Keimanan terhadap Al-Mizan (Bag. 1)

Keimanan terhadap Al-Mizan (Bag. 1)

Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan meletakkan al-mizan (neraca atau timbangan) untuk menimbang amal manusia. Keimanan terhadap al-mizan termasuk dalam salah satu pokok keimanan, berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan juga ijma’ (kesepakatan) ulama kaum muslimin. Dalam serial kali ini, kami akan membahas secara singkat beberapa poin penting terkait keimanan terhadap al-mizan. Dalam kesempatan kali ini, kami akan sebutkan dalil-dalil yang mewajibkan kita untuk beriman terhadap al-mizan.

Dalil dari Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman,

(وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (8) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ (9

“Timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Barangsiapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka itu orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami” (QS. Al-A’raf [7]: 8-9).

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat. Maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah kami sebagai Pembuat perhitungan” (QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 47).

Dalil dari As-Sunnah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

“Dua kalimat yang ringan (diucapkan) oleh lisan, berat dalam timbangan (pada hari kiamat), dicintai oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih), (yaitu) subhaanallahal ‘adziim dan subhaanallah wa bihamdihi” (HR. Bukhari no. 6406).

Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ

Bersuci adalah setengah dari iman, dan (ucapan) alhamdulillah memenuhi timbangan(HR. Muslim no. 223).

Dalil dari Ijma’

Ijma’ (kesepakatan) ulama tentang wajibnya beriman terhadap al-mizan telah dikutip dan disampaikan oleh banyak ulama. Berikut ini kami sebutkan beberapa saja di antara mereka rahimahumullah.

Abu Abdirrahman bin Abi Hatim rahimahullah berkata, “Aku bertanya kepada bapakku dan Abu Zur’ah tentang madzhab ahlus sunnah dalam ushuluddiin (pokok-pokok agama), apa yang mereka berdua ketahui dari ulama yang berasal dari seluruh negeri dan apa yang menjadi aqidah mereka berdua?

Mereka berdua menjawab, “Aku menjumpai ulama dari berbagai negeri, baik Hijaz, Iraq, Syam, dan Yaman. Di antara madzhab mereka: … al-mizan adalah haq (benar adanya), memiliki dua daun timbangan yang dengannya amal baik dan buruk manusia ditimbang.” (Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlus Sunnah oleh Al-Laalikaa’i, 2/197-198)

Ibnu Abi Zamaniin rahimahullah berkata,

و أهل السنة يؤمنون بالميزان يوم القيامة

Dan ahlus sunnah beriman terhadap al-mizan pada hari kiamat” (Ushuul As-Sunnah, hal. 162).

Abul Qasim At-Taimy rahimahullah berkata,

ويؤمنون بملائكة الله، وكتبه، ورسله، وبالقدر خيره و شره، وبسؤال القبر، والشفاعة، والحوض، والميزان

“Mereka (ahlus sunnah) beriman kepada malaikat-malaikat Allah, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, taqdir baik yang baik atau yang buruk, pertanyaan kubur, syafa’at, khaudh (telaga) dan al-mizan” (Al-Hujjah fi Bayaan Al-Mahajjah, 2/434).

Al-Barbahari rahimahullah berkata,

والإيمان بالميزان يوم ااقيامة، يوزن فيه الخير و الشر

“Dan iman terhadap al-mizan pada hari kiamat, ditimbang dengannya kebaikan dan keburukan” (Syarhus Sunnah, hal. 64).

Ibnu Abi ‘Ashim rahimahullah berkata, “Berita (riwayat) yang menyebutkan al-mizan itu banyak dan shahih yang tidak mungkin terluput dari para ahli hadits, karena demikian banyak, shahih dan masyhur (terkenal). Dan semua riwayat itu termasuk berita yang mengharuskan untuk diilmui (diyakini).” (As-Sunnah, 2/525)

[Bersambung]

***

Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Rabi’ul akhir 1439/ 28 Desember 2017

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

[Bersambung]

Keimanan terhadap Al-Mizan (02)

Baca juga:

  1. Perkara yang Pertama Kali Dihisab pada Hari Kiamat
  2. Berapa Kali Sangkakala Ditiup pada Hari Kiamat?
  3. Adzab Kubur, Apakah Berlangsung Terus-Menerus Sampai Hari Kiamat?

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 - sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »