Akidah Agama Syi’ah (2)

Akidah Agama Syi’ah (2)

Baca pembahasan sebelumnya Akidah Agama Syi’ah (1)

  1. Menetapkan sifat Al-Badaa’ bagi Allah

Di antara akidah sesat dan menyesatkan yang wajib diyakini menurut orang-orang Syi’ah adalah keyakinan bahwa Allah memiliki sifat Al-Badaa’, yaitu Allah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui oleh-Nya.

Hal ini sama saja dengan menetapkan sifat bodoh bagi Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka tetapkan dan Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka sifati.

Muhammad bin Ya’quub Al-Kulainiy dalam kitabnya Ushuul Al-Kaafi berkata:

عن زرارة ابن أعين عن أحدهما عليهما السلام قال: ما عبد الله بشيء مثل البداء

“Dari Zuraarah bin A’yun, dari salah satu di antara dua imam besar –‘alaihimas salaam- bahwa dia berkata: ‘Tidaklah Allah diibadahi dengan sesuatu yang semisal dengan Al-Badaa’.’”

عن مرازم بن حكيم قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: ما تنبأ نبي قط، حتى يقر لله بخمس خصال: بالبداء والمشيئة والسجود والعبودية والطاعة

“Dari Maraazim bin Hakiim dia berkata, ‘Aku mendengar Abu ‘Abdillah –‘alaihis salaam- berkata: ‘Tidaklah seseorang diangkat menjadi nabi, kecuali setelah menetapkan bagi Allah lima perkara: Al-Badaa’, Al-Masyii’ah, As-Sujuud, Al-‘Ubuudiyyah, dan Ath-Thaa’ah.’”.

بدا لله في أبي محمد بعد أبي جعفر ما لم يكن يعرف له، كما بدا له في موسى بعد مضي إسماعيل ما كشف به عن حاله وهو كما حدثتك نفسك وإن كره المبطلون

“Telah jelas bagi Allah tentang Abu Muhammad setelah meninggalnya Abu Ja’far, sebagaimana yang terjadi pada Musa (Al-Kaazhim –pen) setelah meninggalnya Ismaa’il. Hal itu seperti hati yang membisikkan kepadamu, walaupun orang-orang yang ingkar itu membencinya.”

Mereka telah berdusta kepada Allah dan kepada para imam mereka. Mereka mengklaim bahwa pada awalnya Allah menghendaki Abu Ja’far menjadi imam, akan tetapi ketika Abu Ja’far meninggal dan belum sempat menjadi imam, mereka berdalih bahwa Allah telah berubah pikiran menghendaki Abu Muhammad yang menjadi imam. Sebagaimana juga pernah terjadi sebelumnya bahwa Allah semula menghendaki Isma’il yang menjadi imam, lalu Allah berubah pikiran menghendaki Musa Al-Kaazhim yang menjadi imam.

Yaa subhaanallaah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan. Sungguh itu merupakan kedustaan yang besar.

Al-Kulainiy juga meriwayatkan sebuah hadits dengan sanadnya sampai kepada Abu Hamzah Ats-Tsumaaliy:

عن أبي حمزة الثمالي قال: سمعت أبا جعفر عليه السلام يقول: يا ثابت إن الله تبارك وتعالى قد كان وقت هذا الامر في السبعين، فلما أن قتل الحسين صلوات الله عليه اشتد غضب الله تعالى على أهل الأرض، فأخره إلى أربعين و ومائة، فحدثناكم فأذعتم الحديث فكشفتم قناع الستر (1) ولم يجعل الله له بعد ذلك وقتا عندنا ويمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب

“Dari Abu Hamzah Ats-Tsumaaly dia berkata, ‘Aku mendengar Abu Ja’far ‘alaihis salaam berkata, ‘Wahai Tsaabit, sesungguhnya Allah Tabaaraka wa Ta’alaa dulu pernah memberikan batas waktu keluarnya Al-Mahdi di tahun 70 H. Tatkala Husein terbunuh –shalawaatullaah ‘alaih- maka Allah pun murka kepada penduduk bumi, diakhirkanlah waktu kemunculan Al-Mahdi menjadi pada tahun 140 H. Lalu kami beritakan kepada kalian hal itu dan kalian pun menyebarluaskan berita tersebut dan kalian membuka rahasia tersebut, maka akhirnya Allah setelah itu tidak memberitahukan lagi kepada kami kapan waktu kemunculan Al-Mahdi. Dan Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya ada Al-Lauh Al-Mahfuuzh.’”

Beginilah akidah agama Syi’ah, menetapkan sifat Al-Badaa’ bagi Allah. Sifat makhluk yang penuh dengan kekurangan pun disematkan kepada Allah agar agama yang mereka anut sesuai dengan hawa nafsu mereka. Sebenarnya penetapan sifat yang sangat tidak layak bagi Allah ini hanyalah sebagai alibi yang mereka gunakan dalam rangka mencari pembenaran atas perkataan-perkataan atau ramalan-ramalan imam mereka yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Jika demikian adanya, apakah kita masih menganggap bahwa perbedaan antara Syi’ah dan Sunnah hanyalah perbedaan di tingkat “kulit” saja?

Sungguh Islam berlepas diri dari akidah yang sangat buruk ini (baca: Al-Badaa’) dan pelakunya.

….(bersambung, in syaa Allaah)

Selesai ditulis di Banyumas, ba’da maghrib 11 Muharram 1439 H.

Penulis: Teuku Muhammad Nurdin
Artikal: Muslim.Or.Id

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Abu Yazid Nurdin

Alumnus dan mantan pengajar Ma’had Al Ilmy Yogyakarta, pernah bermulazamah dengan Syaikh Abdul Karim bin Sa’ad Asy Syawway di Riyadh, alumnus Fakultas Syari’ah Univ. Islam Muhammad bin Su’ud, Riyadh, staf pengajar PP Tunas Ilmu, Purbalingga.

View all posts by Abu Yazid Nurdin »