Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Pandangan Ulama tentang Perayaan 1 Muharam

Muhammad Nur Faqih, S.Ag oleh Muhammad Nur Faqih, S.Ag
17 Juli 2023
di Manhaj
Perayaan 1 Muharam
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pendapat Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu
  • Pendapat Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu
  • Amalan yang dianjurkan ketika datang bulan Muharam

Allah ‘Azza Wajalla menjadikan dalam setahun ada dua belas bulan. Sebagaimana dalam firman-Nya,

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu). Dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)

Di antara dua belas bulan tersebut, ada empat yang Allah muliakan. Yakni, bulan Rajab, Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. Tidak ada yang lebih baik dari yang dikerjakan seorang hamba di bulan-bulan tersebut, selain amalan saleh yang dikerjakan. Sebagian dari kita menjadikan momen-momen tersebut sebagai sebuah perayaan. Yang di dalamnya seorang hamba melazimkan hal-hal yang tidak pernah datang petunjuk tentangnya. Apakah tepat jika demikian?

Tatkala Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama tiba di kota Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah saat itu memilliki dua hari khusus yang mereka bersuka cita di dalamnya. Maka, beliau shallallahu ‘alaihi wasallama pun mengatakan,

“Hari apa ini?”

Mereka menjawab,

“Kami dulu biasa meluangkan hari ini untuk bermain-main.”

Maka, beliau shallallahu ‘alaihi wasallama pun menimpali,

إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما: يوم الأضحى ويوم الفطر

“Sungguh, Allah telah mengganti bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya untuk bersuka cita, yaitu Idulfitri dan Iduladha.” (HR. Abu Dawud no. 1134)

Kita bisa simak beberapa pendapat para ulama tentang perayaan 1 Muharam berikut ini:

Pendapat Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu

Beliau rahimahullahu menjawab,

فالتهنئة بالعام الجديد لا أعلم لها أصلاً عن السلف الصالح، ولا أعلم شيئاً من السنة أو من الكتاب العزيز يدل على شرعيتها، لكن من بدأك بذلك فلا بأس أن تقول: وأنت كذلك، إذا قال لك: كل عام وأنت بخير، أو قال: كل عام وأن تكون بخير، فلا مانع أن تقول له: وأنت كذلك، نسأل الله لنا ولك كل خير أو ما أشبه ذلك.

“Aku tidak mendapatkan dalil tentang (menyengaja untuk mengucapkan dan menyangka ada keharusan) selamat di setiap pergantian tahun baru Hijriah dan tidak ada keterangan dari para ulama salaf saleh. Tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan anjuran tersebut. Akan tetapi, jika ada orang yang mengucapkan hal tersebut kepada kita, tidak masalah kita menjawab dengan, “Begitu pun denganmu.’ Seperti ketika dikatakan kepada kita, ‘Semoga engkau senantiasa dalam kebaikan’; jawab saja, ‘Demikian pula denganmu.’ Atau yang semisal dengannya.” [1]

Baca juga: Bulan Muharam antara Keutamaan dan Kesesatan

Pendapat Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu

Beliau rahimahullahu pernah memberikan nasihat,

أيها المسلمون إننا في هذه الأيام نستقبل عاماً جديداً إسلاميا هجريا ليس من السنة أن نحدث عيداً لدخوله وليس من السنة أن نهنئ بعضنا بدخوله ولكن التهنئة إنما هي أمر عادي وليس أمراً تعبديا وليست الغبطة ليست الغبطة بكثرة السنين كم من إنسان طال عمره وكثرت سنواته ولكنه لم يزدد بذلك إلا بعداً من الله إن أسوأ الناس وشر الناس من طال عمره وساء عمله ليست الغبطة بكثرة السنين وإنما الغبطة بما أمضاه العبد من هذه السنين في طاعة الله عز وجل فكثرة السنين خير لمن أمضاه في طاعة ربه شر لمن أمضاه في معصية الله

“Wahai kaum muslimin! Sebentar lagi kita akan kedatangan tahun baru Islam Hijriah. Bukanlah termasuk sunah, kita menjadikan hari ini sebagai hari raya. Dan bukan pula termasuk sunah, kita saling mengucapkan selamat di hari ini. Meski pada dasarnya ucapan selamat adalah perkara kebiasaan dan bukan ibadah. Bukan termasuk hal yang bisa dibanggakan dengan berlalunya tahun-tahun dari umur kita. Betapa banyak manusia yang panjang umurnya, akan tetapi tidak bertambah, kecuali hanya semakin jauh dari Allah. Ketahuilah bahwa manusia terburuk adalah mereka yang umurnya bertambah dan semakin bertambah pula keburukannya. Yang patut dijadikan teladan adalah ketika tahun-tahun ini berlalu dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza Wajalla. Banyaknya tahun yang terlewat menjadi bernilai kebaikan bagi mereka yang melewatinya dengan ketaatan kepada-Nya. Dan menjadi bernilai buruk bagi mereka yang mengisinya dengan kemaksiatan kepada-Nya.”

(Dikutip dari potongan ceramah beliau dengan judul At-Tarikh wa Fadha’il Ba’dhi Al-Syuhur wal-Ayyam)

Amalan yang dianjurkan ketika datang bulan Muharam

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama mengajarkan kepada kita amalan yang bisa dikerjakan seorang muslim ketika bulan Muharam. Sebagaimana dalam sabda beliau saat mendapati orang Yahudi banyak berpuasa di tanggal 10 Muharam (Asyura),

فأنا أحق بموسى منكم فصامه وأمر بصيامه

“Sungguh, aku lebih berhak atas Musa dibanding kalian (Yahudi).” Maka, beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari no. 2004)

Dan berbahagialah kita ketika hanya mencukupkan diri dengan apa yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunah, serta dijelaskan oleh para ulama. Barakallahu fikum.

Baca juga: Pedoman Puasa di Bulan Muharam

***

Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.

Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] https://binbaz.org.sa/fatwas/7391

ShareTweetPin
Muhammad Nur Faqih, S.Ag

Muhammad Nur Faqih, S.Ag

Alumni jurusan Ilmu Hadis STDI Imam Syafii Jember Pengasuh website tanyahadits.com

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya
Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah

Adakah Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah?

Komentar 1

  1. Eru says:
    3 tahun yang lalu

    Saya sedang bertugas di suatu desa di Jawa Tengah
    Kebetulan ini malam satu syuro, yg mana masyarakat melakukan “ibadah” Solat sunnah, dan kenduren. Saya sebagai pendatang dari aceh tentu merasa ini bukanlah perkara yg benar adanya, karena kalau perkara benar tentu “ibadah/amalan” Tadi lazim di seluruh negeri.
    Karena saya sebagai seseorang pekerjaan sosial yg terlibat langsung dengan masyarakat ini menjadikan saya dilema, jika saya tidak berhasil akan menjadi bahan omongan, NamJun jika saya berhasil tentulah hati saya tidak tenang karena tidak sesuai dengan aqidah yg saya pelajari.
    Karena itu saya memutuskan untuk tidak hadir dengan alasan zoom meeting (saya berbohong), saya juga tidak tenang karena bohong, tapi setidaknya saya tidak melakukan perkara yg diada-adakan yang bertolak belakang dengan hati kecil saya
    Mohon pencerahan nya

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah