Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Berat Beramal di Bulan Ramadan? Lihat Kondisi Hatimu!

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
17 Maret 2025
di Ramadan
Berat Beramal di Bulan Ramadan
Share on FacebookShare on Twitter

Bulan Ramadan merupakan waktu yang penuh berkah dan rahmat, di mana umat Islam diberi kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Namun, bagi sebagian orang, menjalankan ibadah di bulan ini bisa terasa berat. Ada yang merasa sulit untuk menjalani puasa, salat tarawih, atau bahkan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Mengapa demikian? Mungkin jawabannya terletak pada kondisi hatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada kondisi hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

Dari hadis di atas, dapat kita ketahui bahwa yang menjadi standar kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala adalah bagaimana kondisi hatinya, baik atau tidak.

Ramadan merupakan salah satu momen yang paling pas bagi kita untuk mengevaluasi kondisi hati. Kita tidak bisa melihat secara langsung atau secara fisik bagaimana kondisi hati, apakah kotor ataukah bersih, apakah sehat ataukah sakit, tidak bisa kita lihat dengan mata kepala. Namun, kita bisa menilainya, bagaimana cara kita menilainya, terkhusus di bulan Ramadan?

Yaitu, dengan melihat bagaimana kondisi kita ketika mengetahui banyak pilihan beramal di bulan Ramadan. Orang-orang yang hatinya bersih akan mudah dan ringan melakukan berbagai amal ketaatan tersebut. Sedangkan bagi orang-orang yang merasa berat untuk beramal saleh di bulan Ramadan, padahal Allah sudah bentangkan seluas-luasnya pilihan untuk beramal di bulan Ramadan, maka itu adalah salah satu tanda kondisi hati yang kotor.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن العبد إذا أخطأ خطيئة نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإذا هو نزع واستغفر وتاب سقل قلبه

وإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه، وهو الران الذي ذكر الله

{ كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون }

“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tetapi, jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14)” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)

Baca juga: Cara Mendapatkan Pahala tanpa Beramal

Tatkala seseorang sudah asyik bermaksiat terus menerus, maka akan tertutup dan terkunci hatinya. Apabila hati telah terkunci, maka akan berat untuk melakukan berbagai amal ketaatan.

Ada dua contoh yang paling mudah untuk kita mengevaluasi kondisi hati kita di bulan Ramadan.

Pertama, bagaimana kita merespon salat malam di bulan Ramadan

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Bilal,

يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة

“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Lihat Shahih Al Jami’ no. 7892)

Salat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang mengistirahatkan.

Hal ini sebagaimana anak sekolah. Ketika ia sedang melaksanakan mata pelajaran, maka yang ia tunggu adalah waktu istirahat. Saat ia sudah masuk waktu istirahat, ia ingin berlama-lama di waktu istirahat tersebut dan tidak ingin segera kembali ke mata pelajaran berikutnya.

Demikianlah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau merasa senang dan merasa penyejuk hati beliau itu ada di dalam salat. Hal ini tentu berbeda dengan orang-orang yang kondisi hatinya kotor dan tidak sehat, sehingga teramat berat bagi mereka untuk mengerjakan salat.

Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan salat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun?” Al-Hasan menjawab, “Dosa-dosamu mengikatmu.” (Lihat Ihya’u ‘Ulumid Din, 1: 313)

Kedua, bagaimana semangat kita dalam membaca Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan yang di dalamnya (mulai) diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang hak dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa bulan Ramadan bukan hanya sekadar bulan puasa, tetapi juga bulan yang penuh dengan petunjuk dan hikmah, yang salah satunya adalah penurunan Al-Qur’an sebagai wahyu untuk umat manusia. Oleh karena itu, bulan Ramadan menjadi saat yang sangat tepat bagi umat Islam untuk lebih mendalami, membaca, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Andai hatimu benar-benar bersih, niscaya engkau tidak akan pernah bosan untuk membaca firman-firman Allah.” (Lihat Az-Zuhd karya Imam Ahmad no. 686 dan Ighasat Al-Lahfan min Mashayid Asy-Syayathin, 1: 64)

Seandainya hati kita adalah hati yang bersih, maka dia tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca firman Allah Ta’ala dan tidak akan pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah bacaan Al-Qur’an.

Maka, jika kita mendapati kondisi kita tidak bersemangat dalam melaksanakan salat atau membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan ini, maka perlu kita curigai keadaan dan kondisi hati kita yang sedang tertawan oleh kotoran-kotoran dosa. Supaya hati tersebut kembali bersih dan sehat, adalah dengan memperbanyak istigfar, memohon ampunan kepada Allah Ta’ala, dan bertobat kepada-Nya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita semua untuk melaksanakan dalam berbagai ketaatan terkhusus di bulan yang suci, bulan Ramadan.

Baca juga: Tidak Berlebihan dalam Beramal Itu Lebih Utama

***

Penulis: Arif Muhammad N

Artikel: Muslim.or.id

 

Sumber:

Disarikan dari Kultum Ustadz Muhammad Rezki Hr melalui link: https://www.youtube.com/live/833nV71GeB0?si=pyQ_jIhI-TP9ByZC

ShareTweetPin
Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

- S1 Jurusan Kewarganegaraan dan Hukum UNY - Ketua Hijrah Dakwah (@hijrahdakwah.id) - Pernah belajar di: PPTQ Harun Syafi’i, Markas Riwayah Ibnu Qudamah, Markas Takallam Duri - Pernah mengambil sanad Azan ke asatidz Markas Ibnu Syubah Boyolali

Artikel Terkait

Wafat Sebelum Membayar Kaffarat Jimak di Bulan Ramadan

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
2 April 2026
0

Hukum dan kaffarat orang yang berjimak di siang hari bulan Ramadan Bukan lagi menjadi hal yang tabu terkait hukum jimak (berhubungan...

Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan?

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
31 Maret 2026
0

Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat...

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

oleh Fauzan Hidayat
17 Maret 2026
0

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada...

Artikel Selanjutnya
Dimensi Keimanan

Hadis: Hierarki dan Dimensi Keimanan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah