Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali dihadapkan pada dua sisi: kebaikan dan keburukan. Menariknya, baik amal baik maupun perbuatan buruk bisa dilakukan secara rahasia. Namun, keduanya memiliki akibat yang sangat berbeda di sisi Allah Ta’ala. Merahasiakan amal saleh adalah sebuah kemuliaan, sementara merahasiakan maksiat justru bisa menjadi jalan menuju kebinasaan.
Pertama, amal rahasia
Amal rahasia adalah amal saleh yang kita lakukan dan hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahuinya, sedangkan orang lain tidak tahu tentangnya. Tidak sembarang orang bisa melakukan suatu amal rahasia ini, sebagaimana orang-orang munafik yang menampakkan amal ibadah dan kebaikan untuk dilihat manusia, akan tetapi hati mereka mengingkari amalan (kepercayaan) tersebut.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa: 142)
Dari ayat di atas dapat kita ketahui dua ciri atau sifat orang munafik dalam melakukan amal ketaatan, yaitu malas melakukannya dan berharap sanjungan dari orang lain. Oleh karenanya, amal rahasia tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang munafik.
Amalan rahasia jumlahnya banyak, tapi secara umum bisa dikatagorikan menjadi dua: 1) amal rahasia yang tempatnya di hati (biasa disebut dengan amalan atau ibadah hati: ikhlas, tawakal, takut, syukur, rida, sabar, muhasabah, tafakkur, mahabbah, takwa, wara, khusyu’); dan 2) amal rahasia yang dilakukan oleh anggota tubuh yang asalnya bisa dilihat orang lain, tetapi ia menyembunyikannya. Amalan yang dirahasiakan ini biasanya lebih menjaga keikhlasan.
Allah Ta’ala berfirman,
إِن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمْ ۗ
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 271)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ:
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata: (di antaranya) seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Banyak contoh dari ulama terdahulu dalam merahasiakan dan menyembunyikan amalan. Berikut beberapa kisahnya.
Al-Hafizh Hammad bin Zaid rahimahullah pernah mengisahkan,
كَانَ أَيُّوْبُ فِي مَجْلِسٍ، فَجَاءتْهُ عَبْرَةٌ، فَجَعَلَ يَمْتَخِطُ وَيَقُوْلُ: مَا أَشَدَّ الزُّكَامَ!
“Ayyub as-Sikhtiyani pernah berada di sebuah majelis hingga ia mulai menangis (karena suatu kalimat). Saat itu, beliau mulai nampak memperlihatkan mengeluarkan lendir dari hidung beliau, sambil menyatakan, ‘Betapa berat penyakit flu!’” –pernyataan ini tidak tergolong dusta. Karena beliau hanya menyebutkan, ‘Betapa berat penyakit flu!’; bukan, ‘Saya sedang flu.’ (Lihat Siyar A’lam an-Nubala’, 6: 20)
Dari Ibnu Abi Adi rahimahullah menceritakan,
صَامَ دَاوُدُ بنُ أَبِي هِنْدٍ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً، لاَ يَعْلَمُ بِهِ أَهْلُه. كَانَ خَزَّازاً، يَحْمِلُ مَعَهُ غَدَاءهُ، فَيَتصدَّقُ بِهِ فِي الطَّرِيقِ
“Dawud bin Abi Hind menjalani puasa sunah selama empat puluh tahun tanpa diketahui sama sekali oleh keluarganya. Berprofesi sebagai pedagang kain, tiap pagi beliau berangkat ke tokonya dengan membawa bekal makanan, di tengah perjalanan beliau menyedekahkannya.” (Lihat Siyar A’lam an-Nubala’, 6: 378)
Baca juga: Doa Memohon Ilmu, Rezeki, dan Amal yang Diterima
Kedua, dosa rahasia
Dosa rahasia adalah dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, jauh dari pandangan manusia, dan hanya diketahui oleh pelakunya dan Allah Ta’ala. Secara umum dosa rahasia bisa dikatagorikan menjadi dua: dosa yang ada di dalam hati (iri, dengki, ujub, sombong, dan lainnya) dan dosa yang dilakukan anggota tubuh.
Dosa rahasia ini bisa menyebabkan pelakunya meninggal dalam keadaan su’ul khatimah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Ada seseorang yang melakukan amalan penghuni surga, hingga terlihat oleh manusia menjadi penghuninya padahal ia termasuk penghuni neraka. Sebaliknya, ada seseorang yang melakukan amalan penghuni neraka hingga terlihat oleh manusia ia menjadi penghuninya, padahal ia adalah penghuni surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat yang lain,
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَايَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian, benar-benar beramal dengan amalan penduduk jannah (surga), sehingga jarak antara dia dengan jannah itu tinggal sehasta. Namun dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan penduduk neraka, maka dia pun masuk ke dalamnya. Dan sungguh, salah seorang dari kalian beramal dengan amalan penduduk neraka, hingga jarak antara di dengan neraka tinggal satu hasta. Namun dia didahului oleh catatan takdir, sehingga dia beramal dengan amalan penduduk jannah, maka dia masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain dapat menyebabkan su’ul khatimah, dosa rahasia ini juga dapat menghapuskan pahala.
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.”
Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka salat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245)
Penutup
Sesuatu yang tersembunyi itu bukan berarti selalu selamat, dan yang terlihat tidak selalu celaka. Tapi semua akan kembali pada hati — apakah ia tulus karena Allah, atau hanya sedang bermain peran di hadapan manusia.
Mari kita perbaiki niat, perkuat taat, dan tinggalkan maksiat. Semoga amal tersembunyi kita menjadi cahaya yang menuntun ke surga, dan semoga Allah menutupi dosa kita hingga sempat mencucinya dengan taubat.
Baca juga: Cara Mendapatkan Pahala tanpa Beramal
***
Penulis: Arif Muhammad N
Artikel Muslim.or.id





Alhamdulillah