Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Diam Terhadap Penyimpangan Merupakan Mudahanah

Yulian Purnama, S.Kom. oleh Yulian Purnama, S.Kom.
2 Januari 2018
di Manhaj
Share on FacebookShare on Twitter

Pertanyaan:

Sebagian saudara kami yang merupakan da’i ilallah, mereka berpandangan bahwa demi maslahat sebaiknya tidak berbicara mengenai sufiyah dalam muhadharah dan khutbah-khutbah. Tidak membahas masalah istiwa misalnya, atau tidak membahas masalah istightsah atau masalah-masalah yang lain. Mereka berdalil dengan perjanjian yang dilakukan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan orang Yahudi. Apakah pendalilan ini shahih? Bagaimana arahan anda?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab:

Ini pendalilan yang tidak benar. Karena sikap semacam ini (tidak mau menjelaskan penyimpangan) adalah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Maka mereka menginginkan supaya kamu ber-mudahanah (mengorbankan agama) lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)” (QS. Al Qalam: 9).

Ber-mudahanah*) dalam agama tidak diperbolehkan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika membuat perjanjian dengan Yahudi tujuannya agar tidak terjadi perbuatan melampaui batas antar masyarakat. Bukan dalam rangka ridha terhadap agama mereka sama sekali. Tidak mungkin Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ridha terhadap agama mereka. Dan yang anda sebutkan ini, yaitu sikap ridha terhadap penyimpangan mereka adalah kebatilan.

Membuat perjanjian dengan cara demikian (yaitu untuk tidak membahas penyimpangan mereka) ini hakekatnya adalah mudahanah. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk ber-mudahanah dalam perkara agama. Bahkan wajib untuk menjelaskan kebenaran apapun keadaannya.

Namun yang dibolehkan dalam rangka maslahah adalah tidak memulai dakwah dengan pengingkaran. Mulailah dengan memberikan penjelasan-penjelasan perkara yang dibenarkan dalam agama.

Misalnya, jika ingin membahas masalah istiwa sebagaimana anda sebutkan, maka mulailah dengan membahas makna istiwa, membahas hakekat istiwa, tanpa menyebutkan bahwa ada sekelompok orang yang menyimpang dalam menafsirkan istiwa. Baru dijelaskan ketika orang-orang sudah memahami dengan benar (dasar-dasarnya), dan ketika mereka sudah mengenal al haq, maka ketika itu akan mudah bagi mereka untuk berpindah dari kebatilan kepada al haq.

***

Sumber: Liqa Al Baabil Maftuh, 156/17, Asy Syamilah

*) mudahanah artinya bermuamalah dengan orang fasiq, menampakkan keridhaan kepadanya tanpa menunjukkan pengingkaran (Fathul Bari libni Hajar, 10/528). Sebagian ulama juga mendefinisikan mudahanah adalah mengorbankan agama demi kemaslahatan dunia (Fathul Bari libni Hajar, 10/545).

Baca juga:

  1. Haruskah Menjadi Sempurna Untuk Bisa Menasehati?
  2. Menasehati Pemimpin, Yes, Menghina Pemimpin, No!
  3. Maksud Nasehat, Ingin Orang Lain Jadi Baik

Penulis: Yulian Purnama
Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin1
Yulian Purnama, S.Kom.

Yulian Purnama, S.Kom.

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web Muslim.or.id dan Muslimah.or.id

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya
di manakah Allah

Menjawab Pertanyaan "Di manakah Allah?"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah