Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Memuliakan 10 Hari Pertama Bulan Muharam

dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK oleh dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK
18 Agustus 2021
di Akhlak dan Nasihat
10 Hari Pertama Bulan Muharram

10 Hari Pertama Bulan Muharram

Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Memuliakan 10 hari awal bulan Muharam dengan amal saleh
  • Kesimpulan

Memuliakan 10 hari awal bulan Muharam dengan amal saleh

Sebagaimana kita ketahui bahwa terdapat 10 hari yang diagungkan, yaitu 10 hari awal bulan Zulhijah dan 10 hari terakhir bulan Ramadan. Hal ini telah diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin karena memang ada dalil khusus terkait hal ini. Semisal tafsir ulama dalam surat Al-Fajr, Allah Ta’ala berfirman,

وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar. Dan (demi) hari yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan hari “yang sepuluh” di sini adalah 10 awal Zulhijah atau 10 akhir Ramadan.

Terkait dengan memuliakan 10 hari awal bulan Muharam dengan amal saleh, terdapat atsar dari para ulama kita rahimahumullah. Abu ‘Ustman An-Nahdi rahimahullah berkata,

كانوا يعظمون ثلاث عشرات

العشر الأخير من رمضان

والعشر الأول من ذي الحجة

والعشر الأول من المحرم

“Para salaf dahulu memuliakan tiga ‘sepuluh hari’:

[1] sepuluh hari akhir Ramadan;

[2] sepuluh awal Zulhijah;

[3] sepuluh awal Muharam.” (Lathaif al-Ma’arif, hal. 35)

Demikian juga dijelaskan oleh Al-Mawardi rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,

أفضل المحرم اليوم العاشر وهو يوم عاشوراء ثم التاسع وهو تاسوعاء ثم العشر الأول

“Yang paling mulia dari bulan Muharam adalah hari ke-10, yaitu hari Asyura; kemudian hari ke-9, yaitu hari Tasua; kemudian sepuluh awal Muharam.” (Al-Inshaf, 3: 346)

Terkait hal ini, beberapa ulama berpendapat bahwa memuliakan khusus 10 awal Muharam saja tidak sepenuhnya benar, karena hadis menyebutkan keutamaan bulam Muharam secara umum dan tidak ada hadis khusus yang menjelaskan keutamaan 10 awal Muharam.

Dalam Fatawa asy-Syabakiyah asuhan Syekh Abdullah al-Faqih dijelaskan,

ولم يرد حديث صحيح فيما نعلم في فضل صيام العشر الأول من محرم بمجموعها

“Tidak terdapat hadis sahih menurut pengetahuan kami yang menjelaskan keutamaan 10 awal bulan Muharam sama sekali.” (Fatwa no. 43810)

Demikian juga Profesor Syekh Khalid al-Muslih hafidzahullah, beliau menjelaskan (dengan ringkasan),

“Keutamaan  bukan hanya pada 10 awal Muharram saja, akan tetapi seluruh hari di bulan Muharam. Allah Ta’ala menyandarkan bulan ini kepada-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أفضل الصيام بعد رمضان ، شهر الله المحرم

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharam.” (HR. Muslim)” (Sumber: https://youtu.be/kjwZxKU0M7M)

Beberapa ulama menafsirkan surat Al-Fajr pada ayat “hari yang sepuluh” dengan tafsir bahwa yang dimaksud adalah 10 awal bulan Muharam. Akan tetapi, tafsir ini kurang tepat. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan (dengan ringkasan),

وأفضل شهر الله المحرم عشره الأول، وقد زعم يمان بن رآب: أنه العشر الذي أقسم الله به في كتابه، ولكن الصحيح أن العشر المقسم به عشر ذي الحجة

“Yang paling mulia dari bulan Allah yaitu bulan Muharam adalah 10 awalnya. Yaman bin Ra’ab menyangka bahwa 10 hari yang Allah gunakan bersumpah dalam kitab-Nya adalah 10 awal Muharam. Akan tetapi, yang benar bahwa yang dimaksud adalah 10 awal Zulhijah.” (Lathaif al-Ma’arif, hal. 39-40)

Baca Juga: Hukum Puasa 11 Muharram

Keutamaan hari dari bulan Muharam yang ada dalilnya yaitu hari ke-9 dan hari ke-10, ketika kita disunahkan dan lebih ditekankan untuk berpuasa. Sebagaimana dalil-dalil berikut ini,

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لأَصْحَابِهِ «أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ ، فَصُومُوا

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang Yahudi berpuasa Asyura. Mereka mengatakan, “Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang Yahudi). Karena, itu berpuasalah.” (HR. Bukhari)

Dan hadis,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab, “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin.” (HR. Muslim)

Demikian juga penekanan puasa pada hari ke-9 Muharam, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Jika tahun depan insyaallah (kita bertemu kembali dengan bulan Muharam), kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“ Akan tetapi, sebelum Muharam tahun depan tiba, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat di tahun tersebut.” (HR. Muslim no. 1134)

Kesimpulan

Pertama, terdapat beberapa atsar dari salaf tentang memuliakan 10 awal bulan Muharam dengan memperbanyak amal saleh.

Kedua, sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada dalil khusus memuliakan 10 awal Muharam karena dalilnya bersifat umum. Sehingga kita memuliakan seluruh hari bulan Muharam secara umum.

Ketiga, terdapat dalil penekanan untuk memuliakan hari ke-9 dan ke-10 dengan berpuasa.

Baca Juga:

  • Mengapa Dinamakan Bulan Muharram?
  • 11 Amalan Bid’ah di Bulan Muharram

Demikian, semoga bermanfaat.

***

@Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penulis: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslim.or.id

ShareTweetPin1
dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Kedokteran Umum UGM, dosen di Universitas Mataram, kontributor majalah "Kesehatan Muslim"

Artikel Terkait

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 8): Teladani Pemimpin Hebat Terdahulu

oleh Glenshah Fauzi
24 Oktober 2026
1

Pemimpin itu harus mudah diakses Seorang pemimpin seringkali hidup berjarak dari rakyatnya. Padahal, pemimpin hebat seperti Nabi ﷺ tidak memiliki...

Ketika Ulama Berkata, “Aku Tidak Tahu” (Bag. 1)

oleh Dimas Setiaji
21 Oktober 2026
0

Suatu hari di Mina, orang-orang datang membawa pertanyaan kepada salah seorang ulama, namun jawaban yang keluar dari lisan beliau adalah,...

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 7): Fokus Bekerja dengan Baik

oleh Glenshah Fauzi
16 Oktober 2026
1

Resep kepemimpinan hebat adalah fokus bekerja dengan baik Jangan sampai ada sesuatu yang menyibukkanmu di luar urusan kepemimpinan. Karena seorang...

Artikel Selanjutnya
Kebaikan untuk Indonesia

Pernahkah Kita Mendoakan Kebaikan untuk Indonesia?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan bahwa Anda manusia: 10   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah