Jika Haid Keluar Lebih dari Hari Biasanya, Kapan Salat dan Puasa?

Jika Haid Keluar Lebih dari Hari Biasanya, Kapan Salat dan Puasa?

Bismillahirrahmanirrahim

Bertambah atau berkurangnya hari haid daripada hari-hari biasanya, adalah sesuatu yang wajar terjadi. Namun para ulama memberi batasan bahwa jumlah hari haid maksimal adalah 15 hari. Selama bertambah hari haid kurang dari 15 hari, maka seorang wanita belum boleh salat, puasa, dan juga tawaf. Adapun jika telah lebih dari 15 hari, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadah.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz Rahimahullah menerangkan,

وأكثر مدة الحيض خمسة عشر يوما عند جمهور أهل العلم، فإذا استمر معك الحيض إلى خمسة عشر يوم فهذا حيض، فإن زاد على ذلك صار استحاضة،

“Waktu maksimal terjadi haid adalah 15 hari menurut mayoritas ulama (jumhur). Jika haid berlangsung sampai hari ke 15, maka darah yang keluar dihukumi haid. Namun jika lebih dari itu, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadah” [1].

Darah istihadah adalah darah yang keluar disebabkan oleh penyakit. Yaitu adanya pembuluh darah yang pecah di area rahim. Sifat darah ini berbeda dengan darah haid. Darah istihadah merah segar, sementara darah haid gelap dan berbau.

Wanita yang mengalami istihadah, dihukumi seperti layaknya wanita yang suci dari haid. Dia wajib melaksanakan salat dan puasa. Hal ini berdasarkan hadis dari ibunda ‘Aisyah Radhiyallah ‘anha, beliau berkata,

جائت فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ؟

“Fathimah binti Abu Hubaisy datang menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kemudian berkata,

‘Ya Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah (istihadah) dan tidak pernah suci. Bolehkah aku meninggalkan shalat?'”

Rasulullah menjawab,

لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي

“Tidak, itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haid. Bila haidmu datang, tinggalkanlah salat. Dan bila haid itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi), lalu salatlah” (Muttafaqun ‘alaih).

Imam al-Qurtubi Rahimahullah menerangkan,

المستحاضة تصوم، وتصلِّي، وتطوف، وتقرأ، ويأتيها زوجه

“Wanita yang mustahadhoh, tetap diperintahkan puasa, salat, tawaf, membaca Al-Quran (meski dengan menyentuh mushaf, pent), dan diperbolehkan melakukan hubungan intim dengan suaminya” (Al-Jami’ li Ahkam al Qur’an, 2: 86).

Yang sedikit membedakan dengan wanita suci adalah:

– Wanita mustahadoh wajib berwudu setiap kali masuk waktu salat wajib. Artinya, satu wudu hanya boleh untuk satu salat wajib beserta salat-salat sunnah yang ada di bentangan waktu salat wajib tersebut. Begitu beralih ke salat wajib berikutnya, dia wajib berwudu kembali. Meskipun wudu pada salat sebelumnya belum batal.

– Di samping itu, dia juga harus membersihkan darah istihadahnya setiap kali masuk pada waktu salat berikutnya.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz Rahimahullah mengatakan,

ويكون الدم الذي معك المستمر هذا دم استحاضة يعني دم فساد لا يمنع الصلاة ولا يمنع الصوم ولا يمنع الزوج، ولكنك تتوضئين لكل صلاة تستنجين وتتوضئين لكل صلاة

“Darah yang terus keluar melebihi 15 hari, adalah darah istihadah. Yakni darah yang rusak (karena sakit). Tidak menghalangi kewajiban salat, puasa, dan berjimak. Akan tetapi, Anda harus berwudu dan beristinja’ (membersihkan darah istihadah) setiap kali salat wajib” [1].

Baca Juga:

***

Link Referensi:

[1] https://binbaz.org.sa

 

Ditulis oleh: Ahmad Anshori, Lc

Artikel : Muslim.or.id

🔍 Artikel Ramadhan, Ayat Alquran Tentang Cinta Kepada Rasul, Hukum Mendengar Musik, Hadist Maulid Nabi, Hukum Tahlilan Orang Meninggal Menurut Islam

About Author

Ahmad Anshori, Lc

Alumni PP. Hamalatul Qur'an Yogyakarta. Alumni Mahasiswa Fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia

View all posts by Ahmad Anshori, Lc »

Leave a Reply