Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Menjemput Keberkahan Idulfitri dengan Amalan Sunah

Fauzan Hidayat oleh Fauzan Hidayat
1 April 2025
di Fikih Ibadah
Menjemput Keberkahan Idulfitri
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Menyambut Idulfitri dengan takbir
  • Menghidupkan salat Idulfitri dan zakat fitrah
  • Berjalan menuju salat Id
  • Memperkuat silaturahmi

Ketika matahari terbit di ufuk timur pada 1 Syawal, umat Islam di seluruh dunia merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, kini tiba saatnya merayakan kemenangan spiritual yang telah diperjuangkan dengan penuh kesabaran. Namun, benarkah Idulfitri hanya sebatas perayaan? Ataukah ada makna yang lebih dalam yang sering kali terlewatkan?

Banyak yang menganggap bahwa hari raya Idulfitri hanyalah tentang berpakaian baru, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati hidangan khas lebaran. Padahal, ada begitu banyak amalan sunah yang bisa dilakukan untuk menyempurnakan momen sakral ini. Amalan-amalan ini merupakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengandung nilai ibadah dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

Lalu, apa saja amalan sunah yang seharusnya kita amalkan pada hari yang penuh berkah ini? Mari kita telusuri satu per satu agar Idulfitri yang kita rayakan benar-benar bermakna dan penuh keberkahan.

Menyambut Idulfitri dengan takbir

Idulfitri diawali dengan gema takbir yang berkumandang sejak matahari terbenam di malam 1 Syawal hingga salat Id dilaksanakan. Takbir ini bukan sekadar lantunan lisan, melainkan ekspresi rasa syukur dan pengagungan kepada Allah atas nikmat Ramadan yang telah kita lalui. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

زَيِّنوا أعيادَكم بالتكبيرِ

“Hiasilah hari raya kalian dengan takbir.” [1]

Selain bertakbir, umat Islam dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat ke tempat salat Id. Ini merupakan sunah yang menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesucian diri sebelum melaksanakan ibadah. Bahkan, bagi wanita yang sedang haid atau nifas, tetap disunahkan untuk mandi meskipun mereka tidak ikut salat Id.

Tidak hanya mandi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkan umatnya untuk memakai pakaian terbaik pada hari raya. Pakaian terbaik di sini tidak harus baru, tetapi yang bersih dan rapi. Bagi kaum pria, disunahkan juga untuk memakai wangi-wangian sebagai bentuk penghormatan terhadap momen istimewa ini.

Satu hal yang tidak boleh terlewat adalah makan sebelum berangkat salat Id. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu makan beberapa butir kurma dengan jumlah ganjil sebelum melaksanakan salat Idulfitri. Ini sebagai tanda bahwa puasa Ramadan telah benar-benar berakhir, sehingga tidak diperbolehkan lagi berpuasa pada hari itu.

Menghidupkan salat Idulfitri dan zakat fitrah

Salat Idulfitri merupakan sunah muakkadah yang sangat dianjurkan bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Salat ini dilakukan secara berjemaah di tanah lapang atau masjid, dan dimulai ketika matahari telah naik setinggi tombak (sekitar 30-45 menit setelah terbit).

Dalam pelaksanaannya, salat Id terdiri atas dua rakaat dengan tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua. Setelah salat, khatib akan menyampaikan khotbah yang biasanya berisi pesan-pesan ketakwaan dan pentingnya menjaga persaudaraan di antara sesama muslim.

Bersamaan dengan itu, umat Islam juga diwajibkan untuk membayar zakat fitrah sebelum salat Idulfitri. Zakat ini bertujuan untuk menyucikan jiwa dan menyempurnakan ibadah puasa Ramadan yang telah kita jalani. Besarannya adalah sekitar 2,5 kg beras atau makanan pokok lainnya yang diberikan kepada fakir miskin, agar mereka juga dapat merayakan hari raya dengan bahagia.

Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sarana untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama. Dengan menunaikan zakat fitrah, kita telah membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu agar dapat merasakan nikmatnya Idulfitri seperti kita.

Baca juga: Tugas Kita Setelah Ramadan Pergi

Berjalan menuju salat Id

Ada satu sunah yang sering kali terlewatkan, yaitu berjalan menuju tempat salat Id dengan rute yang berbeda saat pergi dan pulang. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika salat Id, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.” (HR. Bukhari no. 986)

Para ulama menjelaskan bahwa hikmah dari sunah ini adalah untuk memberikan salam kepada lebih banyak orang, memperbanyak langkah dalam ibadah, serta menunjukkan syiar Islam kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, keberkahan Idulfitri bisa dirasakan oleh lebih banyak orang.

Selain itu, pada hari raya ini, umat Islam dianjurkan untuk saling mengucapkan salam dan berpelukan sebagai bentuk kasih sayang serta mempererat ukhuwah. Namun, penting untuk diingat bahwa kontak fisik hanya boleh dilakukan dengan sesama jenis. Bagi laki-laki, cukup mengucapkan salam kepada wanita tanpa berjabat tangan jika bukan mahramnya.

Sunah lainnya yang juga dianjurkan adalah memperbanyak doa dan zikir sepanjang hari raya. Hari ini adalah waktu yang istimewa di mana doa-doa dikabulkan, sehingga alangkah baiknya jika kita memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon ampunan dan keberkahan dari Allah Ta’ala.

Memperkuat silaturahmi

Salah satu esensi dari Idulfitri adalah mempererat hubungan sesama muslim. Oleh karena itu, silaturahmi menjadi salah satu sunah yang sangat ditekankan pada hari raya ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Silaturahmi bisa dilakukan dengan mengunjungi keluarga, tetangga, dan sahabat untuk saling memaafkan dan berbagi kebahagiaan. Tradisi ini sangat kuat dalam budaya Islam dan menjadi bagian dari kearifan lokal di banyak negara, termasuk Indonesia.

Selain berkunjung secara langsung, di era digital ini kita juga bisa menjalin silaturahmi melalui pesan singkat atau video call bagi mereka yang tinggal jauh. Yang terpenting adalah menjaga hubungan baik dan menjauhkan diri dari perasaan dengki serta permusuhan.

Namun, dalam bersilaturahmi, kita juga harus menjaga adab. Hindari pembicaraan yang tidak bermanfaat, serta tetap menjaga kesopanan dalam berpakaian dan bertutur kata. Dengan begitu, silaturahmi yang kita lakukan akan semakin bermakna dan mendatangkan keberkahan.

Oleh karena itu, hendaklah kita sadari bahwa Idulfitri bukan hanya tentang baju baru, makanan enak, atau kumpul keluarga semata. Lebih dari itu, hari raya ini adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mempererat hubungan dengan sesama. Mudah-mudahan dengan mengamalkan sunah-sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita dapat meraih kebahagiaan dunia, serta pahala yang berlipat ganda di sisi Allah Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita selama Ramadan dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik di hari-hari yang akan datang. Aamiin.

Baca juga: Jangan Biarkan Ramadan Berlalu Begitu Saja

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Hadis ini diriwayatkan oleh Al-‘Ajluni dalam kitab Kasyful Khafa’, 1: 536. Namun, para ulama hadis menilai bahwa sanadnya lemah. Hadis serupa juga ditemukan dalam Al-Mu’jam Ash-Shaghir (no. 599) dan Al-Mu’jam Al-Awsath (no. 4373) yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani.

ShareTweetPin
Fauzan Hidayat

Fauzan Hidayat

- Alumni Mahad Ilmi Yogyakarta (2020) - S2 Universitas Gadjah Mada - D4 Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Artikel Terkait

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
29 Juni 2026
0

Waktu pelaksanaan akikah Waktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya...

Fikih Akikah (Bag. 1): Hukum dan Makna di Balik Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
28 Juni 2026
0

Pengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang...

Beberapa Kesalahan Terkait Wukuf di Arafah

oleh Luqman Hasan Nahari
25 Mei 2026
0

Ibadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah...

Artikel Selanjutnya
Mudik

Mudik: Tradisi atau Ibadah?

Komentar 1

  1. Bambang says:
    1 tahun yang lalu

    Terima kasih artikelnya. sangat bermanfaat

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   8   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah