Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 18): Jama’ Mudzakkar Salim dan Mulhaq bil Mutsanna

Rafi Nugraha oleh Rafi Nugraha
29 April 2025
di Bahasa Arab
Penjelasan Kitab Ta'jilun Nada
Share on FacebookShare on Twitter

Jama’ mudzakkar salim adalah kata yang menunjukkan sesuatu yang berjumlah lebih dari dua dengan menambahkan huruf khusus pada akhir lafaznya. Huruf tambahan tersebut dapat dihilangkan dan dapat di-‘athaf-kan dengan kata yang sejenis dengan lafaz tersebut.

Contohnya adalah:

قَدِمَ الْمُجَاهِدُونَ

“Para mujahid itu telah datang.”

Kata yang bergaris bawah tersebut (al-mujaahiduuna) menunjukkan sesuatu yang berjumlah lebih dari dua dengan adanya huruf tambahan waw dan nun pada akhir lafaznya. Huruf tambahan tersebut bisa dihapus sehingga menunjukkan isim mufrad, bukan lagi isim jama’ mudzakar salim. Sehingga menjadi:

قَدِمَ الْمُجَاهِدُ

“Seorang mujahid itu telah datang.”

Selain huruf tambahan tersebut dihapus, kata tersebut juga bisa di-‘athaf-kan dengan lafaz yang sama. Contohnya adalah:

قَدِمَ الْمُجَاهِدُونَ مِنَ الشَّامِ وَمُجَاهِدُونَ مِنَ الْعِرَاقِ وَمُجَاهِدُونَ مِنْ مِصْرَ

Jama’ mudzakar salim marfu’ dengan huruf waw sebagai pengganti tanda marfu’ utama dengan tanda dhommah. Contoh lain jama’ mudzakar salim adalah:

يَفُوزُ الرِّجَالُ الْعَامِلُونَ

“Laki-laki yang beramal itu menang.”

Kata al-‘aamiluuna adalah sifat untuk lafaz الرِّجَال. Kedudukan sifat untuk isim marfu’ juga harus marfu’. Maka, kata al-‘aamiluuna marfu’ dengan tanda huruf waw karena jama’ mudzakar salim. Adapun ketika jama’ mudzakar salim manshub, maka manshub dengan tanda yaa. Contohnya adalah:

سَعِدْتُ الْآمِرِينَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهِينَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Saya senang dengan orang-orang yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.”

Kata الْآمِرِين manshub dengan tanda yaa karena jama’ mudzakar salim. Contoh lainnya adalah:

يَرْضَى اللَّهُ عَنِ الْمُحْسِنِينَ

“Allah rida terhadap orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Maka kata yang bergaris bawah tersebut majrur dengan tanda yaa karena jama’ mudzakar salim diawali oleh huruf jer.

Ibnu Hisyam mengatakan,

كِلَا وَكِلْتَا مَعَ الضَّمِيرِ كَالْمُثَنَّى

Setelah Ibnu Hisyam membahas isim mutsanna dan jama’ mudzakar salim, Ibnu Hisyam membahas tentang isim yang diserupakan dengan isim mutsanna. Pada hakikatnya, lafaz tersebut bukanlah isim mutsanna dikarenakan ada perbedaan dengan isim mutsanna. Hanya saja, lafaz tersebut ada miripnya dengan isim mutsanna. Adapun kata كِلَا وَكِلْتَا selalu di-idhofah-kan ke kata lainya. Ada dua macam cara meng-idhofah-kan kata tersebut.

Pertama, kata tersebut di-idhofah-kan ke isim dhomir. Ketika lafaz tersebut di-idhofah-kan ke isim dhomir, maka lafaz tersebut di-i’rob seperti isim mutsanna. Contohnya adalah:

سَافَرَ الشَّرِيكَانِ كِلَاهُمَا

“Kedua mitra tersebut benar-benar telah bepergian.”

وَخَرَجَتِ الْبِنْتَانِ كِلْتَاهُمَا

“Kedua anak perempuan itu benar-benar keluar.”

رَأَيْتُ الطَّالِبَيْنِ كِلَيْهِمَا

“Aku benar-benar melihat kedua murid itu.”

رَأَيْتُ الْأُخْتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا

“Aku benar-benar melihat kedua saudari perempuan itu.”

أَحْسِنْ إِلَى وَالِدَيْكَ كِلَيْهِمَا

“Berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu.”

سَلَّمْتُ عَلَى خَالَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا

“Aku mengucapkan salam kepada kedua bibiku.”

Kata كِلَا yang ada pada contoh-contoh kalimat di atas kedudukannya sebagai ta’kid ma’nawi (penegas) untuk lafaz yang ada sebelum lafaz tersebut. Lafaz tersebut marfu’ sebagaimana lafaz yang ditegasi, dan tanda marfu’-nya dengan tanda alif karena lafaz tersebut diserupakan dengan isim mutsanna. Adapun huruf haa yang ada setelah lafaz كِلَا tersebut adalah dhomir sebagai mudhof ilaih dan huruf maa setelah huruf haa tersebut adalah tanda tatsniyah (menunjukkan atas sesuatu yang berjumlah dua). Adapun lafaz كِلَيْهِمَا manshub dengan tanda yaa dan kata كِلَيْهِمَا pada potongan kalimat إِلَى وَالِدَيْكَ كِلَيْهِمَا diatas majrur dengan tanda yaa.

Kedua, lafaz tersebut di-idhofah-kan kepada isim zhohir. Jika di-idhofah-kan kepada isim zhohir, maka lafaz tersebut selalu diakhiri oleh alif dan lafaz tersebut di-i’rob sebagaimana i’rob isim maqsur dan bukan lagi diserupakan dengan isim mutsanna. Contohnya adalah:

جَاءَ كِلَا الرَّجُلَيْنِ

“Kedua laki-laki itu telah datang.”

وَرَأَيْتُ كِلَا الرَّجُلَيْنِ

“Aku telah melihat kedua laki-laki itu.”

وَمَرَرْتُ بِكِلَا الرَّجُلَيْنِ

“Aku telah melewati kedua laki-laki itu.”

Lafaz كِلَا pada contoh yang pertama adalah fail marfu’ dengan tanda dhommah muqaddarah (dilesapkan) pada huruf alif-nya karena terhalang untuk memberikan harakat pada huruf tersebut. Demikian juga lafaz  كِلَا yang ada pada contoh kedua dan ketiga, manshub dengan tanda fathah muqaddarah dan majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.

[Bersambung]

Kembali ke bagian 17 Lanjut ke bagian 19

***

Penulis: Rafi Nugraha

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Rafi Nugraha

Rafi Nugraha

- Alumni S1 Sastra Arab Universitas Gadjah Mada - Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta - Pengajar Ma'had Umar bin Khattab Yogyakarta - Pengajar Rumah Sahabat Qur'an, Ngetiran, Sleman

Artikel Terkait

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 36): Rahasia أَنْ yang Tersembunyi Setelah أَوْ Ketika Bermakna إِلَى dan إِلَّا

oleh Rafi Nugraha
1 Oktober 2026
0

Ibnu Hisyam menjelaskan, قَوْلُهُ: (وَبَعْدَ أَوِ الَّتِي بِمَعْنَى إِلَى) نَحْوُ: لَأَسْتَسْهِلَنَّ الصَّعْبَ أَوْ أُدْرِكَ الْمُنَى، أَوِ الَّتِي بِمَعْنَى إِلَّا “Dan setelah...

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 35): Kapan Huruf أَنْ Wajib Tersembunyi? Rahasia لَامُ الْجُحُودِ dan حَتَّى

oleh Rafi Nugraha
1 September 2026
0

Ibnu Hisyam mengatakan, قَوْلُهُ: وَنَحْوُهُ: ﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ﴾   فَتُضْمَرُ لَا غَيْرُ “Dan yang semisal dengannya adalah firman Allah, “Dan...

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 34): Pengecualian dalam Kaidah أن Mudmarah Setelah Lam

oleh Rafi Nugraha
23 Agustus 2026
0

Adapun maksud Ibnu Hisyam, مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ “Bisa didahului oleh isim murni (isim khalish)” ini merupakan batasan untuk mengecualikan isim yang tidak...

Artikel Selanjutnya
Mengatasi Godaan Setan

Enam Kiat Mengatasi Godaan Setan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah