Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Jangan Biarkan Ramadan Berlalu Begitu Saja

Gazzeta Raka Putra Setyawan oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
31 Maret 2025
di Ramadan
Jangan Biarkan Ramadan Berlalu Begitu Saja
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Sebuah tamu yang akan pergi
  • Ramadan adalah bulan ampunan, jangan lewatkan kesempatan ini
  • Ramadan adalah bulan Al-Qur’an, jadikanlah dia sahabat kita
  • Ramadan adalah bulan doa, jangan lewatkan waktu-waktu mustajab
  • Jangan lewatkan malam lailatul qadar
  • Ramadan akan pergi, tapi jangan biarkan kebaikannya pergi bersama
  • Manfaatkan waktu yang tersisa

Sebuah tamu yang akan pergi

Bayangkan seseorang yang sangat kita rindukan datang mengunjungi rumah kita. Ia membawa banyak hadiah, kebahagiaan, dan keberkahan. Ia mengajarkan kita arti kesabaran, memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, dan menawarkan ampunan yang begitu luas. Namun, sebelum kita benar-benar menyadari betapa berharganya kehadirannya, ia harus pergi.

Ramadan adalah tamu itu. Bulan yang penuh dengan rahmat, maghfirah (ampunan), dan pembebasan dari neraka itu hampir sampai di ujungnya. Tapi sudahkah kita benar-benar menghargainya? Sudahkah kita memanfaatkannya sebaik mungkin?

Ramadan adalah tamu istimewa yang hanya datang sekali dalam setahun. Ia membawa keberkahan, ampunan, dan kesempatan untuk mendekat kepada Allah lebih dari bulan-bulan lainnya. Setiap hari di bulan ini penuh dengan rahmat, setiap amal dilipatgandakan, dan setiap dosa diampuni bagi mereka yang benar-benar ingin bertobat.

Namun, betapa seringnya kita menjalani Ramadan tanpa benar-benar merasakannya. Waktu berlalu begitu cepat, dan sebelum kita menyadarinya, Ramadan sudah hampir berakhir. Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa menjadi orang yang merugi, mereka yang melewatkan kesempatan emas ini tanpa memperoleh apa-apa selain rasa lapar dan haus. Rasulullah ﷺ mengingatkan,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula yang melakukan salat malam, namun hanya mendapatkan begadang di malam hari.” [1]

Dalam riwayat lain,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” [2]

Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah kesempatan emas yang belum tentu bisa kita jumpai lagi tahun depan. Maka, jangan biarkan Ramadan berlalu begitu saja tanpa makna. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memastikan bahwa Ramadan ini menjadi yang terbaik dalam hidup kita.

Ramadan adalah bulan ampunan, jangan lewatkan kesempatan ini

Salah satu keistimewaan terbesar Ramadan adalah kesempatan untuk mendapatkan ampunan dari Allah. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [3]

Namun, apakah kita benar-benar telah memohon ampun kepada-Nya? Sudahkah kita meneteskan air mata dalam doa, meminta agar semua kesalahan kita dihapus? Jika belum, masih ada waktu. Jangan biarkan Ramadan berakhir tanpa memastikan bahwa kita keluar darinya dengan hati yang bersih dan jiwa yang kembali fitrah.

Ramadan adalah bulan Al-Qur’an, jadikanlah dia sahabat kita

Allah menurunkan Al-Qur’an di bulan yang mulia ini, sebagaimana firman-Nya,

شَهرُ رَمَضَانَ الَّذِى اُنزِلَ فِيهِ القُراٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الهُدٰى وَالفُرقَانِ فَمَن

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” [4]

Namun, bagaimana hubungan kita dengan Al-Qur’an selama Ramadan ini? Apakah kita hanya membacanya untuk mengejar target khatam, atau benar-benar merenungi maknanya? Jika Ramadan ini belum menjadikan kita lebih dekat dengan Al-Qur’an, maka masih ada waktu untuk memperbaikinya. Jangan biarkan bulan ini berlalu tanpa menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari hidup kita.

Baca juga: Ramadan Menumbuhkan Empati

Ramadan adalah bulan doa, jangan lewatkan waktu-waktu mustajab

Salah satu keistimewaan Ramadan adalah banyaknya waktu mustajab untuk berdoa. Di antara waktu-waktu terbaik adalah menjelang berbuka, sepertiga malam terakhir, dan malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Rasulullah ﷺ bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga golongan yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.” [5]

Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika dia berbuka, dan doa orang yang terzalimi.” [6]

Namun, sudahkah kita berdoa dengan sungguh-sungguh? Ataukah kita hanya mengucapkan doa secara terburu-buru tanpa benar-benar merasakan maknanya? Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa meluangkan waktu khusus untuk berbicara dengan Allah, mencurahkan isi hati, dan memohon segala kebaikan dunia dan akhirat. Jangan biarkan waktu-waktu ini terlewat begitu saja. Berdoalah dengan penuh harapan. Mintalah kebaikan dunia dan akhirat, mintalah ampunan, mintalah surga, dan mintalah agar Allah tetap membimbing kita setelah Ramadan berlalu.

Jangan lewatkan malam lailatul qadar

Salah satu hadiah terbesar di bulan Ramadan adalah malam lailatul qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan, ketika doa dikabulkan dan pahala dilipatgandakan. Allah berfirman,

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam lailatul qadr itu lebih baik dari seribu bulan.” [7]

Jika kita menyia-nyiakan sepuluh hari terakhir Ramadan dengan kesibukan dunia, kita bisa kehilangan kesempatan ini. Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam-malam terakhir Ramadan lebih dari malam-malam lainnya. Beliau bersabda,

تَحَرَّوْا ليلة القدرِ في الوِتْرِ، من العشرِ الأواخرِ من رمضانَ

“Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qadr (malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” [8]

Jangan biarkan diri kita melewatkan malam yang penuh keberkahan ini hanya karena kita terlalu sibuk atau terlalu lelah. Bangunlah, berdoalah, dan mintalah kebaikan kepada Allah.

Ramadan akan pergi, tapi jangan biarkan kebaikannya pergi bersama

Ramadan bukan hanya tentang meningkatkan ibadah selama sebulan, tetapi juga tentang membangun kebiasaan baik yang bisa kita lanjutkan sepanjang tahun.

Jika selama Ramadan kita terbiasa salat tepat waktu, mengapa harus kembali menunda-nunda setelahnya?

Jika kita bisa membaca Al-Qur’an setiap hari, mengapa harus berhenti setelah bulan ini berlalu?

Jika kita bisa menahan diri dari dosa di bulan Ramadan, mengapa harus kembali melakukannya setelah Idulfitri?

Rasulullah ﷺ bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” [9]

Namun, bagaimana jika kita justru menghabiskan malam-malam terakhir ini dengan tidur panjang, sibuk menyiapkan lebaran, atau malah tenggelam dalam media sosial? Jangan sampai kita menyesal karena melewatkan kesempatan mendapatkan pahala yang begitu besar. Jadikan Ramadan sebagai awal dari perubahan, bukan sekadar bulan singkat yang kita jalani tanpa makna.

Manfaatkan waktu yang tersisa

Ramadan adalah anugerah yang tidak semua orang mendapatkannya lagi tahun depan. Berapa banyak saudara kita yang tahun lalu masih bisa menjalani Ramadan, tetapi kini telah kembali kepada Allah?

Kita masih diberi kesempatan. Kita masih memiliki waktu. Jangan biarkan Ramadan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas dalam hati dan amal kita. Masih ada waktu untuk memperbaiki niat, memperbanyak ibadah, dan memohon ampunan. Jangan sampai kita menjadi orang yang menyesal saat Ramadan telah pergi.

Ya Allah, jangan biarkan kami menjadi hamba yang lalai. Jadikanlah Ramadan ini sebagai sarana untuk mendekat kepada-Mu, untuk memperbaiki diri, dan untuk mendapatkan ampunan-Mu. Jangan biarkan kami kembali pada kebiasaan buruk setelah bulan ini berakhir. Terimalah amal ibadah kami dan jadikan kami termasuk orang-orang yang mendapatkan keberkahan Ramadan. آمين.

Baca juga: Berat Beramal di Bulan Ramadan? Lihat Kondisi Hatimu!

***

Ditulis di Jember, 3 Ramadan 1446/3 Maret 2025

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] HR. Ahmad

[2] HR. Ath-Thabraniy

[3] HR. Bukhari dan Muslim

[4] QS. Al Baqarah: 185

[5] HR. Ahmad

[6] HR. Tirmidzi

[7] QS. Al Qadr: 3

[8] HR. Bukhari dan Muslim

[9] HR. Muslim

ShareTweetPin
Gazzeta Raka Putra Setyawan

Gazzeta Raka Putra Setyawan

- Mahasiswa STDI Imam Syafi'i Jember (2023-sekarang) - Alumnus Ma'had Aly Al Furqon Magelang - Alumnus I'dad Lughowy STDI Imam Syafi'i Jember - Alumnus Safwa University (Online)

Artikel Terkait

Wafat Sebelum Membayar Kaffarat Jimak di Bulan Ramadan

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
2 April 2026
0

Hukum dan kaffarat orang yang berjimak di siang hari bulan Ramadan Bukan lagi menjadi hal yang tabu terkait hukum jimak (berhubungan...

Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan?

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
31 Maret 2026
0

Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat...

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

oleh Fauzan Hidayat
17 Maret 2026
0

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada...

Artikel Selanjutnya
Menjemput Keberkahan Idulfitri

Menjemput Keberkahan Idulfitri dengan Amalan Sunah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 9   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah