Kesembuhan Melalui Metode Syirik (04)

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (04)

Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 3)

Mengapa Tidak Berfikir Bahwa Itu adalah Hukuman?

Sekarang, marilah kita berfikir sejenak. Mengapa kita tidak berfikir bahwa tercapainya tujuan yang kita harapkan dengan cara-cara yang tidak benar itu merupakan bentuk ujian atau hukuman Allah Ta’ala kepada kita? Sehingga kita semakin jauh tersesat dalam kesyirikan, namun kita menyangka bahwa Allah Ta’ala meridhai kita? Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di seri sebelumnya, yang menjelaskan bahwa terkabulnya doa bisa jadi merupakan bentuk ujian bagi manusia.

Saudaraku, inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. Dia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia melakukan tindakan yang benar, sehingga dia terus tenggelam dalam kemaksiatannya dan tidak terfikir untuk bertaubat. Oleh karena itu, hukuman yang akan dia terima di akhirat pun akan semakin bertambah sesuai dengan kemaksiatan yang terus-menerus dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ …

“Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413)

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)

Kenikmatan atau tercapainya tujuan yang diinginkan (padahal dirinya dalam kondisi bermaksiat) inilah yang membuat manusia lalai dan tidak sadar. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diberi hukuman oleh Allah Ta’ala. Karena menurut persangkaan mereka, kenikmatan yang mereka raih adalah bukti ridha Allah Ta’ala atas tindakan mereka. Allah Ta’ala membantah anggapan seperti ini dalam firman-Nya,

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.(QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)

Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kesenangan dan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi kepada mereka berupa harta yang melimpah, rumah mewah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Apakah hal itu berarti Allah Ta’ala mencintai dan merdhai kekafiran mereka? Tidak, sama sekali tidak.

Kalau ukuran kebenaran adalah kenikmatan duniawi yang berhasil diraih, berarti agama orang kafir, itulah agama yang benar? Karena orang kafir kebanyakan lebih kaya, lebih sejahtera hidupnya, kehidupan orang kafir lebih modern, dan lebih maju. Sedangkan agama Islam adalah agama yang salah? Karena umat Islam kebanyakan miskin, terbelakang, hina, dan tertinggal jauh dalam hal IPTEK. Tentu kita semua sepakat bahwa hal itu tidak benar.

Oleh karena itu, kenikmatan duniawi atau berhasilnya tujuan yang kita raih bukanlah bukti atas bolehnya cara yang ditempuh. Bahkan hal itu justru merupakan ujian dan hukuman yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka sehingga mereka semakin tenggelam dalam kesesatannya. [Selesai]

***

Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 – sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »