Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Saatnya Kita Mengenal Nama Allah “asy-Syaafiy”

Prasetyo Abu Ka'ab oleh Prasetyo Abu Ka'ab
16 Maret 2020
di Akidah
asy-Syaafiy
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Dalil Penetapan Nama “asy-Syaafiy”
  • Makna “asy-Syaafiy”
  • Bertawasul dengan Keesaan Allah dalam Mencari Kesembuhan
  • Perintah untuk Berobat

Di antara nama dari nama-nama Allah yang paling baik adalah الشافي (asy-Syaafiy), yang biasa diartikan “Maha Menyembuhkan”. Mengilmuinya dengan benar, dapat menjadikan seseorang lebih mengenal Rabb-nya Ta’ala, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari; khususnya dewasa ini yang banyak tersebar penyakit, dan membutuhkan penyembuhan. Berikut ini, sedikit pembahasan-pembahasan terkait dengan nama tersebut.

Dalil Penetapan Nama “asy-Syaafiy”

Terdapat hadis dalam ash-Shahihain dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan kepada Allah untuk sebagian keluarganya, dengan mengusapkan tangan kanan beliau, sambil berdoa,

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِب الْبَأْسَ، واشفه وأنت الشافي، لا شفاء إلا شفاؤك، شفاء لا يُغادِرُ سَقَماً

“Yaa Allah, Rabb seluruh manusia. Hilangkanlah penyakit ini, dan sembuhkanlah dia. Dan Engkaulah asy-Syaafiy, yang tidak ada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-Mu. (Sembuhkanlah dia) dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikitpun penyakit.” (HR. Bukhari 5351, dan Muslim 2191)

Makna “asy-Syaafiy”

Syekh ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr hafidzahullaah berkata,

ومعنى الشافي: الذي منه الشفاء، شفاء الصدور من الشبه والشكوك والحسد والحقد وغير ذلك من أمراض القلوب، وشفاء الأبدان من الأسقام والآفات، ولا يقدر على ذلك غيره، فلا شفاء إلا شفاؤه، ولا شافي إلا هو، كما قال إبراهيم الخليل عليه السلام: (وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ) [الشعراء: 180]، أي: هو وحده المتفرِّد بالشفاء لا شريك له

“Makna asy-Syaafiy adalah Dzat yang hanya dari-Nya segala kesembuhan. Baik berupa kesembuhan pada dada (hati) berupa syubhat, keraguan, hasad, kebencian, dan selainnya dari penyakit-penyakit hati; maupun kesembuhan pada badan berupa penyakit-penyakit dan cacat-cacat (di badan). Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Dia. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Nya. Tidak ada penyembuh kecuali Dia. 

Hal ini sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim al-Khaliil ‘alaihissalaam (yang Allah sebutkan dalam al-Quran),

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

(Apabila saya sakit, maka Dialah yang menyembuhkanku.)” 

Yaitu, hanya Dialah yang esa dalam kesembuhan, tidak ada sekutu pada-Nya.”

Kemudian beliau hafidzahullaah melanjutkan,

ولذ أوجب على كل مكلف أن يعتقد عقيدة جازمة أنه لا شافي إلا الله، وقد بين ذلك النبي صلى الله عليه وسلم بقوله: “لا شافي إلا أنت”

“Oleh karena itu, wajib atas setiap mukallaf untuk meyakini dengan keyakinan yang pasti (tanpa ada keraguan sedikitpun) bahwasanya tidak ada Penyembuh kecuali Allah. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini dalam sabdanya, “Tidak ada penyembuh kecuali Engkau.”  (Fiqhul Asmaail Husnaa hal. 321)

Bertawasul dengan Keesaan Allah dalam Mencari Kesembuhan

Di antara wasilah kepada Allah, dalam mencari kesembuhan dari penyakit adalah bertawasul kepada-Nya dengan keesaan rububiyah-Nya. Dan sesungguhnya kesembuhan di tangan-Nya saja, dan tidak ada kesembuhan pada siapapun kecuali dengan izin-Nya. Segala urusan dan penciptaan merupakan hak Allah saja. Segala sesuatu adalah dengan pengaturan-Nya. Apa saja yang Dia kehendaki pasti terjadi; dan apa saja yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah.

Hal ini berdasarkan pada hadis di awal pembahasan, di mana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertawasul dengan rububiyah Allah sebelum memulai permintaan kesembuhan, dengan sabdanya,

اللهم رب الناس

“Ya Allah, Rabb seluruh manusia.” (Lihat selengkapnya di kitab Fiqhul Asmaail Husnaa hal. 322)

Perintah untuk Berobat

Keyakinan dan keimanan seorang hamba bahwasanya penyembuh hanyalah Allah saja, dan kesembuhan di tangan-Nya; bukanlah penghalang dari menempuh sebab-sebab yang bermanfaat, dengan berobat dan mencari kesembuhan, dan mengkonsumsi obat-obatan yang bermanfaat. Terdapat banyak hadis-hadis tentang perintah untuk berobat, dan penyebutan macam-macam obat-obatan yang bermanfaat. Hal itu tidak meniadakan tawakal kepada Allah, dan keyakinan bahwasanya kesembuhan di tangan-Nya.

Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

ما أنزل الله من داء إلا أنزل له شفاء

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit apapun, kecuali Dia telah menurunkan baginya obat.” (HR. Bukhari 5354)

Dan dalam al-Musnad (Imam Ahmad), dari Usamah bin Syariik radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah bersabda, 

إن الله لم ينزل داء إلا أنزل له شفاء، علمه من علمه، وجهله من جهله

“Sungguh, tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali Dia menurunkan baginya obat. Sebagian orang mengetahui obat tersebut, dan sebagian lainnya tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad 4: 278, Abu Dawud 3855, Ibnu Hibban 486, al-Hakim 1: 121, dan selain mereka; dengan sanad yang sahih)

Kita memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb seluruh manusia, Penghilang penyakit. Maha Menyembuhkan, yang tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Nya; supaya Dia menyembuhkan orang-orang yang sakit di antara kita, dan orang-orang yang sakit dari kaum muslimin seluruhnya.

Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ash-Shamad”

***

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Fiqhul Asmaail Husnaa, Syekh Abdurrazzaq al-Badr, Daarul ‘Aalamiyyah cet. 1.

ShareTweetPin9
Prasetyo Abu Ka'ab

Prasetyo Abu Ka'ab

- Alumni Ma'had Ilmi Yogyakarta 2008, - Alumni S1 Ilmu Komputer UGM 2008, - Alumni S2 Ilmu Al-Quran IUM (Minnessota) 2024, - Pengajar di Ponpes Ibnu Abbas Assalafy SragenSelengkapnya : http://abukaab.blogspot.co.id/p/tentang-kami.html

Artikel Terkait

Mengenal Nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”

oleh Muhammad Insan Fathin
22 Oktober 2026
0

Di antara hakikat paling agung yang menjadi poros ketenteraman jiwa manusia adalah kesadaran bahwa alam semesta beserta seluruh isinya tunduk...

Jika Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita, Mengapa Kita Diperintahkan Beribadah?

oleh Mochammad Wibisono
19 Oktober 2026
0

Azan sudah terdengar, tetapi tubuh masih enggan beranjak. Pekerjaan terasa belum selesai, badan lelah, atau hati sedang penuh masalah. Kita...

Kesyirikan yang Mengancam Akal

oleh Glenshah Fauzi
14 Oktober 2026
0

Besarnya gelombang informasi membawa berbagai macam pemikiran ke kehidupan kita. Ada yang membersihkan dan memperbaiki, tetapi ada juga yang mengotori...

Artikel Selanjutnya

Kesempatan Mengetuk Pintu Sang Raja

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah