Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Biografi Abdullah bin Al-Mubarak

Muhammad Idris, Lc. oleh Muhammad Idris, Lc.
25 April 2025
di Biografi
Abdullah bin Al-Mubarak
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Keilmuan, perangai, dan semangat beliau dalam menuntut ilmu
  • Ibnu Al-Mubarak adalah seorang pedagang (saudagar)
  • Pujian para ulama kepada beliau rahimahullah
  • Guru-guru beliau
  • Murid-murid beliau
  • Karya-karya beliau
  • Wafatnya beliau

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih, Abu Abdurrahman Al-Handzali. Beliau lebih dikenal dengan nama “Ibnu Al-Mubarak”. Ayahnya berasal dari Turki dan ibunya dari Khawarizmi (daerah yang sekarang terletak di negeri Iran dan Uzbekistan).

Beliau dilahirkan pada tahun 118 Hijriyah, di Marwa (Merv) salah satu wilayah di negeri Khurasan (terletak di negara Afghanistan dan Turkmenistan saat ini). Dan beliau dikenal dengan banyak julukan, di antaranya: Al-Hafizh, Syekh Al-Islam, Fakhr Al-Mujahidin, pemimpin para ahli zuhud, dan masih banyak gelar lainnya. Dan karena usia beliau banyak dihabiskan untuk melakukan perjalanan jauh (safar), baik dalam rangka berhaji, berjihad, berdagang, dan menuntut ilmu. Beliau dikenal dengan sebutan “As-Saffar” (orang yang rajin melakukan perjalanan).

Keilmuan, perangai, dan semangat beliau dalam menuntut ilmu

Imam Ibnu Al-Mubarak adalah seorang cendekiawan muslim yang hidup pada abad ke-2 Hijriyah. Beliau adalah seorang ulama yang dikenal memiliki pengetahuan sangat luas dalam berbagai bidang, di antaranya ilmu hadis, fikih, bahasa Arab, syair, sejarah, dan berbagai macam bidang keilmuan lainnya.

Beliau juga dikenal karena kesalehannya, orang-orang banyak mengenalnya sebagai ahli ibadah yang memiliki sifat zuhud, dermawan, dan pemberani.

Beliau sangat dikenal juga dengan semangatnya dalam menuntut ilmu. Beliau memulai perjalanan menuntut ilmunya di usia 20 tahun. Tidak diketahui mengapa beliau terlambat dalam hal ini, bisa saja karena latar belakang keadaan keluarga beliau. Meskipun demikian, beliau sangat luas keilmuannya. Beliau sangat bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu hingga melampaui yang lainnya. Karena yang terpenting dalam menuntut ilmu bukanlah kapan memulainya, bukan pula berapa lamanya waktu yang dihabiskan untuk menuntut ilmu, akan tetapi yang terpenting adalah keberkahan dari ilmu tersebut.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah memberikan pujiannya kepada beliau,

لم يكن في زمانه أطلب للعلم منه، جمع أمرًا عظيمًا ما كان أحد أقل سقطًا منه، كان رجلًا صاحب حديث حافظ

“Tidak ada seorang pun di zamannya yang lebih haus akan ilmu daripada beliau, beliau mengumpulkan banyak ilmu dan hal yang agung, dan tidak ada seorang pun yang lebih sedikit kesalahannya daripada beliau, beliau adalah seorang ahli hadis sejati dan seorang penghafal yang kuat.” (Tahdzib At-Tahdzib, 2: 415)

Di dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’ (7: 376) disebutkan bahwa Ibnu Al-Mubarak pernah bercerita tentang dirinya sendiri,

حملت العلم عن أربعة آلاف شيخ، فرويت عن ألف شيخ

“Aku mengambil ilmu dari empat ribu guru, dan meriwayatkan dari seribu guru.”

Ibnu al-Mubarak berpendapat bahwa ilmu adalah kemuliaan terbesar yang seseorang tidak memerlukan kemuliaan lain selainnya. Beliau pernah berkata,

عجبت لمن لم يطلب العلم، كيف تدعوه نفسه إلى مكرمة

“Aku heran kepada seseorang yang tidak menuntut ilmu, bagaimana caranya jiwanya dapat mendorongnya untuk meraih kemuliaan?!” (Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi, 8: 398)

Beliau rahimahullah sangat gemar membaca, mencintai buku, dan melihat bahwa dalam duduk dan berlama-lamanya beliau membersamai kitab dan buku akan mendatangkan ketenangan dan kenyamanan untuk diri beliau. Beliau juga memandang bahwa dengan berada di antara kitab dan buku, maka akan menyelamatkannya dari majelis ghibah dan tempat-tempat serta kegiatan-kegiatan yang menyia-nyiakan waktu.

Syaqiq Al-Balkhi berkata, “Suatu hari dikatakan kepada Ibnu Al-Mubarak, “Setelah engkau selesai menunaikan salat, mengapa engkau tidak duduk-duduk bersama kami?” Beliau menjawab, “Aku duduk bersama para sahabat dan tabi’in, aku amati setiap kitab-kitab dan atsar-atsar peninggalan mereka. Lalu apa yang bisa aku perbuat jika bersama kalian? Sedang kalian menggunjing orang?!” (Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi, 8: 398)

Ibnu Al-Mubarak adalah seorang pedagang (saudagar)

Ada satu poin penting dari kisah kehidupan beliau rahimahullah yang seharusnya diperhatikan, ditiru, dan menjadi motivasi bagi penggerak dakwah dan mereka yang bergelut dalam bidang ilmu di masa sekarang, yaitu tentang bagaimana mandirinya beliau rahimahullah dalam hal harta dan kekayaan.

Beliau berdagang karena alasan yang sah yang berkaitan dengan dirinya dan orang-orang yang yang beliau cintai. Ali bin Al-Fudhail berkata, “Saya mendengar ayah saya berkata kepada Ibn al-Mubarak, “Anda memerintahkan kami untuk zuhud, hidup sederhana dan hemat, tetapi kami melihat Anda membawa barang dagangan, bagaimana bisa begitu?!” Abdullah bin Al-Mubarak lalu berkata, “Wahai Abu Ali, aku melakukan ini hanya untuk menjaga kehormatan diriku, memuliakan martabat diriku, dan menggunakannya untuk membantu diriku taat kepada Tuhanku.” (Siyar A’lam an-Nubala’, karya Adz-Dzahabi, 8: 409)

Dan di antara orang-orang yang paling beliau cintai yang menjadi alasan beliau untuk berdagang adalah para ulama dan penuntut ilmu. Beliau sangat memuliakan mereka, menafkahi mereka dengan nafkah yang besar, mempererat hubungan dengan mereka, dan memperhatikan keadaan mereka semua. Beliau membantu mereka untuk terus belajar dan mengajar. Suatu hari, beliau pernah berkata kepada Fudhail bin ‘Iyadh, “Seandainya bukan karena dirimu dan sahabat-sahabatmu, niscaya aku tidak akan berdagang.” Dikatakan juga bahwa beliau menafkahi orang-orang fakir setiap tahunnya seratus ribu dirham. (Tahdzib At-Tahdzib, karya Ibnu Hajar, 20: 355)

Beliau rahimahullah juga memiliki kebiasaan untuk membayar biaya haji dari orang-orang terdekatnya. Sungguh sebuah kenikmatan yang besar apabila harta kekayaan berada di tangan orang-orang yang saleh.

Pujian para ulama kepada beliau rahimahullah

Imam Ibnu al-Mubarak adalah salah satu ulama besar yang diakui oleh para ulama lainnya akan kedalaman ilmu beliau. Para imam dan ulama di zamannya banyak memuji beliau dan menyebutkan keutamaan-keutamaan beliau. Beberapa di antaranya adalah:

Muhammad bin Abdul Wahhab al-Farra’ berkata,

ما أخرجت خراسان مثل هؤلاء الثلاثة: ابن المبارك، والنضر بن شميل، ويحيى بن يحيى

“Khurasan tidak melahirkan orang-orang yang semisal tiga orang ini: Ibnu Al-Mubarak, An-Nadhr bin Syumail, dan Yahya bin Yahya.” (Siyar A’lam an-Nubala’, karya Adz-Dzahabi, 8: 383)

Abdurrahman bin Mahdi pernah mengatakan,

“Mataku belum pernah melihat orang seperti empat orang ini: Aku belum pernah melihat orang yang lebih hafal hadis daripada Ats-Tsauri, tidak ada yang lebih zuhud daripada Syu’bah, tidak ada yang lebih berakal daripada Malik bin Anas, dan tidak ada yang lebih memberikan nasihat kepada umat daripada Abdullah bin Al-Mubarak.”

Imam Adz-Dzahabi juga mengatakan di dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala’,

“Beliau (Ibnu Al-Mubarak) adalah seorang imam, tokoh Islam, ulama di zamannya, dan pemimpin orang-orang bertakwa di masanya.”

Dan masih banyak sekali pujian-pujian yang dilontarkan oleh para ulama kepada beliau rahimahullah.

Baca juga: Biografi Imam Al-Qurthubi

Guru-guru beliau

Beliau mulai mencari ilmu ketika berusia dua puluh tahun. Guru pertama yang dia temui adalah Rabi’ bin Anas Al-Khurasani. Beliau menggunakan siasat dan tipu daya untuk masuk menemui guru beliau tersebut di penjara, lalu mendengar darinya sekitar empat puluh hadis. Kemudian beliau melakukan perjalanan pada tahun seratus empat puluh satu Hijriah, dan mengambil ilmu dari sisa-sisa tabi’in yang masih hidup.

Beliau sering melakukan perjalanan dan petualangan dalam mencari hadis, hingga sampai ke dua tanah suci Al-Haramain (Mekah dan Madinah), Syam, Mesir, Irak, Jazirah, dan beberapa tempat di Khurasan. Oleh kaena itu, beliau memiliki guru yang sangat banyak jumlahnya. Di antara guru beliau adalah:

(1) Rabi’ bin Anas al-Khurasani merupakan guru pertamanya yang telah kita kisahkan di paragraf sebelumnya.

(2) Sulaiman At-Taimi

(3) Ashim Al-Ahwal

(4) Humaid Ath-Thawil

(5) Hisyam bin ‘Urwah, Al-Jariri

(6) Ismail bin Abi Khalid

(7) Khalid Al-Hadza’

(8) Barid bin Abdillah,

(9) Yahya bin Sa’id al-Anshari

(10) Aban bin Taghlib

Dan masih banyak lagi ulama lainnya. Beliau tidak gengsi dan tidak malu untuk mengambil hadis dari orang yang lebih muda atau lebih rendah tingkatan ilmunya dibanding beliau sendiri.

Murid-murid beliau

Murid beliau juga sangatlah banyak, mereka tersebar di berbagai negeri yang tak terhitung jumlah mereka, karena dalam setiap perjalanan safar Ibnu Al-Mubarak banyak sekali penuntut ilmu yang menimba ilmu dari beliau. Bahkan di antara mereka yang mendengarkan hadis dan meriwatkan hadis dari beliau adalah guru beliau sendiri serta kawan kerabat beliau.

Di antara mereka yang pernah mengambil dan meriwayatkan hadis dari beliau adalah:

(1) Mu’ammar

(2) Ats-Tsauri

(3) Abu Ishaq Al-Fazari

(4) Ibnu Wahb

(5) Ibnu Mahdi

(6) Imam Abu Daud

(7) Abdurrazzaq bin Hammam

Dan murid-murid lainnya yang sulit dihitung, dan sulit diteliti secara menyeluruh karena begitu banyaknya.

Karya-karya beliau

Ibnu Al-Mubarak menyadari bahwa ilmu akan tetap lestari apabila ditulis, dan nama baik seseorang akan diabadikan melalui karya tulisnya. Oleh karena itu, beliau menulis banyak karya yang sangat berharga, di antaranya:

(1) Al-Arba’un (“Empat Puluh Hadis”). Beliau adalah penulis yang pertama kali menulis tema kitab Arba’un di kalangan ulama, yang kitab yang berisi hadis-hadis pilihan.

(2) Al-Istidzan. Membahas tentang adab atau etika dalam kehidupan sehari-hari, terutama mengenai cara berinteraksi dengan orang lain, di antaranya meminta izin.

(3) At-Tarikh. Merupakan kitab yang tidak hanya membahas sejarah biasa, tetapi juga sumber penting bagi studi ilmu hadis dan biografi tokoh-tokoh awal Islam.

(4) At-Tafsir. Merupakan kitab tafsir Al-Qur’an yang ditulis oleh Ibnu Al-Mubarak.

(5) Al-Jihad. Buku yang secara khusus, mengupas fikih berperang dan aturan-aturannya. Buku ini juga membahas tentang tata cara salat khauf (salat dalam kondisi mencekam). Penjelasan yang disampaikan dalam buku ini berbentuk pembawaan hadis yang disertai sanadnya.

(6) Diwan Syair. Berisi kumpulan puisi-puisi.

Dan masih banyak lagi karangan-karangan beliau lainnya di berbagai bidang keilmuan, menandakan luasnya ilmu beliau rahimahullah.

Wafatnya beliau

Setelah menjalani kehidupan yang penuh keberkahan, yang beliau habiskan untuk kebaikan; baik itu menuntut ilmu syar’i, bekerja, berjihad di jalan Allah, bersedekah, menulis dan mengajar, Imam Ibnu Al-Mubarak kembali kepada Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla dan meninggalkan kehidupan dunia ini.

Beliau rahimahullah wafat di kota “Hit” yang terletak di Irak, sebuah kota kecil di tepi sungai Eufrat. Beliau meninggal saat kembali dari perang melawan Romawi, pada bulan Ramadan tahun 181 Hijriah, pada usia 63 tahun.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Baca juga: Biografi Ringkas Imam Abu Hanifah

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Muhammad Idris, Lc.

Muhammad Idris, Lc.

Alumni PP. Imam Bukhari Alumni Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah, KSA.

Artikel Terkait

Biografi Imam Muhibbuddin Ath-Thabari: Tokoh Mazhab Syafi’i dari Makkah Al-Mukarramah

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
7 Juni 2026
0

Nama Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar bin Muhammad bin Ibrahim, yang nasabnya bersambung kepada Ja‘far bin Muhammad...

Jawamiul Kalim: Salah Satu Keistimewaan Rasulullah

oleh Firdian Ikhwansyah
4 Juni 2026
0

Ketika Allah mengutus seseorang untuk menjadi Nabi dan Rasul, Allah berikan kepada mereka juga mukjizat dan keistimewaan sebagai bekal berdakwah...

Biografi Al-Imam Ath-Thabarani (Bag. 2)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
24 Mei 2026
0

Kebersihannya dari tuduhan ahli bid‘ah Imam Abu Al-Qasim Ath-Thabarani رحمه الله terbebas dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya oleh sebagian ahli...

Artikel Selanjutnya
Amal Rahasia

Dua Amal Rahasia Pengantar ke Surga dan Neraka

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah