya.
    Otak kita tidak akan mampu memikirkan hakikatnya, kecuali Allah sendiri yang menjelaskan.

    Reply
  3. Ferry Antoni says:
    5 tahun yang lalu

    Yg namanya Maha Kuasa, Ia bisa berbuat, dlm hal ini turun ke langit dunia, dg cara-Nya sendiri—atau itu cara dan bahasa utk rakyat/manusia oleh Nabi SAW kita saja utk gampang mengatakannya; kita rakyat/manusia tdk perlu memikirkan dan mengangan-angankannya. Inilah posisi tafsir yg paling aman.

    Kalau ingin sedikit perbandingan dg cara rakyat/manusia lebih jauh utk bisa memahaminya, ambil raja: Kalau raja mau tahu keadaan rakyatnya, dia bisa minta laporan dari para pembantunya; kalau ia mau bersenang-senang dan berkhidmat kepada rakyatnya, dia bisa dan boleh turun langsung sendiri. Gitu aja; tdk perlu repot berpikir jauh-jauh kan? Ajib :-)

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   7   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah