Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Kebodohan Kita terhadap Bahaya Syirik (Bag. 2)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
23 Oktober 2019
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Syirik Merupakan Kezaliman yang Paling Zalim
  • Tiga Jenis Kezaliman
    • 1. Kezaliman Syirik Kepada Allah 
    • 2. Kezaliman Seorang Hamba Atas Dirinya Sendiri
    • 3. Kezaliman Hamba Kepada Manusia Lainnya
  • Catatan Kaki

Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Bahaya Syirik (Bag. 1)

[lwptoc]

Syirik Merupakan Kezaliman yang Paling Zalim

Ahli tauhid yang meng-esa-kan Allah dan membersihkan diri dari kesyirikan baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan, maka dia akan mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)

Ketika ayat ini turun, para sahabat mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka radhiyallahu ‘anhum berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ

”Wahai Rasulullah, siapakah yang tidak menzalimi dirinya sendiri?” 

Setiap orang pasti menzalimi dirinya sendiri dengan apa saja, baik dengan meremehkan kewajiban atau terjatuh ke dalam perbuatan dosa. Jika dia ingat atau diingatkan, maka dia akan bertaubat dari perbuatannya itu. Lalu siapakah yang tidak menzalimi dirinya sendiri? 

Baca Juga: Pemimpin Kafir Adil Lebih Baik Dari Pemimpin Muslim Zalim?

Tiga Jenis Kezaliman

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ( لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ) بِشِرْكٍ ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ( يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ )

“Bukan itu yang dimaksud. (Yang dimaksud dengan) “tidak mencampur-adukkan keimanan mereka dengan kezaliman” adalah dengan kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya (yang artinya), “Wahai anakku! Janganlah kamu menyekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu merupakan kezaliman yang besar.’” (HR. Bukhari no. 3360 dan Muslim no. 342. Lafadz hadits tersebut adalah lafadz hadits Bukhari)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kezaliman yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesyirikan. Karena sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, terdapat tiga jenis kezaliman:

1. Kezaliman Syirik Kepada Allah 

Yang merupakan jenis kezaliman yang paling zalim, yaitu kezaliman syirik. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)

Mengapa syirik disebut dengan zalim? Karena makna asal dari zalim adalah,”Meletakkan sesuatu selain pada tempatnya”. Sedangkan makna dari syirik adalah,”Meletakkan ibadah selain pada tempatnya”. 

Sehingga syirik inilah kezaliman yang paling zalim. Karena ketika manusia meletakkan (menujukan) ibadah tersebut selain pada tempatnya yang benar, mereka memberikan ibadah tersebut kepada makhluk yang tidak berhak menerimanya. Artinya, mereka menyamakan antara makhluk dan Khalik (Pencipta), yang berarti menyamakan antara sesuatu yang lemah dengan Dzat Yang Maha perkasa. Oleh karena itu, kezaliman apakah yang lebih besar dari itu?

Baca Juga: Hukum Menghina atau Memanggil Orang Lain dengan Nama Binatang

2. Kezaliman Seorang Hamba Atas Dirinya Sendiri

Ke dua, kezaliman seorang hamba atas dirinya sendiri dengan berbuat maksiat. Pelaku maksiat sebenarnya hanyalah menzalimi diri mereka sendiri. Hal ini karena pelakunya menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam hukuman. Padahal kewajibannya adalah menundukkan jiwanya, dan meletakkannya sesuai dengan tempat yang sesuai denganya, yaitu di atas ketaatan. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” (QS. Az-Zumar [39]: 15) 

Baca Juga: Taat kepada Penguasa karena Pamrih Duniawi

3. Kezaliman Hamba Kepada Manusia Lainnya

Ke tiga, kezaliman seorang hamba kepada manusia lainnya, baik dengan mengambil hartanya, menggunjingnya, membunuh jiwa mereka tanpa alasan yang dapat dibenarkan, memukul, melukai, atau merendahkan mereka. 

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada para sahabat bahwa keumuman (yaitu kezaliman) dalam QS. Al-An’am [6] ayat 82 tersebut dimaksudkan untuk zalim dalam bentuk tertentu. Maksudnya adalah salah satu dari tiga jenis kezaliman, yaitu kezaliman seorang hamba terhadap hak Rabb-nya dengan berbuat kesyirikan terhadap Allah Ta’ala. Kezaliman tersebut merupakan jenis kezaliman yang terbesar. Inilah makna melaksanakan tauhid dan berlepas diri serta membersihkan diri dari kesyirikan. Dengannya seorang hamba dapat meraih keamanan dan petunjuk. [1]

Baca Juga:

  • Hak dan Kewajiban Pemimpin dan Rakyat yang Dipimpin
  • Menjawab Kerancuan Seputar Hadits Ummul Hushain

[Bersambung]

***

@Rumah Lendah, 8 Muharram 1441/ 8 September 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan Kaki

[1] Lihat I’anatul Mustafiid, 1: 57 dan Fadhlu Tauhid wa Takfiruhu li Dzunub, http://www.sahab.org.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya
Perbedaan antara Aqidah, Tauhid dan Manhaj

Perbedaan antara Aqidah, Tauhid dan Manhaj

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah