Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 4)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
2 Desember 2017
di Kesehatan Islami
Share on FacebookShare on Twitter

Mengapa tidak berfikir bahwa itu adalah hukuman?

Sekarang, marilah kita berfikir sejenak. Mengapa kita tidak berfikir bahwa tercapainya tujuan yang kita harapkan dengan cara-cara yang tidak benar itu merupakan bentuk ujian atau hukuman Allah Ta’ala kepada kita? Sehingga kita semakin jauh tersesat dalam kesyirikan, namun kita menyangka bahwa Allah Ta’ala meridhai kita? Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di seri sebelumnya, yang menjelaskan bahwa terkabulnya doa bisa jadi merupakan bentuk ujian bagi manusia.

Saudaraku, inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. Dia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia melakukan tindakan yang benar, sehingga dia terus tenggelam dalam kemaksiatannya dan tidak terfikir untuk bertaubat. Oleh karena itu, hukuman yang akan dia terima di akhirat pun akan semakin bertambah sesuai dengan kemaksiatan yang terus-menerus dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ …

“Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413)

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)

Kenikmatan atau tercapainya tujuan yang diinginkan (padahal dirinya dalam kondisi bermaksiat) inilah yang membuat manusia lalai dan tidak sadar. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diberi hukuman oleh Allah Ta’ala. Karena menurut persangkaan mereka, kenikmatan yang mereka raih adalah bukti ridha Allah Ta’ala atas tindakan mereka. Allah Ta’ala membantah anggapan seperti ini dalam firman-Nya,

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)

Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kesenangan dan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi kepada mereka berupa harta yang melimpah, rumah mewah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Apakah hal itu berarti Allah Ta’ala mencintai dan merdhai kekafiran mereka? Tidak, sama sekali tidak.

Kalau ukuran kebenaran adalah kenikmatan duniawi yang berhasil diraih, berarti agama orang kafir, itulah agama yang benar? Karena orang kafir kebanyakan lebih kaya, lebih sejahtera hidupnya, kehidupan orang kafir lebih modern, dan lebih maju. Sedangkan agama Islam adalah agama yang salah? Karena umat Islam kebanyakan miskin, terbelakang, hina, dan tertinggal jauh dalam hal IPTEK. Tentu kita semua sepakat bahwa hal itu tidak benar.

Oleh karena itu, kenikmatan duniawi atau berhasilnya tujuan yang kita raih bukanlah bukti atas bolehnya cara yang ditempuh. Bahkan hal itu justru merupakan ujian dan hukuman yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka sehingga mereka semakin tenggelam dalam kesesatannya.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 3

***

Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL, 1 Muharram 1439/21 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Sudah Salat, Tapi Masih Depresi? Inilah Jawaban Islam

oleh Muhammad Insan Fathin
15 Juni 2026
0

Setiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan...

Mengasah Rasa untuk Bahagia

Kesehatan Mental: Mengasah Rasa untuk Bahagia

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
11 Oktober 2024
0

Hidup bahagia adalah keinginan yang didambakan setiap orang. Namun, sering kali kita lupa bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat kita...

Misinformasi Kesehatan

Bahaya Misinformasi dalam Bidang Kesehatan dan Bagaimana Seorang Muslim Bersikap

oleh M. Saifudin Hakim
2 Agustus 2021
0

Selama masa pandemi, banyak sekali kita jumpai informasi, berita, dan kabar yang belum tentu teruji kebenarannya. Sayangnya, sebagian di antara...

Artikel Selanjutnya

Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 4   +   7   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah