Kesembuhan Melalui Metode Syirik (03)

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (03)

Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 2)

 
Lalu Mengapa Keinginan Mereka Terkabul?

Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha adil dan Maha pemurah. Allah Ta’ala mengabulkan doa dan keinginan hamba-hambaNya yang berdoa kepada-Nya dalam kondisi terpejit, tidak berdaya, dan benar-benar berada dalam kesulitan. Orang-orang seperti itu, dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa, hatinya akan berkonsentrasi dalam berdoa, dan tidak disibukkan oleh perkara-perkara yang lain.

Orang yang sedang dalam kondisi terjepit dan mengalami kesusahan, maka tidak ada sesuatu yang dapat memalingkan dan melalaikan hatinya dari apa yang dia butuhkan. Orang dalam kondisi seperti ini, doa dan keinginannya pasti dikabulkan, tidak peduli apakah dia seorang muslim, orang kafir, atau musyrik, apakah dia menempuh jalan yang sesuai dengan syariat, ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan, apabila dia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml [27]: 62)

Oleh karena itu pula, doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan karena dalam kondisi teraniaya itu dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa. Meskipun dia adalah orang yang suka bermaksiat, bahkan orang kafir sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دعوة المظلوم مستجابة و إن كان فاجرا ففجوره على نفسه

“Doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan, meskipun dia suka berbuat jahat (maksiat). Karena kejahatannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [1]

Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إياكم و دعوة المظلوم و إن كانت من كافر فإنه ليس لها حجاب دون الله عز و جل

“Hati-hatilah kalian dengan doa orang yang teraniaya, meskipun orang kafir. Karena sesungguhnya tidak ada penghalang yang menghalangi doa tersebut dengan Allah Ta’ala.” [2]

Bukti lainnya, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang musyrik yang sedang terkepung bahaya di lautan. Karena ketika dalam kondisi terjepit dan terkepung bahaya seperti itu, mereka betul-betul mengikhlaskan doanya kepada Allah Ta’ala, sangat berharap kepada-Nya, dan sangat khawatir kalau doanya tidak dikabulkan. Allah Ta’ala menceritakan tentang kondisi mereka,

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’ [17]: 67)

Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka, padahal status mereka adalah orang-orang musyrik? Dari sini jelaslah bahwa terkabulnya doa atau terwujudnya keinginan tidaklah menunjukkan bahwa seseorang berada di atas kebenaran. Tidak pula menunjukkan benarnya cara atau metode yang ditempuh.

Bagaimana mungkin kita menilai kebenaran dengan berpatokan pada terwujudnya keinginan, padahal Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan ketika setan berdoa kepada-Nya,

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dia (setan) berdoa, ‘Ya Allah, tangguhkan usiaku hingga hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr [15]: 36)

Dan ternyata, Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan itu dalam firman-Nya,

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

“Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu), sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr [15]: 37-38)

Apakah dengan dikabulkannya doa setan itu, berarti Allah Ta’ala ridha dengan tindakan setan yang menyesatkan hamba-Nya di muka bumi? Apakah berarti setan berada dalam jalan kebenaran?

Alangkah bagusnya penjelasan yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika beliau menjelaskan sebab-sebab terkabulnya doa dan keinginan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

”Adapun terkabulnya doa, maka terkadang sebabnya adalah orang yang berdoa betul-betul sangat membutuhkan dan jujur dalam permohonannya. (Atau bisa jadi) sebabnya semata-mata adalah rahmat Allah Ta’ala kepadanya, atau terkadang karena memang itulah yang Allah tetapkan untuknya, bukan karena doanya. Dan bisa jadi karena sebab-sebab lainnya, sebagai ujian bagi orang yang berdoa. Sesungguhnya kita telah mengetahui bahwa orang kafir pun dikabulkan doanya, sehingga mereka pun diberi hujan, diberi kemenangan, diberi kesehatan, dan diberi rizki. Padahal mereka berdoa kepada berhala-berhala mereka dan ber-tawassul dengan mereka.” [3]

Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta’ala,

كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’ [17]: 20) [4]

Dan juga firman Allah Ta’ala,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72]: 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Rabb kalian Tabaaraka wa Ta’ala itu Maha  malu dan Maha mulia. Allah malu kepada hamba-Nya yang (berdoa) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, dan mengembalikannya dalam keadaan hampa (tidak mengabulkannya).“ (HR. Abu Dawud no. 1488) [5]

Oleh karena itulah, terwujudnya doa dan keinginan orang-orang yang berobat ke dukun atau paranormal bisa jadi karena sebab-sebab di atas. Mereka berdoa kepada Allah Ta’ala seperti berdoanya orang yang benar-benar dalam kesulitan dan kesusahan. Hal ini bisa kita saksikan pada orang-orang yang datang ke dukun. Orang-orang yang sedang sakit (atau keluarga pasien) itu datang kepada dukun dalam kondisi kesusahan, terjepit, dan bisa jadi mereka menyadari bahwa tidak ada upaya lagi yang dapat dia tempuh selain berdoa kepada-Nya setelah upaya yang lain berakhir dengan sia-sia. Allah Ta’ala pun mengabulkan doa dan keinginan mereka, meskipun mereka menempuh cara-cara syirik seperti itu. Sehingga hal itu tidaklah menunjukkan benarnya cara yang mereka tempuh. [Bersambung]

***

Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1]     HR. Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya, Ahmad (II/367), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 5694. Lihat pula Silsilah Ash-Shahihah, II/266.

[2]     Terdapat di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir karya As-Suyuthi (Lihat Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Manawi, 3/127, hadits no. 2915). Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 4447.

[3]     Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/167-168.

[4]     Dua golongan itu disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam dua ayat sebelumnya,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

    “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18-19)

[5]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud.

 

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 – sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »