Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Ketika Orang Lain Memuji Kita: Menundukkan Hati di Tengah Sanjungan

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
5 Juli 2026
di Tazkiyatun Nufus
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipuji
  • Kedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombongan
  • Ketiga, rajinlah berdoa agar dijadikan sebagai orang yang baik

Siapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang lain. Namun, seorang mukmin tidak hanya memandang pujian sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia juga melihatnya sebagai ujian yang dapat mengangkat derajatnya atau justru menjerumuskannya ke dalam kesombongan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mengalami kondisi ketika ada orang yang memuji dan menyanjung kita serta menganggap kita sebagai sosok orang yang baik. Lalu, apa yang seharusnya kita ucapkan saat itu dan bagaimana sikap kita apabila mengalami kondisi tersebut? Mari perhatikan dan simak atsar berikut ini.

Dari Adi bin Arthaah, dia bercerita,

كان الرجل من أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا زُكِّي، قال :اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ

“Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika dia dipuji, dia mengucapkan, ‘Allahumma la tu-akhizni bima yaqulun, waghfirli mala ya’lamun, waj’alni khoiron mimma yadzunnun.’ (Wahai Allah, janganlah Engkau siksa hamba-Mu ini dengan sebab pujian yang mereka ucapkan, ampunilah hamba-Mu ini dari perbuatan dosa yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah hamba lebih baik dari perkiraan mereka).” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 761 dan dalam Shahihul Adabil Mufrad, no. 585. Syekh Al-Albani rahimahullah menilai sanad hadis ini sahih. Potongan terakhir dari atsar ini merupakan tambahan dalam riwayat Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman, 4: 228)

Dari atsar yang mulia ini, terdapat beberapa pelajaran berharga.

Pertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipuji

Pujian sering kali menjadi pintu masuk bagi penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu kesombongan. Ketika seseorang terus-menerus mendengar dan menerima sanjungan, ia bisa mulai mengagumi dirinya sendiri, merasa lebih baik dari orang lain, dan lupa bahwa seluruh kebaikan yang ada padanya adalah karunia Allah semata.

Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يدخلُ الجنةَ مَن كان في قلبه مِثقال ذرةٍ من كِبر

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)

Seorang mukmin memahami bahwa manusia hanya melihat sebagian kecil dari dirinya. Mereka melihat kebaikan yang tampak, sementara berbagai kekurangan, dosa, dan aib yang tersembunyi hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, semakin banyak pujian yang diterima, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga hati agar tidak tertipu oleh penilaian manusia.

Baca juga: Larangan Berlebihan dalam Memuji

Kedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombongan

Perhatikan doa para sahabat, “Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui.”

Kalimat ini menunjukkan betapa dalamnya pengenalan mereka terhadap diri sendiri. Ketika orang lain melihat kelebihan mereka, mereka justru mengingat dosa-dosa, aib, dan kekurangan yang tersembunyi.

Inilah salah satu obat paling ampuh untuk menghancurkan kesombongan yaitu dengan mengingat dosa-dosa diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Seseorang yang mengenal dirinya dengan baik, dia akan sadar bahwa amalnya masih sedikit, ilmunya masih kurang, ibadahnya masih jauh dari sempurna, dan dosanya banyak yang tidak diketahui manusia. Oleh sebab itu, ketika dipuji, hendaknya ia memperbanyak istigfar dan menyadari akan kekurangan dirinya yang tidak nampak dari pandangan orang lain.

Ketiga, rajinlah berdoa agar dijadikan sebagai orang yang baik

Bagian terakhir dari doa sahabat tersebut sangat menyentuh, “Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.”

Ini menunjukkan bahwa ketika dipuji, seorang mukmin hendaknya memohon kepada Allah Ta’ala agar benar-benar memperbaiki dirinya. Sering kali manusia menilai kita lebih baik daripada kenyataan yang sebenarnya. Mereka melihat sisi luar, sementara Allah Ta’ala mengetahui keadaan hati dan amal kita yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, ketika dipuji, jadikanlah pujian tersebut sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika orang lain menganggap kita sebagai orang yang saleh, maka berusahalah agar kita benar-benar menjadi saleh di sisi Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat (mau menerima) petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17)

Pujian bukanlah tanda bahwa kita telah sempurna. Pujian adalah ujian yang menguji keikhlasan dan kerendahan hati kita. Ketika orang lain memuji kita, janganlah hati menjadi tinggi, tetapi tundukkanlah diri di hadapan Allah Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang rendah hati, tidak tertipu oleh pujian manusia, dan senantiasa berusaha memperbaiki diri di hadapan Allah Ta’ala. Aamiin.

Baca juga: Ketika Kita Ingin Dilihat

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

- S1 Jurusan Kewarganegaraan dan Hukum UNY - Ketua Hijrah Dakwah (@hijrahdakwah.id) - Pernah belajar di: PPTQ Harun Syafi’i, Markas Riwayah Ibnu Qudamah, Markas Takallam Duri - Pernah mengambil sanad Azan ke asatidz Markas Ibnu Syubah Boyolali

Artikel Terkait

Perbedaan Makna Tobat dan Istigfar

oleh Glenshah Fauzi
13 Juli 2026
0

Dalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman...

Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
31 Mei 2026
0

Dalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta'ala. Seorang muslim...

Mengenali Diri Sendiri, Jalan Menuju Ketenangan Hati

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Mei 2026
0

Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita...

Artikel Selanjutnya

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 9   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah