Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Keimanan terhadap Al-Mizan (Bag. 2)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
1 Januari 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Yang mengingkari keberadaan al-mizan
  • Gambaran (karakteristik) al-mizan

Baca pembahasan sebelumnya: Keimanan terhadap Al-Mizan (Bag. 1)

Yang mengingkari keberadaan al-mizan

Sebagian pengikut sekte Mu’tazilah (tidak seluruhnya) mengingkari adanya al-mizan. Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-mizan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah al-‘adl (keadilan), bukan al-mizan dalam makna hakiki yang kita pahami (yaitu timbangan amal). Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala ketika menjelaskan akidah Mu’tazilah berkaitan dengan masalah al-mizan,

تأويل الميزان، والصراط وعذاب القبر، والسمع والبصر، إنما هو قول البغداديين من المعتزلة دون البصرية

“Mereka (mu’tazilah) menta’wil (menyimpangkan makna) al-mizan, shirath (jembatan), azab kubur, as-sama’ dan al-bashar (sifat Allah Ta’ala yaitu mendengar dan melihat, pen.). Ini adalah pendapat pengikut Mu’tazilah yang ada di Baghdad dan bukan yang ada di Bashrah.” (Dar’ut Ta’aarudh Al-‘Aql wa An-Naql, 5: 348)

Pendapat sebagian pengikut Mu’tazilah ini dibantah sendiri oleh salah satu pembesar Mu’tazilah yaitu Al-Qadhi Abdul Jabbar Al-Mu’tazili yang mengatakan,

“Tidaklah Allah menghendaki (makna) al-mizan kecuali makna yang bisa dipahami dan dikenal di antara kita (yaitu timbangan), bukan al-‘adl (keadilan) atau makna lainnya sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian manusia (yaitu sebagian pengikut mu’tazilah, pen.) Meskipun al-mizan bisa dimaknai dengan al-‘adl sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ

“Dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan).” (QS. Al-Hadid [57]: 25)

namun hal ini adalah berdasarkan perluasan makna dan majas, sedangkan firman Allah Ta’ala selama masih memungkinkan dimaknai sesuai dengan makna sebenarnya (makna hakiki), maka tidak boleh dibawa kepada makna majas. Penjelasannya, seandainya yang dimaksud dengan al-mizan adalah keadilan, maka tidak bisa dipahami adanya sifat “berat” dan “ringan” (sebagaimana dalam ayat dan hadits yang menyebutkan tentang al-mizan, pen.). Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan al-mizan adalah neraca (timbangan) yang kita kenal dan mencakup timbangan yang ada di tengah-tengah kita saat ini.” (Syarh Al-Ushuul Al-Khamsah, hal. 735)

Gambaran (karakteristik) al-mizan

Gambaran al-mizan termasuk dalam perkara gaib yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia. Oleh karena itu, pengetahuan kita terhadap gambaran (karakteristik) al-mizan hanyalah didapatkan dari dalil-dalil wahyu, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antara keterangan yang kita dapatkan tentang gambaran al-mizan adalah firman Allah Ta’ala yang telah kami sebutkan di seri sebelumnya,

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (8) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ (9)

“Timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Barangsiapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka itu orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami.” (QS. Al-A’raf [7]: 8-9)

Juga firman Allah Ta’ala,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 47)

Adapun keterangan yang kita dapatkan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sabda beliau yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

عَرْشُهُ عَلَى المَاءِ، وَبِيَدِهِ الأُخْرَى المِيزَانُ، يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ

“’Arsy-Nya di atas air, dan di tangan-Nya yang lain (memegang) timbangan, yang Dia rendahkan dan Dia tinggikan.” (HR. Bukhari no. 7411)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang seseorang yang memiliki catatan amal buruk yang sangat banyak pada hari kiamat,

فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ البِطَاقَةُ، فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

“Lalu diletakkanlah buku catatan besar pada satu sisi, sedangkan kartu amal (laa ilaaha illallaah) diletakkan di sisi lainnya, maka buku catatan besar itu menjadi ringan (timbangannya) sedangkan kartu amal itu berat, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dibandingkan nama Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2563, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Berdasarkan dalil-dalil di atas, al-mizan memiliki beberapa gambaran, yaitu:

1) Di tangan Allah Ar-Rahman, yang terkadang Dia tinggikan dan Dia rendahkan.

2) Mampu menimbang meskipun sesuatu yang ditimbang tersebut sangat ringan.

3) Sangat teliti (akurat) dalam menimbang, tidak menambah dan juga tidak mengurangi.

4) Salah satu daun timbangan itu ringan, sedangkan daun timbangan lainnya berat.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 3

Baca juga:

  1. Hadits Tentang Kiamat dan Akhirat
  2. Awas! “Kiamat” Bisa Saja Segera Datang
  3. Umat Islam Yang Diusir Oleh Nabi Kelak Di Hari Kiamat

***

Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Rabi’ul akhir 1439/ 28 Desember 2017

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin1
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya

Diam Terhadap Penyimpangan Merupakan Mudahanah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah