Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag. 7): Memahami tentang Haid, Nifas dan Istihadah

Fauzan Hidayat oleh Fauzan Hidayat
10 Juni 2021
di Fikih Ibadah
Haid Nifas

Haid Nifas

Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Haid
    • Haid dan hikmahnya
    • Warna darah haid
    • Masa haid dan lamanya
    • Hal-hal terlarang karena haid
    • Hal-hal yang dibolehkan saat haid
  • Nifas
  • Istihadah
    • Perbedaan darah haid dan istihadah
    • Keadaan wanita istihadah
    • Ketentuan hukum bagi wanita istihadah
  • Kesimpulan

Baca pembahasan sebelumnya Hal yang Berkaitan dengan Mandi

Berilmu sebelum beramal merupakan kaidah yang semestinya menjadi pedoman bagi ummat islam dalam menjalankan pelbagai syariat yang telah ditetapkan Allah Ta’ala. Tidak terkecuali ibadah yang sangat agung seperti halnya salat. Oleh karenanya, pelbagai hukum yang berkaitan dengan salat adalah hal yang wajib untuk diketahui, termasuk di antaranya adalah haid, nifas dan istihadah yang senantiasa dialami oleh setiap wanita.

[lwptoc]

Haid

Haid dan hikmahnya

Darah yang secara alami keluar dari rahim seorang wanita yang sudah baligh dalam waktu tertentu merupakan definisi haid [1]. Allah Ta’ala menciptakan darah dan menetapkannya bagi kaum wanita sebagai makanan bagi janinnya melalui tali pusar sehingga wanita hamil tidak mengalami haid. Apabila seorang wanita melahirkan, maka sisa-sisa makanan janin tersebut akan keluar dalam bentuk darah nifas. Kemudian Allah Ta’ala mengubah sebagian darah wanita tersebut menjadi susu yang dikonsumsi oleh bayinya. Setelah melahirkan dan menyusui, aktivitas darah itu akan kembali lagi seperti semula yang keluar setiap bulannya, baik dalam waktu enam atau tujuh hari sesuai dengan ketetapan Allah Ta’ala [2].

Warna darah haid

Terdapat empat warna darah haid yang perlu difahami oleh wanita muslimah, yaitu: hitam, merah, kekuning-kuningan, dan keruh [3]. Sebagaimana hadis Fatimah binti Abi Hubaisyi Radhiallahu ‘anha, “Bahwasanya dia pernah mengalami istihadah, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, ‘Jika darah haid, sesungguhnya ia berwarna hitam yang sudah dikenal. Oleh karena itu, tinggalkanlah salat. Jika berwarna lain, berwudulah, karena sesungguhnya ia hanya (semacam) keringat.'” [4]

Warna kekuning-kuningan dan keruh tidak termasuk dalam kategori haid, terkecuali jika keluar pada saat berlangsungnya masa haid. Namun apabila masa haid telah berakhir, hal tersebut tidak lagi termasuk darah haid meski keluar berulang kali [5].

al-Allamah Syaikh Ibnu Baaz Rahimahullah kemudian menguatkan pendapat bahwa warna kekuning-kuningan dan warna keruh setelah bersuci tidak termasuk dalam kategori darah haid sama sekali. Akan tetapi, cairan tersebut sama seperti air kencing yang dapat membatalkan wudu dengan syarat keluarnya tidak pada saat berlangsungnya masa haid.

Baca Juga: Fatwa Ulama: Berhenti Nifas Sebelum 40 Hari

Masa haid dan lamanya

Usia minimal seorang yang dapat mengalami haid

Para ulama Rahimahumullah berbeda pendapat tentang batas usia serta waktu mulai dan berhentinya haid bagi seorang wanita. Adapun pendapat yang lebih kuat adalah condong kepada pendapat ad-Darimi Rahimahullah yang mengungkapkan bahwa seberapa pun didapatkan ukuran darah itu, bagaimanapun keadaannya, dan berapa pun usia wanita yang mengalaminya, tetap dikategorikan sebagai haid [6]. Dengan kata lain, kapan pun seorang wanita melihat darah yang umumnya dikenali sebagai darah haid, maka itu adalah haid [7].

Masa berlangsungnya haid

Sebagaimana pendapat tentang usia, berkaitan dengan batasan minimal dan maksimal haid juga terdapat perbedaan pendapat dari para ulama Rahimahumullah. Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menguatkan pendapat bahwa tidak ada batasan masa haid dan masa suci antara dua waktu haid. Beliau menegaskan bahwa setiap darah yang merupakan kebiasaan sebagai darah haid, maka itu adalah darah haid. Namun apabila darah tersebut keluar secara terus-menerus, yang demikian itu bukanlah haid [8].

Hal-hal terlarang karena haid

Hal-hal yang dilarang karena sedang haid, di antaranya:

1. salat [9], dengan catatan bahwa tidak perlu mengqada salat setelah bersuci dari haid, kecuali puasa [10];

2. puasa [11];

3. tawaf di Baitullah [12];

4. menyentuh mushaf Al-Qur’an [13];

5. duduk dan berdiam di masjid [14];

6. berhubungan badan [15];

7. talak [16];

8. menjalani ‘iddah dengan hitungan bulan [17].

Hal-hal yang dibolehkan saat haid

Hal-hal yang dibolehkan saat haid, di antaranya:

1. pergaulan suami-istri kecuali berhubungan badan [18];

2. mendatangi tempat pelaksanaan Idul Fitri dan Idul Adha serta mendengarkan khutbah, kalimat-kalimat yang baik dan seruan kaum muslimin [19];

3. melaksanakan amal ibadah seperti zikir, doa, dan haji, serta umroh (kecuali tawaf di Baitullah) [20].

Nifas

Nifas adalah darah yang keluar dari rahim yang disebabkan oleh kelahiran, baik yang keluar bersama bayi atau satu, dua, atau tiga hari sebelum atau setelahnya, sampai batas waktu tertentu [21]. Batas minimum nifas adalah tidak terbatas, sedangkan batas maksimumnya adalah empat puluh hari [22].

Pada dasarnya, nifas merupakan darah haid itu sendiri yang sebelumnya tertahan karena kehamilan. Sehingga hukumnya adalah sama dengan hukum haid kecuali dalam beberapa keadaan, di antaranya:

1. ‘Iddah; nifas tidak dapat dijadikan sebagai hitungan ‘iddah, sedangkan haid bisa.

2. Masa al-i’laa (sumpah). Bisa dipergunakan hitungan masa haid, tetapi tidak masa nifas.

3. Baligh; seseorang bisa dinilai baligh dengan haid, namun tidak dengan nifas. Sebab usia baligh lebih dulu datang sebelum nifas [23].

Istihadah

Mengalirnya darah secara terus menerus di luar waktu haid yang disebabkan oleh sakit dan gangguan dari (sejenis) keringat mulut yang terdapat di bagian bawah rahim yang biasa disebut “al-‘adzil” [24].

Perbedaan darah haid dan istihadah

Tiga perbedaan umum antara darah istihadah dan darah haid, yaitu:

1. Darah haid adalah hitam dan kental dan memiliki bau anyir. Adapun darah istihadah adalah merah yang tidak memiliki bau.

2. Darah haid keluar dari dalam rahim. Adapun darah istihadah keluar dari bagian bawah rahim berupa keringat.

3. Darah haid adalah darah alami yang keluar pada waktu-waktu tertentu. Adapun darah istihadah merupakan darah penyakit yang tidak terikat pada waktu tertentu [25].

Keadaan wanita istihadah

Terdapat tiga keadaan wanita yang mengalami istihadah, di antaranya:

1. Masa haidnya diketahui sebelum dia mengalami istihadah. Dalam keadaan demikian, masa yang diketahui itu termasuk (dihitung) sebagai waktu haid dan berlaku baginya hukum haid. Adapun darah yang keluar setelah itu merupakan darah istihadah [26].

2. Wanita yang istihadah tidak mempunyai waktu haid yang rutin sebelum istihadah itu datang. Akan tetapi ia bisa membedakan antara darah haid dengan darah istihadah (27).

3. Wanita yang tidak memiliki waktu-waktu haid yang pasti serta tidak dapat membedakan antara darah haid dan darah istihadah. Maka hendaklah ia menghitung hari haidnya seperti hari haid pada umumnya wanita (6-7 hari) yang dimulai dari pertama kali dia mengetahui keluarnya darah, dan selebihnya dihitung sebagai istihadah (28).

Ketentuan hukum bagi wanita istihadah

Hukum taklifi bagi seorang wanita istihadah itu sama dengan wanita yang suci sebagaimana umumnya, seperti salat, puasa, i’tikaf, menyentuh mushaf, dan sebagainya, kecuali dalam beberapa hal berikut:

1. Tidak diwajibkan baginya mandi besar [29].

2. Wajib berwudu ketika ingin salat dengan mencuci bekas darah dari rahimnya dan menahannya dengan kain (pembalut) [30].

Kesimpulan

Pengetahuan dan ilmu tentang perkara haid, nifas, dan istihadah merupakan fardu ‘ain bagi setiap hamba Allah Ta’ala khususnya kaum wanita muslimah sebagai wujud dari upaya dalam menggapai kesempurnaan ibadah salat. Maka kepada setiap wanita muslimah hendaklah mengetahui hal ini. Begitu pula kepada kaum pria muslim agar dapat membimbing istri, anak, dan keluargnya kepada kemurnian dan kesempurnaan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Wallahu’alam.

Baca Juga:

  • Hukum Menyentuh Mushaf Tanpa Berwudhu
  • Kewajiban Suami kepada Istri dalam Mengajarkan Perkara Agama 

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel: Muslim.or.id

Catatan Kaki:

[1] Lihat kitab Syarhul Umdah (I/457) karya Ibnu Taimiyyah.

[2] LIhat kitab al-Mughni karya (I/386) karya Ibnu Qudamah.

[3] Lihat kitab Thaharah (no. 286), al-Haidh wan Nifaas wal Isithadhah (hlm. 37 dan 38) karya Rawiyah binti Ahmad, Fathul Baari (I/426) dan al-Mu’jamul Wasiith (II/779).

[4] diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab ath-Thaharah bab “Man Qaala Idzaa Aqbalati al-Haaidhah Tada ‘ush salat (No 286).

[5] Lihat kitab Haidh bab “ash-Shufrah wa al-Kudrah fii Ghairi Ayyami al-Haidh” (no.326) karya al-Bukhari.

[6] Lihat risalah fid Dimaa’ ath Thabi’iyyah (pasal I) yang dinukil dari ad-Darimi oleh al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin.

[7] Fataawa Ibni Taimiyyah (IX/237).

[8] Majmu’ul Fatawa (XIX/237) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[9] Lihat kitab Haidh bab Iqbaalul Mahidh wa Idbaaruhu no. 320 karya al-Bukhari.

[10] Ibid. Bab Laa Taqdhii al-Haa-idh ash-salat no. 321.

[11] Ibid. Bab tarkul haaidh as-Shaum no. 304.

[12] Lihat kitab al-Manasik bab Ibaaharul al-kalaam fith thaqaf no. 2920 karya an-Nasa-i.

[13] Lihat kitab al-Hajj bab Bayanu Wujuubi al-Ihraam wa Annahu Yajuuzu Ifraadu al-Hajj wat tamattu’ wal Qiraan no.1211/120 karya Muslim.

[14] Lihat kitab al-Haidh wan Nifaas hlm. 225-270.

[15] Lihat Al-Quran surah al-Baqarah ayat 222.

[16] Tidak boleh menceraikan istri yang sedang dalam keadaan haid sebab talak tersebut menjadi haram. Lihat al-Qur’an surah at-Thalaq ayat 1.

[17] Haid seorang wanita melarangnya untuk menjalani ‘iddah dengan hitungan bulan, apabila percerian terjadi semasa hidup, dia wajib menjalani ‘iddah dengan hitungan haid itu sendiri. Lihat al-Qur’an Surah at-Baqarah ayat 228.

[18] Lihat kitab al-Haidh bab Jawaazu Ghusli al-Haa-idh Ra’sa Zaujiha wa Tarjihiha wa Thahaarati Su’riha no. 30 karya Muslim.

[19] Ibid. Bab Syuhuudu al-haaidh al-Iedain wa Da’watul Muslimin wa Yatazilna al-Mushalla no. 324.

[20] Ibid. Kitab al-hajj Bab Bayanu Wujubi Ihraam wa annahu Yajuuzu Ifraadu al-Hajj wat Tamattu wal Qiraan no. 1211/120.

[21] Lihat kitab al-Haaidh wa an-nifas wal istihadah halaman 446 karya Rawiyah binti Ahmad.

[22] Lihat kitab at-Thaharah bab Maa Jaa-a fi waqti an-Nufasa no.311 karya Abu Dawud.

[23] Lihat kitab ad-Dimaa’ ath-Tabhi’iyyah halaman 40 karya al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin.

[24] Lihat kitab Fathul Baari (I/409).

[25] al-Haidh wan Nifaas wal istihadah halaman 487 karya Rawiyah binti Ahmad.

[26] Lihat kitab ath-Thaharah Bab Fil Mar’ah Tustahadhu waman Qaala Tada’u ash-salat fi Iddaril Ayyam allati kaanat tahiidu no 274 karya Abu Dawud.

[27] Ibid. Bab Man Qaalaa Idzaa Aqbalati al-Haidhah Tada’ush Shalaah no. 286.

[28] Ibid. No 267.

[29] al-Haidh wan Nifaas wal istihadah karya Rawiyah binti Ahmad.

[30] Risalah fi ad-dima’ halaman 50.

ShareTweetPin4
Fauzan Hidayat

Fauzan Hidayat

- Alumni Mahad Ilmi Yogyakarta (2020) - S2 Universitas Gadjah Mada - D4 Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Artikel Terkait

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
29 Juni 2026
0

Waktu pelaksanaan akikah Waktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya...

Fikih Akikah (Bag. 1): Hukum dan Makna di Balik Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
28 Juni 2026
0

Pengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang...

Beberapa Kesalahan Terkait Wukuf di Arafah

oleh Luqman Hasan Nahari
25 Mei 2026
0

Ibadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah...

Artikel Selanjutnya
Kedudukan Shalat

Menuju Kesempurnaan Ibadah Salat (Bag. 8): Hukum dan Kedudukan Salat

Komentar 3

  1. TiTi says:
    3 tahun yang lalu

    Assalamualaikum izin bertanya Ustadz

    Kalau darah yang keluar ( merah) keluar lebih cepat dr kebiasaannya 5 hari sblm haid ( siklus nya 3 minggu sekali) kemudian suka berhenti suka keluar lagi

    Apakah ini haid atau bukan Ustadz?

    Reply
  2. Adinda says:
    12 bulan yang lalu

    Terimakasih, sangat bermanfaat

    Reply
  3. Ananda says:
    2 bulan yang lalu

    Alhamdulillah sangat membantu jazakumullahu khairan

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah