Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Hukum Fiqh Seputar Shalat Tahiyyatul Masjid (Bag. 3)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
5 September 2019
di Fikih Ibadah
Share on FacebookShare on Twitter

Baca pembahasan sebelumnya Hukum Fiqh Seputar Shalat Tahiyyatul Masjid (Bag. 2)

Menggabungkan niat shalat tahiyyatul masjid dengan shalat sunnah lainnya

Sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya bahwa maksud dari disyariatkannya shalat tahiyyatul masjid adalah untuk menghormati masjid sebagai tempat ibadah kaum muslimin dengan mendirikan ibadah shalat, apa pun jenis shalatnya. Sehingga maksud tersebut sudah tercapai dengan mendirikan shalat apa pun, baik itu shalat wajib, shalat sunnah, atau shalat qadha’.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya,

فضيلة الشيخ! بالنسبة لركعتي الضحى هل تدخل فيها تحية المسجد؟

“Wahai fadhilatusy syaikh, apakah dua raka’at shalat dhuha sudah mencakup shalat tahiyyatul masjid?”

Kemudian beliau menjawab,

مثلاً: إنسان دخل المسجد وقت الضحى, وصلى بنية سنة الضحى فتكفي عن تحية المسجد, وكذلك الراتبة تكفي عن تحية المسجد, لو دخل إنسان -مثلاً- وصلى راتبة الفجر أو راتبة الظهر الأولى كفت عن تحية المسجد, لكن تحية المسجد لا تكفي عن هذا, يعني: لو دخل بعد أذان الظهر ونوى بالركعتين تحية المسجد ما أجزأت عن الراتبة

“Misalnya, seseorang masuk masjid di waktu dhuha, kemudian dia shalat dengan niat shalat sunnah dhuha. Maka hal ini sudah mencukupi dari melaksanakan shalat tahiyyatul masjid. Demikian pula dengan shalat sunnah rawatib, juga sudah mencukupi dari shalat tahiyyatul masjid. 

Baca Juga: Jangan Terlena Dengan Kenikmatan Semu Itu

Jika seseorang, misalnya, masuk masjid dan shalat rawatib qabliyah subuh atau dzuhur, maka hal ini sudah mencukupi dari shalat tahiyyatul masjid. Akan tetapi, tidak sebaliknya. Shalat tahiyyatul masjid tidaklah bisa mencukupi (menggantikan) shalat sunnah rawatib. Maksudnya, jika seseorang masuk masjid setelah adzan dzuhur, dan meniatkan shalat dua raka’at tahiyyatul masjid, maka shalat tersebut tidak bisa menggantikan shalat sunnah rawatib.” (Liqa’aat Al-Baab Al-Maftuuh, 15: 108)

Bagaimana jika seseorang ingin menggabungkan niat, misalnya shalat qabliyyah subuh (shalat sunnah fajar) dengan shalat tahiyyatul masjid?

Syaik ‘Abdul Karim Al-Khudair hafidzahullah ditanya,

رجل دخل المسجد بعد أذان الفجر فهل الأفضل أن يصلي ركعتي تحية المسجد ثم يصلي ركعتي سنة الفجر أم الأفضل أن يصلي ركعتين بنيتين: نية تحية المسجد ونية سنة الفجر؟

“Seseorang masuk masjid setelah adzan subuh. Apakah yang lebih afdhal shalat dua raka’at tahiyyatul masjid kemudian dilanjutkan dua raka’at shalat sunnah fajar, ataukah yang lebih afdhal shalat dua raka’at dengan dua niat sekaligus, yaitu niat tahiyyatul masjid da niat shalat sunnah fajar?”

Beliau hafidzahullah menjawab,

يصلي ركعتين فقط فإذا طلع الفجر فلا صلاة إلا ركعتي الفجر فيصلي بنية راتبة الصبح وتدخل فيها تحية المسجد لأن تحية المسجد تدخل بأي صلاة

“Cukup shalat (sunnah fajar) dua raka’at saja. Ketika fajar sudah terbit (sudah masuk waktu subuh), maka tidak ada shalat (sunnah) kecuali shalat sunnah fajar. Maka dia shalat dengan niat shalat rawatib subuh, dan sudah tercakup di dalamnya tahiyyatul masjid. Hal ini karena tahiyyatul masjid itu masuk dalam shalat apa pun.” (Syarh Laamiyyah li  Ibni Taimiyyah, 3: 7)

Dari penjelasan di atas, kita tidak perlu menggabungkan dua niat sekaligus. Hal ini karena shalat tahiyyatul masjid itu sudah tercakup dalam shalat sunnah rawatib.

Baca Juga:

  • Mewaspadai Bahaya Khalwat
  • Adab Membaca Al-Quran

[Bersambung]

***

@Rumah Lendah, 24 Dzulqa’dah 1440/21 Juli 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
29 Juni 2026
0

Waktu pelaksanaan akikah Waktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya...

Fikih Akikah (Bag. 1): Hukum dan Makna di Balik Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
28 Juni 2026
0

Pengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang...

Beberapa Kesalahan Terkait Wukuf di Arafah

oleh Luqman Hasan Nahari
25 Mei 2026
0

Ibadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah...

Artikel Selanjutnya

Hukum Fiqh Seputar Shalat Tahiyyatul Masjid (Bag. 4)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   3   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah