Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial

Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos. oleh Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos.
18 September 2023
di Akhlak dan Nasihat
Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pertama: Lakukan hal positif
  • Kedua: Membentengi diri
  • Ketiga: Menjaga akhlak
  • Keempat: Menjaga hubungan dengan keluarga
  • Kelima: Menjaga hubungan dengan masyarakat

Peran pemuda muslim di zaman sekarang (milenial) tidak terlepas dari tuntutan perubahan zaman yang sangat pesat perubahannya. Sebagai seorang muslim, semestinya mampu menyesuaikan dan membawa nilai agama yang syar’i pada tatanan kehidupan sekarang tanpa menodai syariat yang sudah dituliskan dalam Qur’an dan As-Sunnah. Ini merupakan nasihat penting bagi seorang pemuda yang hari ini hidup dalam kondisi penuh fitnah dan penuh syubhat dengan benturan peradaban dan kondisi zaman.

Berdasarkan penjelasan di atas, pemuda telah dijanjikan akan mendapatkan naungan dari Allah Ta’ala. Yakni, ia yang memiliki peran penting dalam mengambil posisi strategis, baik dalam hal keilmuan agama, disiplin ilmu, dan kebermanfaatan di lingkungan masyarakat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ»

“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali), kecuali naungan-Nya: … Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 1357 dan Muslim no. 1031)

Hadis ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap seorang pemuda muslim yang mampu mendatangkan kebaikan, sekaligus menjelaskan keutamaan bagi seorang muslim yang memiliki sifat yang alim (taat dalam ibadah) seperti dijelaskan dalam hadis tersebut.

Imam Abul ‘Ula Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata, “(Dalam hadis ini), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan (penyebutan) ‘seorang pemuda’ karena (usia) muda adalah (masa yang) berpotensi besar untuk didominasi oleh nafsu syahwat. Disebabkan kuatnya pendorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda, maka dalam kondisi seperti ini untuk berkomitmen dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah (tentu) lebih sulit dan ini menunjukkan kuatnya (nilai) ketakwaan (dalam diri orang tersebut).” (Tuhfatul Ahwadzi, 7: 57)

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah.” (HR. Ahmad, 2:263, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, 17:309 dan lain-lain. Dinyatakan sahih dengan berbagai jalurnya oleh Syekh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2843)

Yaitu, pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dia membiasakan dirinya untuk melakukan kebaikan, dan berusaha keras menjauhi berbagai macam keburukan

Inilah sosok pemuda muslim yang Allah Ta’ala cintai dan pandai dalam mensyukuri nikmat besar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepadanya. Maka, beberapa hal yang sekiranya bisa kita lakukan sebagai seorang pemuda muslim saat ini adalah:

Pertama: Lakukan hal positif

Yaitu, dengan melakukan hal positif yang sesuai dengan syariat, tentunya apa yang sudah tertuang dalam ajaran islam, seperti halnya mencari ilmu, ikut agenda-agenda dakwah, mengikuti agenda yang bermanfaat, serta mengamalkan amalan saleh.

Kedua: Membentengi diri

Yaitu, dengan berbagai kondisi dan syubhat yang ada. Kita dianjurkan untuk senantiasa berhati-hati dan membentengi diri serta mempertebal keimanan kita untuk mengantisipasi berbagai hal yang dapat meracuni keimanan dan pemikiran.

Ketiga: Menjaga akhlak

Menjadi pemuda yang berakhlak mulia dan beradab itu bagaikan buih di tengah lautan. Ia sulit ditemui dan sulit didapatkan. Maka, senantiasa berusaha untuk selalu ber-akhlakul karimah sebagaimana telah dicontohkan oleh teladan kita, yakni Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam, seperti: tawadhu (rendah hati), lemah lembut, sabar, berbuat baik kepada orang lain, dan memaafkan kesalahan orang yang berbuat buruk pada kita dan membalasnya dengan kebaikan.

Keempat: Menjaga hubungan dengan keluarga

Patuh terhadap orang tua adalah bagian dari kita menjaga diri di era yang penuh ujian dan era penuh kerusakan saat ini. Yakni, sebagai rumah untuk pulang dan doa yang tidak tertolak oleh Allah Ta’ala. Ini menjadi kunci utama untuk kita agar senantiasa menerapkan birrul walidain dan meminta doa akan diberikan kemudahan dalam menjalankan syariat-Nya dan menjalani pahitnya hidup.

Kelima: Menjaga hubungan dengan masyarakat

Menjaga hubungan sosial tidak kalah penting, seperti halnya kita menjaga hubungan kita terhadap diri dan keluarga. Hubungan ini yang kemudian bisa menjaga kesalehan sosial kita. Hal ini juga sudah banyak dicontohkan oleh Rasulullah, bagaimana beliau bermuamalah dengan sahabatnya, dengan para pengikutnya, dan termasuk berbuat baik pada orang yang berbuat buruk padanya.

Semoga dari tulisan yang sedikit ini mampu mengalirkan keikhlasan dari penulis dan mengalirkan keberkahan dari Allah Ta’ala untuk kaum muslimin sekalian yang hari ini hidup di zaman penuh ujian. Semoga Allah menjaga kita, anak-anak kita, sanak saudara kita, dan orang di sekitar kita. Amin.

Baca juga: Mengapa Pemuda Enggan Belajar Akidah?!

***

Penulis: Kiki Dwi Setiabudi S.Sos.

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin3
Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos.

Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos.

- Pendidikan MADIA L-Data (2014-2015) - Pendidikan S1 Agribisnis (Sosek) F. Pertanian UGM (2015 - 2018) - Pendidikan S1 PSDK (Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan) FISIPOL UGM (2016 - 2020) - Penggiat Dakwah & Pengurus YPIA

Artikel Terkait

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

oleh Fauzan Hidayat
14 Juni 2026
0

Banyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang...

Artikel Selanjutnya
Penghafal Al-Quran Tidak Akan Masuk Neraka

Fatwa Ulama: Apakah Benar Penghafal Al-Quran 30 Juz Tidak Akan Masuk Neraka?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah