Ketika ahlul bidah dinasehati agar jangan melakukan bid’ah, mereka akan mengatakan “ini kan baik, kenapa anda melarang orang berbuat baik?”
[lwptoc]
Mengapa Pelaku Bid’ah Sulit Bertaubat?
Orang-orang yang terjerumus dalam kebid’ahan, mereka menyangka kebid’ahan yang ada pada mereka itu sebagai kebaikan. Sehingga sulit bagi mereka untuk bertaubat dari kebid’ahan tersebut. Dan ketika diingkari oleh Ahlussunnah, mereka malah menuduh Ahlussunnah mengingkari kebaikan.
Misalnya, orang-orang yang melakukan dzikir-dzikir bid’ah, ketika dinasehati mereka malah mengatakan, “mengapa kalian mengingkari dzikir? Apakah kalian benci dzikir?”.
Orang-orang yang membaca shalawat-shalawat bid’ah, ketika dinasehati mereka mengatakan, “mengapa kalian mengingkari shalawat? Apakah kalian benci shalawat?”. Dan seterusnya.
Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis Neraka
Nasihat Ulama Tentang Pelaku Bid’ah
Perhatikan nasehat Sa’id bin Musayyab rahimahullah berikut ini.
Sa’id bin Musayyab adalah seorang ulama besar di kalangan tabi’in, yang beliau dijuluki “alim ahlil Madinah” (ulamanya penduduk Madinah) dan juga “sayyidut tabi’in” (pemimpinnya para tabi’in). Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya,
رأى سعيد بن المسيب رجلا يصلي بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين يكثر فيها الركوع والسجود فنهاه. فقال: يا أبا محمد! أيعذبني الله على الصلاة؟! قال: لا ولكن يعذبك على خلاف السنة
“Sa’id bin al Musayyab melihat seorang yang shalat setelah terbit fajar lebih dari dua raka’at, yang ia memperpanjang rukuk dan sujudnya. Lalu Sa’id bin al Musayyab melarangnya.
Maka orang tadi berkata: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengazab saya gara-gara saya shalat?
Sa’id bin al Musayyab menjawab: bukan demikian, namun Allah akan mengazabmu karena menyelisihi sunnah” (Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, 2/466, Ad Darimi 1/404-405, dishahihkan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil, 2/236).
Ketika ahlul bidah dinasehati agar jangan melakukan bid’ah, mereka akan mengatakan “ini kan baik, kenapa anda melarang orang berbuat baik?”. Maka jawaban Sa’id bin Musayyab rahimahullah adalah jawaban telak. Yang dilarang bukan ibadahnya, namun bagian dari ibadah tersebut, baik penetapannya, tata caranya, pengkhususan waktu atau tempatnya, jumlah bilangannya dan semisalnya yang tidak ada tuntunannya dari sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan:
وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب – رحمه الة تعالى -, وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع باسم أنها ذكر وصلاة ثم ينكرون على أهل السنة إنكار ذلك عليهم ويتهمونهم بأنهم ينكرون الذكر والصلاة!! وهم في الحقيقة إنما ينكرون خلافهم للسنة في الذكر والصلاة ونحو ذلك
“Ini merupakan diantara jawaban yang sangat telak dari Sa’id bin al Musayyab. Dan ini juga merupakan senjata bagi para ahlul bid’ah yang mereka menganggap baik banyak sekali perbuatan bid’ah, dengan mengatakan bahwa yang mereka lakukan itu dzikir dan shalat.
Kemudian mereka malah mengingkari Ahlussunnah yang mengingkari bid’ah mereka dengan mengesankan bahwa Ahlussunnah mengingkari dzikir dan shalat!
Padahal yang diingkari oleh Ahlussunnah adalah penentangan mereka terhadap sunnah dalam dzikir dan shalat serta ibadah lainnya” (Irwa’ul Ghalil, 2/236).
Baca Juga: Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering Dilupakan
Para Sahabat Nabi Mengingkari Amalan Bid’ah
Demikian pula para sahabat Nabi ridhwanullah ‘alaihim, mereka mengingkari orang yang melakukan ibadah jika disertai kebid’ahan. Walaupun niatnya baik dan bentuknya adalah ibadah. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau mengingkari orang-orang yang berdzikir secara berjama’ah di masjid. Dikisahkan oleh Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu:
قال رأيتُ في المسجدِ قومًا حِلَقًا جلوسًا ينتظرون الصلاةَ في كلِّ حلْقةٍ رجلٌ وفي أيديهم حصًى فيقول كَبِّرُوا مئةً فيُكبِّرونَ مئةً فيقول هلِّلُوا مئةً فيُهلِّلون مئةً ويقول سبِّحوا مئةً فيُسبِّحون مئةً قال فماذا قلتَ لهم قال ما قلتُ لهم شيئًا انتظارَ رأيِك قال أفلا أمرتَهم أن يعُدُّوا سيئاتِهم وضمنتَ لهم أن لا يضيعَ من حسناتهم شيءٌ ثم مضى ومضَينا معه حتى أتى حلقةً من تلك الحلقِ فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبدَ الرَّحمنِ حصًى نعُدُّ به التكبيرَ والتهليلَ والتَّسبيحَ قال فعُدُّوا سيئاتِكم فأنا ضامنٌ أن لا يضيعَ من حسناتكم شيءٌ ويحكم يا أمَّةَ محمدٍ ما أسرعَ هلَكَتِكم هؤلاءِ صحابةُ نبيِّكم صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مُتوافرون وهذه ثيابُه لم تَبلَ وآنيتُه لم تُكسَرْ والذي نفسي بيده إنكم لعلى مِلَّةٍ هي أهدى من ملةِ محمدٍ أو مُفتتِحو بابَ ضلالةٍ قالوا والله يا أبا عبدَ الرَّحمنِ ما أردْنا إلا الخيرَ قال وكم من مُريدٍ للخيرِ لن يُصيبَه إنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ حدَّثنا أنَّ قومًا يقرؤون القرآنَ لا يجاوزُ تراقيهم يمرُقونَ من الإسلامِ كما يمرُقُ السَّهمُ منَ الرَّميّةِ وأيمُ اللهِ ما أدري لعلَّ أكثرَهم منكم ثم تولى عنهم فقال عمرو بنُ سلَمةَ فرأينا عامَّةَ أولئك الحِلَقِ يُطاعِنونا يومَ النَّهروانِ مع الخوارجِ
“Abu Musa Al Asy’ari berkata: aku melihat di masjid ada beberapa orang yang duduk membuat halaqah sambil menunggu shalat. Setiap halaqah ada seorang (pemimpin) yang memegangi kerikil, kemudian ia berkata: bertakbirlah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertakbir 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertahlil lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertahlil 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertasbih lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertasbih 100 kali.
Ibnu Mas’ud berkata: lalu apa yang engkau katakan kepada mereka wahai Abu Musa? Abu Musa menjawab: aku tidak katakan apapun karena menunggu pandanganmu. Ibnu Mas’ud berkata: mengapa tidak engkau katakan saja pada mereka: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali.
Kemudian Ibnu Mas’ud pergi dan kami pun pergi bersama beliau. Sampai pada suatu hari Ibnu Mas’ud mendapati sendiri halaqah tersebut. Lalu beliau pun berdiri di hadapan mereka.
Ibnu Mas’ud berkata: apa yang kalian lakukan ini? Mereka menjawab: Wahai Abu Abdirrahman, ini adalah kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih! Ibnu Mas’ud berkata: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kalian binasa! Demi Allah, yang kalian lakukan ini adalah ajaran agama yang lebih baik dari ajaran Muhammad atau kalian sedang membuka pintu kesesatan!
Mereka mengatakan: Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan apa-apa kecuali kebaikan! Ibnu Mas’ud menjawab: betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah mengatakan kepada kami tentang suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur’an akan tetapi (bacaan mereka) tidak melewati tenggorokan mereka, demi Allah, saya tidak tahu bisa jadi kebanyakan mereka adalah dari kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud meninggalkan mereka”.
Amr bin Salamah berkata , ”Kami melihat kebanyakan orang-orang yang ada di halaqah itu adalah orang-orang yang ikut melawan kami di barisan khawarij pada perang Nahrawan” (Diriwayatkan Ad Darimi dalam Sunan-nya no.210, dishahihkan Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, 5/11).
Lihatlah! Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu mengingkari orang-orang yang berdzikir, namun dzikir mereka dengan tata cara yang bid’ah. Apakah kita akan menuduh Ibnu Mas’ud melarang orang berdzikir?! Tentu tidak, karena yang beliau ingkari bukan ibadah dzikir namun dzikir yang disertai kebid’ahan.
Maka kebid’ahan tetaplah buruk walaupun dinamakan sebagai ibadah atau dzikir atau shalawat atau doa atau sebutan-sebutan baik lainnya. Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:
كلُّ بدعةِ ضلالةٍ وإن رآها النَّاسُ حَسنةً
“Setiap kebid’ahan itu sesat walaupun manusia menganggapnya baik” (Diriwayatkan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah no. 175, Al Lalika-i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah no. 104, dishahihkan Al Albani dalam Ishlahul Masajid hal. 13).
Baca Juga:
Semoga Allah memberi taufik.
Penulis: Yulian Purnama
Artikel: Muslim.or.id




apakah yg dimaksud dengan setelah terbit fajar itu rawatib qabliyah subuh?
yg di cela Ibnu Mas’ud bukan amalan halaqoh dzikirnya, tetapi yg di cela Ibnu Mas’ud adalah pelaku halaqoh dzikir tersebut adalah kaum yg membersamai khowarij dan menjadi lawan tempur Ibnu Mas’ud.
kelompok yg halaqoh dzikir bisa dibilang khowarij yg rajin beribadah, tapi perbuatannya juga mengkafirkan muslim yg tidak sejalan dengannya, dan menghalalkan menumpahkan darah muslim.
itulah maksud perkataan Ibnu Mas’ud “kenapa tidak kau katakan kepada mereka hitunglah dosa dosa kalian dan aku jamin kebaikan kalian tidak akan hilang”.
dosa yg harus mereka hitung adalah mengkafirkan dan menghalalkan menumpahkan darah.
dan kebaikan yg di jamin tidak akan hilang adalah amal ibadahnya seperti halaqoh dzikir.
justru amalan halaqoh dzikir adalah amalan yg Alloh banggakan dan banyak jalur riwayat hadist yg sahih.
dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata; “Pada suatu hari Mu’awiyah melewati sebuah halaqah (majlis) di masjid. Kemudian ia bertanya; ‘Majelis apakah ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami duduk di sini untuk berzikir kepada Allah Azza wa Jalla.’ Mu’awiyah bertanya lagi; ‘Demi Allah, benarkah kalian duduk-duduk di sini hanya untuk itu? ‘ Mereka menjawab; ‘Demi Allah, kami duduk hanya untuk itu.’ Kata Mu’awiyah selanjutnya; ‘Sungguh saya tidak menyuruh kalian bersumpah karena mencurigai kalian. Karena tidak ada orang yang menerima hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih sedikit daripada saya.’ Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati halaqah para sahabatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: ‘Majelis apa ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan anugerah-Nya kepada kami.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Demi Allah, apakah kalian duduk di sini hanya untuk ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Demi Allah, kami duduk-duduk di sini hanya untuk ini.’ Kata Rasulullah selanjutnya: ‘Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Tetapi karena aku pernah didatangi Jibril alaihis-salam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.’
Hadits Shahih Muslim No. 4869
membidahkan yg sunah itu dosa besar.
sabda nabi celaka bagi mereka yg mengubah sunahku setelah wafatku.
bukan cuma dosa besar, bahkan di ancam di usir dari telaga nabi dan kelak juga tidak di akui umat nabi.
dzikir berjamaah atau halaqoh dzikir itu baik dan sunah bahkan di banggakan Alloh.
banyak riwayat sahih mengenai hal ini.
riwayat hadist Ibnu Mas’ud dalam bahasan ini, Ibnu Mas’ud tidak pernah mencela perbuatan dzikir berjamaah, melainkan mencela pelaku dzikir berjamaah tersebut adalah kaum khowarij yg di kenal ahli ibadah.
pujian ahli ibadah kepada khowarij itu bukan kaleng kaleng.
Ibnu Mas’ud mencela pelaku dzikir berjamaah itu bukan karena dzikirnya, melainkan karena pelaku dzikir berjamaah tersebut adalah khowarij yg mengkafirkan muslim yg tidak sejalan dengannya dan menghalalkan menumpahkan darah sesama muslim.
itulah maksud perkataan Ibnu Mas’ud “kenapa kau tidak katakan kepada mereka (khowarij) hitunglah dosa dosa kalian, aku jamin kebaikan kebaikan (dzikir dan amal ibadahnya) tidak akan hilang.
Ibnu Mas’ud sangat paham bahwa dzikir berjamaah adalah amalan yg di banggakan Alloh, dan khowarij itu masih muslim bukan pula musyrik yg setiap amalnya akan tetap di hisab dan tidak akan hilang.
tapi walaupun mereka muslim dosa mereka menumpahkan darah juga tetap di hisab.
setiap amal kebaikan maupun keburukan pasti ada balasan kecuali amalnya orang musyrik amal kebaikannya bagai debu yang beterbangan.
dengan mengkafirkan dan menghalalkan menumpahkan darah muslim itulah pintu kesesatan yg di buka khowarij.
jadi artikel ini menjelaskan atas bid’ah nya dzikir berjamaah sangatlah salah kaprah karena dzikir berjamaah itu justru di banggakan Alloh.
jika masih ada panjang umur segeralah bertaubat.