Hukum Fiqh Seputar Shalat Tahiyyatul Masjid (Bag. 3)

Hukum Fiqh Seputar Shalat Tahiyyatul Masjid (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Hukum Fiqh Seputar Shalat Tahiyyatul Masjid (Bag. 2)

Menggabungkan niat shalat tahiyyatul masjid dengan shalat sunnah lainnya

Sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya bahwa maksud dari disyariatkannya shalat tahiyyatul masjid adalah untuk menghormati masjid sebagai tempat ibadah kaum muslimin dengan mendirikan ibadah shalat, apa pun jenis shalatnya. Sehingga maksud tersebut sudah tercapai dengan mendirikan shalat apa pun, baik itu shalat wajib, shalat sunnah, atau shalat qadha’.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya,

فضيلة الشيخ! بالنسبة لركعتي الضحى هل تدخل فيها تحية المسجد؟

“Wahai fadhilatusy syaikh, apakah dua raka’at shalat dhuha sudah mencakup shalat tahiyyatul masjid?”

Kemudian beliau menjawab,

مثلاً: إنسان دخل المسجد وقت الضحى, وصلى بنية سنة الضحى فتكفي عن تحية المسجد, وكذلك الراتبة تكفي عن تحية المسجد, لو دخل إنسان -مثلاً- وصلى راتبة الفجر أو راتبة الظهر الأولى كفت عن تحية المسجد, لكن تحية المسجد لا تكفي عن هذا, يعني: لو دخل بعد أذان الظهر ونوى بالركعتين تحية المسجد ما أجزأت عن الراتبة

“Misalnya, seseorang masuk masjid di waktu dhuha, kemudian dia shalat dengan niat shalat sunnah dhuha. Maka hal ini sudah mencukupi dari melaksanakan shalat tahiyyatul masjid. Demikian pula dengan shalat sunnah rawatib, juga sudah mencukupi dari shalat tahiyyatul masjid. 

Baca Juga: Jangan Terlena Dengan Kenikmatan Semu Itu

Jika seseorang, misalnya, masuk masjid dan shalat rawatib qabliyah subuh atau dzuhur, maka hal ini sudah mencukupi dari shalat tahiyyatul masjid. Akan tetapi, tidak sebaliknya. Shalat tahiyyatul masjid tidaklah bisa mencukupi (menggantikan) shalat sunnah rawatib. Maksudnya, jika seseorang masuk masjid setelah adzan dzuhur, dan meniatkan shalat dua raka’at tahiyyatul masjid, maka shalat tersebut tidak bisa menggantikan shalat sunnah rawatib.” (Liqa’aat Al-Baab Al-Maftuuh, 15: 108)

Bagaimana jika seseorang ingin menggabungkan niat, misalnya shalat qabliyyah subuh (shalat sunnah fajar) dengan shalat tahiyyatul masjid?

Syaik ‘Abdul Karim Al-Khudair hafidzahullah ditanya,

رجل دخل المسجد بعد أذان الفجر فهل الأفضل أن يصلي ركعتي تحية المسجد ثم يصلي ركعتي سنة الفجر أم الأفضل أن يصلي ركعتين بنيتين: نية تحية المسجد ونية سنة الفجر؟

“Seseorang masuk masjid setelah adzan subuh. Apakah yang lebih afdhal shalat dua raka’at tahiyyatul masjid kemudian dilanjutkan dua raka’at shalat sunnah fajar, ataukah yang lebih afdhal shalat dua raka’at dengan dua niat sekaligus, yaitu niat tahiyyatul masjid da niat shalat sunnah fajar?”

Beliau hafidzahullah menjawab,

يصلي ركعتين فقط فإذا طلع الفجر فلا صلاة إلا ركعتي الفجر فيصلي بنية راتبة الصبح وتدخل فيها تحية المسجد لأن تحية المسجد تدخل بأي صلاة

“Cukup shalat (sunnah fajar) dua raka’at saja. Ketika fajar sudah terbit (sudah masuk waktu subuh), maka tidak ada shalat (sunnah) kecuali shalat sunnah fajar. Maka dia shalat dengan niat shalat rawatib subuh, dan sudah tercakup di dalamnya tahiyyatul masjid. Hal ini karena tahiyyatul masjid itu masuk dalam shalat apa pun.” (Syarh Laamiyyah li  Ibni Taimiyyah, 3: 7)

Dari penjelasan di atas, kita tidak perlu menggabungkan dua niat sekaligus. Hal ini karena shalat tahiyyatul masjid itu sudah tercakup dalam shalat sunnah rawatib.

Baca Juga:

[Bersambung]

***

@Rumah Lendah, 24 Dzulqa’dah 1440/21 Juli 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
batik travel
MPD Banner

About Author

dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D. »

Leave a Reply