Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Aktivitas Dunia Bisa Jadi Ibadah? Tulus atau Modus?

Reza Mahendra oleh Reza Mahendra
16 Januari 2026
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Awasi hati sesering mungkin
  • Jujur kepada diri sendiri

Sudah kita ketahui bersama bahwa ada dua macam ibadah. Ada ibadah mahdhah, yaitu ibadah murni seperti salat, berpuasa, atau menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadah ghairu mahdhah, yakni aktivitas duniawi yang bisa berbuah pahala ketika kita meniatkannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Misalnya, karyawan yang meniatkan aktivitas kerjanya untuk menafkahi keluarga, atau berolahraga sebagai ikhtiar sehat untuk menunjang ibadah lainnya.

Sekali lagi, aktivitas dunia dapat menjadi bentuk ibadah kepada Allah. Hanya saja, perlu kita perhatikan dua catatan berikut sebelum kita merasa, apalagi mengklaim, bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.

Awasi hati sesering mungkin

Boleh jadi saat kita pergi ke kantor di pagi hari, niat kita masih tulus untuk menafkahi keluarga sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sayangnya, memasuki waktu sore, secara tidak sadar niat kita sudah berubah: ingin mengalokasikan gaji bulan ini sekadar untuk biaya konsumsi dan membeli gadget flagship keluaran terbaru. Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sungguh setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan sungguh setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia niatkan tersebut.” [1]

Amal itu tergantung pada niatnya, dan niat itu letaknya di hati. Ketika niat kita sudah bergeser sekadar untuk menikmati dunia, maka amal kita sudah tidak lagi ternilai sebagai ibadah. Awasi terus hati kita sesering mungkin, baik sebelum, saat, maupun setelah beramal, karena hati itu rawan terbolak-balik. Karenanya, bahkan Rasulullah ﷺ yang merupakan manusia terbaik pun senantiasa berdoa,

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [2]

Baca juga: Mengenal Fungsi Niat

Jujur kepada diri sendiri

Boleh jadi kita mengklaim bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, namun hakikatnya tidak demikian. Sebenarnya kita memang sedang gila dunia saja, tetapi kita tidak merasa nyaman dengan realitas tersebut. Kita menyangkal kenyataan itu, karena hanya mau mendengar hal yang kita sukai. Kita hanya ingin melakukan hal yang diinginkan, namun enggan menerima konsekuensi dari jalan yang telah dipilih.

Alhasil, agar bisa nyaman dengan diri sendiri, kita memilih untuk membohongi hati nurani dengan mencari pembenaran, dengan mengatakan bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sejatinya, kita sepenuhnya sadar bahwa klaim tersebut hanyalah justifikasi belaka.

Terlebih jika yang menyadarkan kecanduan kita kepada dunia itu adalah orang lain. Saat asyik-asyiknya dimabuk dunia, datang orang lain berkata kepada kita, “Aku lihat kamu selama ini sibuk kerja, istirahat, main. Aku nggak pernah lihat kamu salat, doa, atau baca Al-Quran.”

Mendengar hal itu, hati kecil kita sebenarnya terketuk ingin berkata, “Kamu benar, terima kasih nasihatnya. Semoga Allah memberi hidayah kepadaku.” Tetapi, karena lebih memilih menipu diri sendiri, kita justru memasang sikap defensif dengan menyerang balik bertubi-tubi sebagai bentuk pertahanan terbaik. Apabila dalam nasihat itu terdapat kekeliruan dalam penyampaiannya, kita langsung memusatkan perhatian untuk menyerang kesalahan itu, alih-alih fokus merenungi isi nasihat dan mengucap syukur atas niat baiknya. Bahkan, terkadang kita rela menyisihkan waktu untuk mengingat-ingat kekurangan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pesan yang disampaikan, semata untuk membantah nasihatnya.

Kita mengatakan, “Kamu tau apa tentangku, memangnya kamu mengawasiku 24 jam setiap harinya? Lagipula, bukankah aktivitas dunia juga bisa menjadi ibadah? Bukankah selain ada hablum minallah, juga ada hablum minannas? Bukankah tubuh ini juga punya hak yang harus dipenuhi dengan istirahat dan rehat sejenak?” Padahal, sekali lagi, kondisi kita tidak sebaik itu. Kita hanya sedang tertipu oleh gemerlap dunia, tidak lain dan tidak bukan.

Demikianlah kondisi kita yang persis seperti firman Allah Ta’ala,

 وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

“Akan tetapi, manusia adalah (makhluk) yang paling banyak membantah.” (QS. Al-Kahfi: 54)

Kemudian, mari kita uraikan. Apabila seorang yang memenuhi seluruh kewajiban agama saja tetap mungkin bergeser niatnya ketika ingin menjadikan aktivitas dunianya sebagai ibadah, lantas bagaimana lagi dengan orang yang tidak berkomitmen memenuhi kewajiban syariat? Kerap kita jumpai orang yang bolak-balik mengatakan bahwa aktivitas dunia bisa menjadi ibadah, namun ia tidak mendirikan salat, enggan bersedekah dan menunaikan zakat, tidak mau menutup aurat, tidak pernah mengaji, dan masih banyak lagi.

Apabila yang jelas-jelas merupakan ibadah murni saja enggan ditunaikan, bagaimana lagi dengan menjadikan aktivitas duniawi sebagai ibadah? Memang benar bahwa yang demikian tetap mungkin terjadi. Hanya saja, agar tidak terkesan memvonis, silakan pembaca sekalian bertanya secara objektif pada diri sendiri: seberapa besar kemungkinannya?

Mungkin kita perlu menyendiri sejenak, untuk merenungi diri sendiri yang begitu cinta dunia sehingga sampai hati untuk menjadikan ajaran agama sebagai pembenaran terselubung akan kecanduan terhadap dunia. Selamat bermuhasabah, semoga Allah memberi hidayah kejujuran kepada kita semua.

Baca juga: Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 1)

***

Penulis: Reza Mahendra

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan Kaki:

[1] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.

[2] HR. Tirmidzi no. 2140.

ShareTweetPin
Reza Mahendra

Reza Mahendra

- Alumnus Ma’had Al-’Ilmi Yogyakarta - Kontributor Buletin At-Tauhid - Pengajar Ma’had Umar bin Khattab YPIA - S1 Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta

Artikel Terkait

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

oleh Fauzan Hidayat
14 Juni 2026
0

Banyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang...

Artikel Selanjutnya

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 4): Hilangnya Wibawa Ahli Ilmu dan Mulai Pudarnya Kebenaran

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 4   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah