Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mengenal Syiah: Antara Syiah Dan Imperium Persia (4)

Muhammad Singgih Pamungkas oleh Muhammad Singgih Pamungkas
27 November 2015
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Orang majusi mengambil kesempatan[2.Lihat Wa Jaa’a Daurul Majuus, hal. 76-79]
  • Peran orang Yahudi

Pada tulisan yang lalu kita telah membahas bagaimana terjadinya polemik antara para sahabat yang berujung dengan peperangan antara dua kelompok besar dari kaum muslimin. Kita pun melihat bagaimana persaudaraan tetap terjaga diantara mereka. Bahwa peperangan yang terjadi tidak membuat mereka saling mencela apalagi saling mengkafirkan.

Terjadinya polemik tersebut tentunya merupakan hal yang lumrah terjadi, melihat bahwa para sahabat -dengan segala kemuliaan dan keutamaan yang diberikan kepada mereka-, tetap merupakan manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Namun kita meyakini bahwa dosa yang mereka lakukan telah dihapuskan oleh Allah ta’ala. Entah karena mereka sudah bertaubat, atau karena kebaikan yang mereka lakukan, atau karena keutamaan mereka sebagai orang orang yang terdahulu masuk agama islam, atau bisa juga terhapuskan oleh syafaat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mana tentu saja para sahabat adalah orang yang paling berhak mendapatkannya[1. Akidah Wasathiyah, Ibnu Taimiyah].

Itu berlaku untuk kesalahan yang berujung dosa. Lalu bagaimana dengan kesalahan yang sifatnya ijtihad sebagaimana yang terjadi pada perang siffin? Yang mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjanjikan dua pahala bagi yang ijtihadnya benar dan satu pahala bagi yang ijtihadnya salah?!

Orang majusi mengambil kesempatan[2.Lihat Wa Jaa’a Daurul Majuus, hal. 76-79]

Namun pandangan tersebut akan berbeda jika yang melihat adalah orang orang picik yang memang ingin berbuat jahat. Orang-orang Majusi persia melihat bahwa perselisihan yang terjadi adalah kesempatan emas untuk kembali menjalankan aksi mereka. Mereka pun memutuskan untuk berada di pihak Ali bin Abi Thalib. Bukan karena mereka memandang kebenaran berada di pihak Ali! Bukan! Mereka mendukung Ali karena mereka ingin menggunakan posisi Ali sebagai menantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Yang dengan itu mereka ingin memunculkan propoganda berupa cinta kepada Ahlul Bait, yaitu keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Siapa diantara kaum muslimin yang tidak mencintai keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?!

Dari konsep cinta ahlul bait ini mereka ingin menghidupkan kembali ajaran Majusi yang mengkultuskan sebuah keluarga. Sebagaimana kita ketahui, salah satu ajaran agama majusi adalah keharusan adanya sebuah keluarga yang berisi orang orang ma’shum, yang terbebas dari dosa baik yang besar maupun kecil. Keluarga inilah yang mengatur urusan agama rakyatnya. Maka dengan konsep cinta ahlul bait, mereka pun bisa menghidupkan ajaran lama mereka. Makanya konsep ahlul bait bukan hanya sekedar mencintai ahlu bait saja, tapi juga mengkultuskan dan menganggap bahwa para imam imam mereka yang merupakan keturunan Rosulullah Shallallalhu ‘Alaihi Wasallam adalah sebuah kultur keluarga (Ahlu bait) yang memiliki sifat ishmah (terjaga dari dosa). Perkataan mereka pun dianggap laksana wahyu yang harus diikuti.

Hal ini bertambah kuat dengan menikahnya cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu Husain bin Abi Thalib dengan putri Yazdajir (raja Persia). Yazdajir dan putrinya ketika itu telah menjadi tawanan kaum muslimin. Karena putri dari seorang raja, kaum muslimin pun menikahkannya dengan Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dengan pernikahan tersebut tentunya akan lahir orang orang yang berdarah persia dari keturunan Husain Radhiyallahu ‘Anhu. Sementara orang-orang Majusi adalah orang orang yang sangat fanatik dengan bangsa mereka. Maka selain menghidupkan kembali ajaran Majusi, berdirinya mereka di sisi Ali bin Abi Thalib dan putranya Husain tentunya juga didasarkan kefanatikan mereka kepada darah persia.

Peran orang Yahudi

Ternyata bukan hanya orang orang Majusi saja yang berdiri di barisan Ali untuk berbuat makar. Di saat yang sama orang orang Yahudi yang dipelopori Abdullah bin Saba pun berdiri di satu barisan. Merekapun bersekongkol dan bekerja sama untuk melakukan konspirasi di tubuh kaum muslimin.

Setelah syahidnya Ali bin Abi Thalib ditangan seorang khawarij Abu Muljam, orang orang Majusi dan Yahudi terus menerus dengan gigih memprovokasi para pendukung Ali untuk memerangi bani Umayyah dengan dalih cinta kepada Ahlu bait. Mereka juga terus berusaha memunculkan aliran aliran kebatinan yang sesuai dengan ideologi Majusi Persia. Hingga merekapun berhasil memunculkan aliran Sabaiyah dan Kisaniyah.

Sabaiyah[3.Tentang sabaiyah bisa dilihat di Al Mausuu’ah Al Muyassaroh, hal . 1067-1068 dan Al Milal Wan Nihal, hal. 192] dinisbatkan kepada Abdulllah bin Saba yang mengajak kepada penuhanan kepada Ali bin Abi Thalib. Ketika Ali bin Abi Thalib masih hidup, sebagian mereka berkata kepada Ali, “engkau adalah engkau”. Ali pun bertanya, “siapa saya?”, mereka menjawab, “engkau adalah pencipta”. Maka ali pun menyuruh mereka bertaubat, namun mereka tidak mau bertaubat. Maka Ali pun membuat api yang sangat besar dan membakar mereka. Sementara Abdullah bin Saba, sebagian sejarawan mengatakan bahwa dia tidak ikut dibakar, namun diasingkan ke negri Madain. Dan setelah Ali bin Abi Thalib syahid terbunuh, dia pun menyatakan bahwa Ali tidaklah meninggal dunia.

Selain meyakini ketuhanan Ali bin Abi Thalib, orang orang sabaiyah juga meyakini bahwasanya Ali adalah orang yang telah mendatangkan awan untuk menurunkan hujan. Bahwa halilintar pada hakekatnya merupakan suara Ali, dan kilatannya merupakan senyuman Ali. Mereka juga mengatakan bahwasanya Ali akan kembali lagi turun ke bumi untuk mengisi bumi dengan keadilan.

Adapun kisaniyah[4.Tentang kisaniyah bisa dilihat di Al Milal Wan Nihal. Hal. 168] adalah para pengikut kisan yang merupakan budak dari Ali bin Abi Thalib. Mereka memiliki keyakinan tanashukul arwah, hulul, dan raj’ah[5.Kembalinya nyawa ke dalam kehidupan di dunia] setelah kematian. Mereka juga mengatakan bahwa ilmu kaisan mencakup seluruh ilmu. Dan kaisan telah mengambil ilmu tersebut dari dua penghulu yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dan putra beliau Muhammad bin Hanafiyah Rahimahullah.

Melalui dua aliran kebatinan tersebut lahirlah aliran aliran kebatinan yang lain, seperti mukhtariyah, hasyimiyah, bayaaniyah, dan romaziyah[6.Lihat tentang ajaran aliran aliran tersebut dalam Al Milal Wan Nihal, hal. 168-173]. Yang mana meskipun nama mereka bermacam macam, pada hakekatnya ajaran mereka sama.

Pada masa Bani Umayyah aliran aliran tersebut diberantas oleh tangan kekuasaan Bani Umayyah. Orang orang pun mengira bahwa mereka telah punah dan tidak akan muncul kembali. Namun hal tersebut ternyata keliru. Karena jangan lupa, bahwa orang orang persia sangat mudah memainkan gerakan bawah tanah. Jikapun gerakan yang muncul dipermukaan telah habis, maka masih ada gerakan bawah tanah yang akan kembali muncul jika saatnya telah tiba.

***

Penulis: Muhammad Singgih Pamungkas

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

____

Tags: syiah
ShareTweetPin1
Muhammad Singgih Pamungkas

Muhammad Singgih Pamungkas

Mahasiswa Fakultas Dakwah wa Ushuluddin, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia

Artikel Terkait

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
10 Juni 2026
0

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan...

Artikel Selanjutnya

Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami Istri?

Komentar 1

  1. Fiki Andrea says:
    11 tahun yang lalu

    https://www.facebook.com/100006569776736/videos/1739354612960181/

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   8   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah