Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Bimbingan Islam Untuk Si Kaya Dan Si Miskin (2)

Yhouga Pratama oleh Yhouga Pratama
27 September 2016
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Bimbingan Islam Untuk Si Kaya

Adapun bagi si kaya, Islam mengatur dan memperhatikan beberapa hal berikut ini.

Pertama: Islam mewajibkan zakat bagi si kaya. Beliau rahimahullah menjelaskan,

ثم أوجب في أموال الأغنياء فرضا الزكاة , بحسب ما جاء في تفاصيلها الشرعية . وجعل مصرفها دفع حاجات المحتاجين , وحصول المصالح الدينية المقيمة لأمور الدنيا والدين

“Kemudian Allah wajibkan si kaya untuk menunaikan zakat dari hartanya, sesuai kadar apa yang telah dirinci oleh syariat. Allah juga telah menjadikan harta zakat tersalurkan kepada yang membutuhkan, maka dengan demikian tercapailah kemaslahatan dalam perkara agama dan juga dunia”.

Allah Ta’ala berfirman,

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (QS. Adz Dzariyat : 19).

Kedua: anjuran bagi si kaya untuk berbuat ihsan di tiap situasi dan kondisi.

Ketiga: wajibnya mencegah bahaya, memberi makan yang kelaparan, memberi pakaian orang yang telanjang. Beliau rahimahullah menjelaskan,

وحث على الإحسان في كل وقت وفي كل مناسبة , وأوجب دفع ضرورة المضطرين , وإطعام الجائعين , وكسوة العارين , ودفع الضرورات عن المضطرين

“Kemudian Allah menganjurkan si kaya untuk berbuat ihsan di segala situasi dan kondisi. Juga wajib baginya untuk mencegah berbagai bahaya dengan memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian bagi orang yang telanjang, dan bahaya lainnya.”

Keempat: Wajibnya memberi nafkah khususnya kepada istri dan anak.

وكذلك أوجب النفقات الخاصة للأهل والأولاد , وما يتصل بهم

“Begitu pula wajib untuk memberi nafkah khususnya bagi istri dan anak-anak, dan wajib pula melakukan segala hal demi tercapainya nafkah tersebut (bisa melalui bisnis, bekerja, menjual jasa, dan sebagainya)”.

Allah Ta’ala berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya” (QS. At Thalaq : 7).

Kelima: hendaknya si kaya menyadari hakikat hartanya.

Seorang yang telah dikaruniai oleh Allah Ta’ala kelebihan rizki berupa harta, tidak selayaknya menyandarkan sepenuhnya pada hasil kecerdasannya, kerja kerasnya, atau bahkan mengira bahwa semua hartanya adalah warisan turun temurun dari nenek moyangnya. Beliau rahimahullah menjelaskan,

وأمرهم مع ذلك أن لا يتكلوا في كسب الدنيا على حولهم وقوتهم , ولا ينظروا نظر استقرار وطمأنينة إلى ما عندهم . بل يكون نظرهم على الدوام إلى الله وإلى فضله , وتيسيره والاستعانة به . وأن يشكروه على ما تفضل به عليهم وميزهم به من الغنى والثروة

“Allah juga memerintahkan si kaya untuk tidak menyandarkan apa yang telah ia peroleh dari hasil usahanya di dunia dan kekuatannya semata, juga hendaknya tidak memandang harta di dunia dengan penuh ketenangan. Bahkan hendaklah si kaya selalu menyandarkan hasil usahanya pada Allah Ta’ala beserta seluruh keutamaannya, kemudahan dariNya, dan pertolonganNya semata. Hendaklah ia bersyukur atas keutamaan yang Allah Ta’ala berikan berupa kecukupan dan bahkan kelebihan harta”.

Allah Ta’ala berfirman,

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir” (QS. An Nahl : 83).

Keenam: wajib untuk tidak melanggar batasan-batasan syariat dalam menggunakan harta dan tidak bersikap boros.

وأوجب عليهم أن يقفوا عند الحدود , فلا ينغمسوا في الترف والإسراف انغماسا يضر بأخلاقهم وأموالهم وجميع أحوالهم

“Allah mewajibkan bagi si kaya untuk berhenti pada batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh syariat. Maka janganlah tenggelam dalam kekayaan dan bersikap boros yang dapat membahayakan akhlaq, harta, dan segala kondisi mereka”.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS. Al Furqaan : 67).

Ketujuh: wajibnya memperhatikan batasan syariat dalam memperoleh harta. Beliau mengatakan,

وأمرهم مع ذلك أن يكون طلبهم للغنى والدنيا طلبا شريفا نزيها , فلا يتلوثون بالمكاسب الخبيثة التي هي ما بين ربا أو قمار أو غرر أو غش أو خداع , بل يتقيدون بقيود الشرع العادلة في معاملاتهم , كما تقيدوا بذلك في عباداتهم

“Allah juga memerintahkan si kaya untuk mencari kecukupan harta di dunia dengan cara yang mulia dan bersih. Maka janganlah mengotori usaha melalui pekerjaan yang kotor yang bercampur riba, judi, pertaruhan, penipuan, pemalsuan, dan selainnya. Bahkan wajib untuk mengikatkan diri pada batasan syari’at yang penuh dengan nilai keadilan dalam muamalat, sebagaimana mereka mengikatkan diri dengannya dalam peribadatan mereka”

Kedelapan: Hendaknya senantiasa menyayangi si miskin. Beliau mengatakan,

وأمرهم أن ينظروا إلى الفقراء نظر الرحمة والإحسان , لا نظر القسوة والغلظة والأثرة والبطر والأشر والكبر

“Allah Ta’ala memerintahkan si kaya untuk selalu melihat fakir miskin dengan pandangan kasih sayang dan ihsan, tidak dengan pandangan yang keras, berat, egois, arogan, angkuh dan sombong”.

(bersambung)

***

Penyusun: Yhouga Mopratama Ariesta

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

ShareTweetPin
Yhouga Pratama

Yhouga Pratama

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta

Artikel Terkait

Ekonomi Umat yang Berdaya: Visi Islam untuk Kaum Muslimin yang Kuat dan Mandiri

oleh Muhammad Insan Fathin
22 September 2026
0

Terdapat sebuah pemahaman keliru yang menyebar dan terkadang menjadi hal yang diperdebatkan di tengah umat, juga disalahpahami. Orang yang saleh...

Seni Memaafkan: Investasi Terbaik untuk Ketenangan Jiwa

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
20 September 2026
1

Dalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial,...

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag 4): Agar Tidak Menjadi Pemimpin Otoriter

oleh Glenshah Fauzi
11 September 2026
0

Bagian emas dari wasiat Thahir Paragraf yang mengalir di bawah ini adalah bagian paling istimewa menurut penulis. Kekuasaan cenderung menghadirkan...

Artikel Selanjutnya

I‘rab Lā ilāha illallāh dan Pengaruh Maknanya (8)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   3   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah